Bunga The Fed Naik, Saham dan Mata Uang Negara Berkembang Anjlok

“Untuk investor di instrumen investasi pendapatan tetap dan pasar modal, Amerika Serikat merupakan tempat terbaik untuk berinvestasi sekarang ini.”
Martha Ruth Thertina
15 Desember 2016, 10:40
IHSG
Arief Kamaludin|KATADATA
IHSG KATADATA | Arief Kamaludin

Indeks saham dan mata uang negara-negara ekonomi berkembang (emerging market) melemah setelah Federal Open Market Committee (FOMC) menaikkan bunga dana bank sentral Amerika Serikat (AS) alias Fed Fund Rate sebesar 0,25 persen ke rentang 0,5 – 0,75 persen. Pelaku pasar diduga keluar dari pasar emerging market lantaran bank sentral AS memproyeksi tiga kali kenaikan Fed Fund Rate tahun depan.

Mengutip Bloomberg, indeks saham MSCI Emerging Markets jatuh 0,5 persen pada pukul 04.00 waktu New York. Sejalan dengan itu, indeks mata uang MSCI Emerging Markets Currency jatuh 0,1 persen. Sebanyak 18 dari 24 mata uang di negara berkembang yang dipantau Bloomberg melemah. Peso Meksiko dan real Brazil turun sebanyak 1 persen.

Kamis pagi ini (15/12), hampir semua nilai tukar mata uang Asia terdepresiasi termasuk rupiah. Padahal dalam perdagangan sehari sebelumnya, rupiah tercatat paling menguat di antara mata uang Asia lainnya. (Baca juga: Dana Asing Masuk Rp 7 Triliun, Rupiah Paling Menguat di Asia).

Pelemahan dipimpin won Korea sebesar 0,93 persen, lalu diikuti rupiah yang merosot 0,56 persen, Taiwan dolar 0,50 persen, Yen Jepang 0,46 persen, Yuan Cina 0,43 persen, ringgit Malaysia 0,39 persen, peso Filipina 0,22 persen, dolar Singapura 0,17 persen, dan bath Thailand 0,16 persen. Cuma real India yang tercatat menguat sebesar 0,14 persen.

Advertisement

“Kami berekspektasi pelemahan kurs mata uang di negara yang pasarnya tengah berkembang bakal terjadi untuk enam bulan ke depan sebagai refleksi dari kenaikan bunga dana tersebut,” kata perencana (Strategist) di bidang mata uang dan komoditas di ABN Amro Bank NV, Georgette Boele, seperti dikutip Bloomberg, Kamis (15/12). (Baca juga: Tekanan Global Naik, BI-Jepang Perpanjang Kerja Sama Swap Rp 22,76 T)

Pendiri Maglan Capital melihat kemungkinan investor asing bakal mengalihkan dananya dari instrumen investasi di negara ekonomi berkembang ke instrumen investasi pendapatan tetap (fixed-income) di Amerika Serikat. Hal tersebut seiring dengan makin meningkatnya imbal hasil di instrumen tersebut. “Untuk investor di instrumen investasi pendapatan tetap dan pasar modal, Amerika Serikat merupakan tempat terbaik untuk berinvestasi sekarang ini,” kata dia.

Pengumuman fed fund rate langsung diresponi pelaku pasar modal. Di bursa lokal, indeks harga saham gabungan (IHSG) melorot, hingga pukul 09.21 indeks diperdagangkan di rentang 5.210 – 5.262. Padahal, indeks ditutup di level 5.239 pada perdagangan kemarin. Ini artinya, indeks sempat merosot hampir 1 persen pagi ini. (Baca juga: BI Waspadai Gejolak Pasar Berlanjut Hingga Januari 2017)

Pelemahan indeks juga terjadi di bursa negara-negara Asia lainnya. Indeks Hang Seng di Hong Kong merosot 1,52 persen, Shanghai SE Composite di Cina merosot 0,72 persen, Straight Times Indeks STI 0,8 persen, FTSE Bursa Malaysia KLCI 0,65 persen, dan Indeks Kospi di Korea merosot 0,30 persen.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait