The Fed Masih Tahan Bunga, Rupiah Untung dari Pelemahan Dolar

Nilai tukar mata uang Asia bergerak mix. Harga emas melesat.
Martha Ruth Thertina
2 Februari 2017, 14:32
Dolar
Arief Kamaludin|KATADATA

Pasar keuangan sedikit berubah setelah bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve/The Fed, mempertahankan suku bunga dana (Fed Fund Rate) di level 0,5-0,75 persen pada Rabu (1/1) waktu setempat. Akibatnya, indeks dolar AS terpantau melemah.

Kamis (2/2) siang ini, indeks dolar AS turun 0,17 persen. Seiring pelemahan tersebut, nilai tukar mata uang Asia bergerak mix, meski mayoritas tercatat menguat terhadap dolar AS. Penguatan dipimpin won Korea dengan apresiasi mencapai 1,02 persen, lalu diikuti Yen Jepang 0,59 persen, dolar Taiwan 0,32 persen, dan dolar Singapura 0,18 persen.

Mata uang lainnya yang juga menguat yaitu rupiah, rupee India, dolar Hong Kong dan peso Filipina meski penguatannya tipis, kurang dari 0,1 persen. Di sisi lain, ringgit Malaysia justru melemah sebesar 0,21 persen, demikian juga yuan Cina dan baht Thailand yang melemah tipis 0,01 persen. 

Head of Global Market di Citizens Bank Tony Bedikan berpendapat The Fed masih menunggu kepastian soal kebijakan-kebijakan ekonomi yang akan dijalankan Presiden baru AS Donald Trump. Seperti diketahui, Trump menjanjikan sejumlah kebijakan  seperti peningkatan belanja infrastruktur, pemotongan pajak, hingga renegosiasi sejumlah perjanjian dagang. (Baca juga: Bank-Bank Besar di Wall Street Kecam Kebijakan Imigrasi Trump)

Bila kebijakan tersebut diambil, tingkat inflasi Negeri Paman Sam diyakini bakal menanjak sehingga mendorong The Fed menaikkan bunga dana secara agresif. “Masih ada ketidakpastian tentang kebijakan fiskal, jadi The Fed lebih memilih menunggu sedikit tambahan data dan kepastian,” ujar Bedikan seperti dikutip Reuters, Rabu (1/1). (Baca juga: Larangan Visa dan Pelemahan Ekonomi AS Buat Dolar Bergejolak)

Mengacu pada data kompilasi CME Group yang dilansir Reuters, investor berharap The Fed menaikkan bunga dana pada Juni 2017 mendatang. Kenaikan tersebut bisa memicu penguatan dolar AS dan pelemahan mata uang dunia lainnya. 

Sementara ini, seiring dengan pelemahan dolar AS, harga emas comex melesat 0,82 persen ke level US$ 1.218 per troy ounce. Ahli strategi komoditas BNP Paribas Harry Tchilinguirian dan Gareth Lewis-Davies memprediksi harga emas bakal jatuh ke kisaran US$ 1.000 bila The Fed merealisasikan rencananya menaikkan bunga dana secara agresif.

“Saat ini, emas masih mendapat dukungan dari kenaikan inflasi di paruh pertama 2017. Tapi The Fed akan mengejar kenaikan bunga di paruh kedua sehingga membuat dolar kuat,” demikian tertulis dalam laporan kedua Strategist BNP Paribas seperti dikutip Bloomberg, pekan lalu.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait