Ekonom Ramal Banjir Dana Asing ke Indonesia Segera Surut

Bank Indonesia mencatat, aliran masuk dana asing mencapai Rp 18 triliun sepanjang tiga pekan pertama tahun ini atau melonjak 500 persen dibanding periode sama 2016.
Desy Setyowati
23 Januari 2017, 13:49
Dolar
Arief Kamaludin|KATADATA
Dolar

Bank Indonesia (BI) mencatat aliran dana asing (capital inflow) mencapai Rp 18 triliun dalam tiga pekan pertama 2017. Jumlahnya melonjak 500 persen dibanding periode sama 2016, dimana dana asing yang masuk cuma Rp 3 triliun. Meski begitu, fenomena banjir dana asing diramal ekonom tak akan berlangsung lama.

Ekonom Maybank Juniman meramalkan aliran masuk dana asing bakal berkurang seiring rencana bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve (The Fed), menaikkan suku bunga dananya alias Fed Fund Rate dalam waktu dekat. Pekan lalu, pernyataan Pimpinan The Fed Janet Yellen soal kenaikan bunga dana saja sudah membuat pasar obligasi domestik tertekan.

“Pernyataan Gubernur the Fed Yellen kemarin membuat pasar obligasi global, yield-nya (imbal hasil) naik. Itu membuat sedikit pasar obligasi Indonesia, quote and quote dalam tekanan,” kata dia kepada Katadata, Senin (23/1). Kenaikan yield obligasi Amerika Serikat, membuat obligasi di dalam negeri kalah menarik. Alhasil, berpeluang ditinggal asing. (Baca juga: Ketidakpastian Selimuti Pasar Keuangan Pasca Pidato Trump)

Saat ini, menurut Juniman, investor masih dalam posisi menunggu dan melihat (wait and see) terhadap berbagai kebijakan Presiden AS Donald Trump. Sekadar catatan, rencana Trump menjalankan kebijakan belanja yang ekspansif berpotensi menyulut inflasi di negara tersebut. Bila ini terjadi, peluang The Fed menaikkan bunga bakal membesar.

“Investor akan pada posisi wait and see untuk melihat kepastian dalam satu hingga dua minggu ke depan karena dari Trump belum jelas detil policy-nya,” kata Juniman. Selain kebijakan AS, investor juga masih memantau perbaikan ekonomi di Inggris pasca keputusannya keluar dari Uni Eropa.

Ia memprediksi, aliran dana asing akan berkurang setidaknya setelah The Fed mengumumkan kenaikan bunga. Alhasil, rupiah berisiko mengalami tekanan. Sekadar informasi, kebijakan bunga bakal diputuskan dalam rapat Komite Pasar Terbuka Federal (Federal Open Market Committee/FOMC). Rapat FOMC terdekat bakal digelar pada 31 Januari hingga 1 Februari nanti.

(Baca juga: BI Klaim Cadangan Devisa Cukup Hadapi Gejolak Awal 2017)

Sebelumnya, Gubernur BI Agus D.W. Martowardojo mengatakan dana asing yang sebesar Rp 18 triliun tersebut kebanyakan mengalir ke instrumen investasi berupa Surat Utang Negara (SUN). “Ini menunjukan confident dunia pada Indonesia. Indonesia hati-hati karena perkembangan ketidakpastian di dunia masih tinggi. Indikator pertumbuhan ekonomi 2016 baik, tapi di 2017 kami mesti jaga momentum ini,” ujarnya.

Ke depan, menurut Agus, pemerintah dan BI harus memastikan kebijakan fiskal dan kestabilan nilai tukar supaya dana asing tetap masuk.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait