BUMI Jual Saham Rp 35 Triliun, Saham Grup Bakrie Jadi Primadona

Saham Bumi Resources paling banyak ditransaksikan di bursa. Di bawahnya mengekor saham empat emiten terafiliasi Grup Bakrie: Darma Henwa, Bakrieland, Bakrie Sumatra, Energi Mega.
Martha Ruth Thertina
9 Februari 2017, 09:00
Saham KATADATA | Arief Kamaludin
Saham KATADATA | Arief Kamaludin

Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) kembali naik daun. Pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (8/2) kemarin, saham perusahaan pertambangan milik Grup Bakrie ini paling banyak ditransaksikan. Pemicunya, sehari sebelumnya, Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) Bumi menyetujui rencana penerbitan saham baru (rights issue) senilai Rp 35,1 triliun.

Mengacu pada situs BEI, transaksi saham emiten berkode BUMI sepanjang hari Rabu mencapai 34.996 kali. Meski begitu, harga saham BUMI tercatat anjlok 7,33 persen dari penutupan perdagangan hari sebelumnya menjadi Rp 430 per saham.

Yang menarik, di bawahnya mengekor empat emiten terafiliasi Grup Bakrie yang sahamnya paling aktif ditransaksikan oleh para investor. Di posisi kedua ada transaksi saham PT Darma Henwa Tbk (DEWA) sebanyak 30.081 kali.

Disusul oleh saham PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) sebanyak 26.195 kali. Urutan keempat dan kelima ditempati saham PT Bakrie Sumatra Plantation Tbk. (UNSP) dan PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) dengan transaksi masing-masing 19.166 kali.

Fenomena ini mengingatkan booming saham Grup Bakrie sebelum tahun 2008. Kala itu, dimotori juga oleh saham BUMI, saham emiten-emiten Grup Bakrie dan afiliasinya menjadi primadona para investor seiring dengan kenaikan harga komoditas dan berbagai aksi korporasinya.

Namun, pamor saham Grup Bakrie dalam beberapa tahun terakhir meredup sejalan dengan kejatuhan harga komoditas. Apalagi, perusahaan-perusahaan Bakrie, termasuk BUMI, terbelit tumpukan utang. Harga sahamnya pun jatuh hingga di bawah Rp 100 per saham.

Saham-saham Grup Bakrie kembali menggeliat serentak sejak 2-3 bulan terakhir. Salah satu penyebabnya adalah tercapainya kesepakatan restrukturisasi utang BUMI. Selain itu, mengacu pada keterbukaan informasi ke BEI yang dilansir 30 Desember 2016, BUMI mengumumkan rencana penerbitan 37,88 miliar saham baru dengan nilai sebesar Rp 35,1 triliun.

Seluruh dana tersebut direncanakan untuk membayar kewajiban utangnya. “Untuk pelunasan kewajiban utang terakumulasi perseroan sesuai keputusan PKPU (Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang),” begitu bunyi penjelasan dalam keterbukaan informasi BUMI.

Rights issue jumbo tersebut bakal dilaksanakan tidak lebih dari 12 bulan setelah RUPS digelar dan akan menjadi yang terbesar kedua dalam sejarah BEI. Sejauh ini, posisi teratas diduduki PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) yang melakukan rights issue sebesar Rp 40,12 triliun pada 2008 silam.

Saat ini, mayoritas saham BUMI dimiliki publik yaitu sebesar 70,57 persen, dan sisanya dimiliki Credit Suisse AG SG Branch selaku kreditur dengan jumlah 23,14 persen. Sisanya, PT Damar Reka Energi sebesar 6,28 persen. Para pemegang saham diperkenankan membeli lebih dulu saham tersebut jika tidak ingin sahamnya terdelusi sekitar 50,8 persen.

Analis First Asia Capital David Sutyanto berpendapat, penurunan harga saham BUMI dalam perdagangan hari Rabu bisa jadi berkorelasi dengan hasil RUPSLB. Kemungkinan, investor mengambil keuntungan (profit taking) dari momen tersebut. “Kalau saya melihatnya profit taking saja,” ujarnya.

Dia memandang aksi korporasi yang dilakukan BUMI sebagai hal positif. Pertimbangannya, pemegang saham dan kreditur memiliki hak yang sama untuk membeli saham baru itu terlebih dahulu. Persoalannya, harga saham baru itu dibanderol jauh di atas harga pasar sekarang yaitu Rp 926 per saham.

Di sisi lain, dengan melihat fundamental BUMI, David tidak merekomendasikan saham BUMI untuk investasi jangka panjang. Alasannya, harga saham perusahaan tambang ini masih akan fluktuatif atau volatile. Hal itu juga tercermin dari tingginya transaksi saham BUMI.

Alhasil, David hanya akan merekomendasikan saham ini untuk trader yang sudah paham celah perdagangan. “Kalau investor in a long run, lebih baik sedikit terlambat beli BUMI, menunggu sampai sudah confirmed (fundamental membaik),” ujarnya.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait