Ketidakpastian Selimuti Pasar Keuangan Pasca Pidato Trump

Martha Ruth Thertina
23 Januari 2017, 12:58
Bursa saham
ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

Ketidakpastian kembali menyelimuti pasar keuangan pasca Presiden baru Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyampaikan pidato perdananya yang bertema “Amerika first” alias Amerika yang utama saat upacara pelantikan dirinya di Washington D.C, Jumat (20/1) pekan lalu. Pada pembukaan perdagangan awal pekan ini, nilai tukar dolar AS merosot terhadap mayoritas mata uang Asia.

Mengacu pada data Bloomberg, hingga Senin (23/1) siang ini, mayoritas mata uang Asia berjaya atas dolar AS. Yen Jepang menguat 0,80 persen, dolar Singapura 0,41 persen, yuan Cina 0,38 persen, dolar Taiwan 0,29 persen, rupiah 0,24 persen, peso Filipina 0,22 persen, bath Thailand 0,21 persen, won Korea 0,07 persen, rupee India 0,11 persen, dan ringgit Malaysia 0,15 persen. Cuma dolar Hong Kong yang melemah tipis 0,01 persen.

“Kewaspadaan adalah tema pekan ini sebab pelaku pasar akan sangat terpengaruh oleh pengumuman kebijakan yang akan dilakukan Trump dan timnya,” ujar Rodrigo Cartil, Rodrigo Cartil, Strategist Bidang Nilai Tukar di National Australia Bank Ltd. seperti dikutip Bloomberg, Senin (23/1). (Baca juga: Pesta Mewah Trump Tanpa Para Bintang)

Pelaku pasar diduga mulai mengamankan asetnya, sambil menunggu kebijakan Trump yang lebih detail. Kepala Penjualan Mata Uang Asing di State Street Global Market Hong Kong Bart Wakabayashi mengatakan, dolar dilepas dengan cukup agresif pada perdagangan Senin ini. 

“Ini penjualan yang menyeluruh (across the board), bukan hanya risk on/risk off trade (perdagangan yang didorong perubahan toleransi investor terhadap risiko),” kata dia seperti dikutip Reuters. Di sisi lain, kurs euro berada pada posisi tertingginya sejak 8 Desember 2016.

Wakabayashi mengatakan keputusan investor melepas dolar seiring dengan ketidakpastian yang terjadi imbas pidato Trump. Direktur Riset Nilai Tukar di Global-info Co Tokyo Kaneo Ogino mengatakan pelaku pasar harus melihat dulu kebijakan apa yang akan dijalani Trump. “(Sejauh ini) Trump belum mengatakan sesuatu yang baru atau melakukan apapun, jadi orang dalam posisi menunggu dan melihat,” ujarnya. (Baca juga: Menkeu Sebut Tantangan Ekonomi 2017: Trump, Brexit, Cina)

Di bursa Asia, mayoritas indeks berada pada jalur merah. Hal tersebut tercermin dari MSCI AC Asia Pacific di luar Jepang yang melemah 0,03 persen. Sedangkan indeks Nikkei 225 dan Topix Index di Jepang tercatat turun masing-masing 0,99 persen dan 1,02 persen. Indeks Kospi di Korea Selatan juga melemah 0,01 persen. Meski begitu, CSI 300 Indeks di Cina naik 0,28 persen, dan Hang Seng Indeks di Hong Kong menguat 0,09 persen.   

Di bursa lokal, Indeks Harga Saham gabungan (IHSG) juga mengekor di jalur merah. Setelah melorot 0,84 persen pada penutupan perdagangan Jumat pekan lalu ke level 5.254, IHSG kembali merosot 0,11 persen ke level 5.248 pada penutupan perdagangan sesi pertama Senin ini. (Baca juga: Investor Cemas Sambut Pidato Trump, Rupiah dan IHSG Terpukul)

Meski begitu, Analis PT Asjaya Indosurya Securities, William Surya Wijaya berpendapat pergerakan IHSG dipengaruhi oleh laporan kinerja tahunan dari emiten yang akan banyak dilansir pada bulan ini dan fluktuasi harga komoditas. Menurutnya, kondisi perekonomian yang stabil masih akan terus menopang pergerakan IHSG saat ini. “Hari ini IHSG berpotensi menguat,” ujarnya. IHSG diproyeksi bergerak di rentang 5.221 – 5.336.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait