Sepekan Efek Trump, BI: Rp 16 Triliun Keluar dari Indonesia

Ruang pelonggaran moneter menipis. “Kalau bulan lalu kami katakan (kebijakan) bisa longgar, sekarang kami jaga stabilitas waspada perkembangan eksternal.”
Desy Setyowati
19 November 2016, 13:00
Dolar Amerika Serikat
ARIEF KAMALUDIN | KATADATA

Terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat (AS) telah berdampak negatif secara jangka pendek terhadap Indonesia. Bank Indonesia (BI) mencatat, dana asing yang keluar dari Indonesia mencapai Rp 16 triliun dalam tempo sepekan perdagangan, yaitu 9 sampai 14 November lalu pasca terpilihnya Trump.      

Gubernur BI Agus Martowardojo menduga, keputusan investor asing menarik dananya dari pasar keuangan Indonesia lantaran ingin mengambil untung di akhir tahun. Ia pun meramalkan dana-dana tersebut bakal kembali masuk pada awal 2017 mendatang. Hal itu seiring dengan membaiknya fundamental ekonomi di dalam negeri. 

Optimisme Agus tersebut juga didasari oleh aliran masuk dana asing yang telah menembus Rp 100 triliun sejak awal tahun ini. “Meski sempat keluar, sejak awal tahun dana asing yang masuk mencapai Rp 133 triliun,” katanya di Jakarta, Jumat (18/11).

Sekadar catatan, pasca kemenangan Trump, pasar modal dan obligasi global mengalami gejolak, termasuk di Indonesia. Puncaknya terjadi pada Jumat (11/11) pekan lalu. Saat itu, nilai tukar rupiah sempat menembus 13.800 per dolar AS. Sedangkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 4,01 persen.

Mengacu pada data OSO Securities, pelaku pasar asing mencatatkan penjualan bersih (nett sell) di bursa saham sebesar Rp 2,5 triliun pada hari itu. Sepekan kemudian atau Jumat (18/11), data RTI menunjukkan, nett sell mencapai Rp 3,29 triliun.

Menguatnya tekanan eksternal membuat Bank Indonesia (BI) menahan suku bunga acuan BI 7-Day Repo Rate di level 4,75 persen. Padahal, sebelumnya BI menyatakan, ruang pelonggaran moneter masih sangat terbuka. “Kalau bulan lalu kami katakan (kebijakan) bisa longgar, sekarang kami jaga stabilitas waspada perkembangan eksternal dan ruang pelonggaran semakin tipis,” ujar Agus.

(Baca juga: Ekonomi Dunia Tak Menentu, BI Tahan Suku Bunga Acuan)

Menurutnya, tekanan eksternal masih harus diwaspadai hingga Januari 2017. Sebab, ada kemungkinan defisit anggaran di AS melebar karena Trump berencana memangkas pajak tapi di sisi lain meningkatkan pengeluaran. Sekadar catatan, para ekonom menduga, kebijakan itu akan mendorong inflasi di AS dan membuat bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga dananya (Fed Fund Rate).

BI memperkirakan Fed Fund Rate akan naik sekali di tahun ini dan dua kali di 2017. Kenaikan itu disebut-sebut ekonom bakal mendorong pembalikan dana asing ke AS.

Tekanan eksternal lainnya, kata Agus, terkait dengan kebijakan perdagangan Trump yang cenderung protektif terhadap produk lokal AS. Ia pun menduga, akan ada kebijakan intervensi yang besar dan agresif dari AS ke negara yang dianggap tidak menjalankan kegiatan perdagangan secara wajar. (Baca juga: Efek Trump, Pemerintah Fokus Ekspor ke Eropa, Australia, Jepang)

Ekonom dari Maybank Juniman sudah menduga, kuatnya tekanan eksternal bakal direspons BI dengan menahan suku bunga acuan. Ia menyebut, kebijakan BI menahan suku bunga juga dengan mempertimbangkan risiko pembalikan dana asing. Sebab, nilai real interest rate yang sebesar 1,44 persen saat ini sudah lebih rendah dibandingkan credit default swap (CDS) Indonesia bertenor lima tahun sebesar 1,9 persen.

Sebagai informasi, real interest rate atau suku bunga riil adalah nilai yang dipakai investor untuk mengukur keuntungan. Real interest rate didapat dari selisih BI 7-Day Repo Rate dengan inflasi saat ini. Sedangkan CDS merupakan alat ukur risiko investasi. Semakin rendah nilainya, maka risikonya semakin kecil. Dengan risiko yang lebih besar daripada return dapat membuat investor asing kurang tertarik berinvestasi di Indonesia. 

(Baca juga: ASEAN Siapkan Penyangga Ekonomi Hadapi Guncangan Efek Trump)

"Kalau BI menurunkan BI 7-Days makin tidak menarik lagi, nanti akan ada ancaman di pasar obiligasi dan saham Indonesia karena capital outflow," kata Juniman.

Video Pilihan

Artikel Terkait