Risiko Arus Keluar Modal Asing di Akhir Tahun Perlu Diwaspadai

“Imbal hasil sudah membaik baru-baru ini, yang menunjukkan bahwa beberapa investor bisa saja telah membukukan keuntungan sebelum akhir tahun.”
Desy Setyowati
29 November 2016, 09:51
rupiah dolar arief.jpg
Arief Kamaludin|KATADATA

Risiko arus keluar modal asing (capital outflow) masih membayangi pasar keuangan di Indonesia pada akhir tahun ini. Salah satu penyebabnya adalah investor asing sudah membukukan keuntungan saat gejolak terjadi di pasar surat utang pada November ini. Meski begitu, fundamental ekonomi Indonesia saat ini dinilai jauh lebih baik dibanding 2013 silam.

Ekonom Development Bank of Singapore (DBS) Gundy Cahyadi mengatakan, turunnya imbal hasil (yield) obligasi jadi indikator adanya investor yang sudah meraup untung. “Imbal hasil sudah membaik baru-baru ini, yang menunjukkan bahwa beberapa investor bisa saja telah membukukan keuntungan sebelum akhir tahun,” kata Gundy dalam laporan yang diterima Katadata, akhir pekan lalu.

Risiko tersebut, menurut dia, perlu diwaspadai pemerintah mengingat besarnya kepemilikan investor asing di Surat Berharga Negara (SBN). Ia pun mengingatkan kondisi 2013 di mana aksi jual mencapai 20 persen dari total aliran dana masuk sejak 2009-2013. (Baca juga: Sepekan Efek Trump, BI: Rp 16 Triliun Keluar dari Indonesia)

Aksi jual tersebut terjadi ketika bank sentral Am erika Serikat (AS), The Federal Reserve, berencana menarik likuiditas (tapering) yang sudah digelontorkan sejak krisis 2008. Gejolak ketika itu dikenal dengan sebutan Taper Tantrum.  

Meski begitu, Gundy yakin, dampak capital outflow  saat ini terhadap perekonomian tidak akan sehebat 2013. “Yang paling penting terus monitor volatilitas di pasar finansial dalam jangka pendek. Gejolak harus dikelola karena kalau tidak ada kemungkinan berdampak ke sektor riil atau sentimen negatif ke pelaku bisnis,” katanya.

Ia menjelaskan, perekonomian sempat terpuruk ketika terjadi Taper Tantrum. Ekonomi tumbuh di bawah lima persen, dari setahun sebelumnya mampu tumbuh enam persen. Sementara itu, defisit transaksi berjalan (current account defisit/CAD) melebar ke posisi 4,2 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

(Baca juga: BI Borong Surat Utang, Kejatuhan Rupiah Tertahan di Level 13.300)

Di sisi lain, investasi asing langsung (Foreign Direct Investment/FDI) hanya tumbuh 1,4 persen terhadap PDB. Padahal, FDI dibutuhkan untuk membiayai defisit transaksi berjalan. Akibatnya, rupiah melemah dan Bank Indonesia (BI) menguras cadangan devisa (cadev) untuk menjaga nilai tukar. Meski begitu, depresiasi rupiah tetap yang terburuk di kawasan Asia.

Saat ini, meski investor asing mulai mengambil ancang-ancang akan keluar, Gundy yakin nasib Indonesia akan berbeda dari 2013. Ia memproyeksikan ekonomi bisa tumbuh 5,3 persen tahun depan, lebih tinggi dari prediksi pada 2016 sebesar 5,1 persen.

Sementara itu, defisit transaksi berjalan juga terkendali. Defisit menciut menjadi hanya 1,8 persen dari PDB per kuartal III-2016. Sementara FDI tumbuh 2,1 persen terhadap PDB. (Baca juga: Sri Mulyani: Hasutan dan Sinisme Hambat Perekonomian)

Di sisi lain, meski rupiah sempat menyetuh level 13.800 per dolar AS pasca terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden AS, cadangan devisa masih mencukupi. Posisi cadangan devisa sebesar US$ 115 miliar saat ini cukup untuk membiayai sembilan bulan impor dan 2,7 kali dari Utang Luar Negeri (ULN) jangka pendek. “Jadi kondisinya akan berbeda di 2017,” ujar dia. 

Video Pilihan

Artikel Terkait