Cemas Kebijakan Trump, Rupiah dan Mata Uang Asia Berguguran

“Likuiditas tipis dan sentimen terhadap dolar kuat. Pasar di negara-negara ekonomi berkembang sedang menggila saat ini.”
Martha Ruth Thertina
11 November 2016, 10:31
Kurs rupiah
Arief Kamaludin|KATADATA

Mata uang rupiah mendadak anjlok hingga menembus level 13.800 per dolar Amerika Serikat (AS). Anjloknya rupiah bersamaan dengan rontoknya mata uang negara-negara di kawasan Asia dan negara-negara yang pasarnya tengah berkembang (emerging market).

Saat pembukaan perdagangan di pasar spot, Jumat (11/11) pagi, rupiah langsung jatuh ke level 13.394 per dolar AS atau turun 2 persen dibandingkan penutupan perdagangan sehari sebelumnya. Bahkan, rupiah sempat jatuh ke level 13.873 per dolar AS atau posisi terendahnya sejak tahun ini.

Belakangan, rupiah kembali bergerak menguat --diduga karena intervensi besar-besaran Bank Indonesia (BI), hingga berada di posisi 13.501 per dolar AS atau melemah 2,76 persen pada pukul 10.00 WIB. (Baca: Pemegang Obligasi Panik, Rupiah Anjlok ke 13.800 per Dolar)

Nasib serupa juga menimpa beberapa mata uang negara-negara di Asia. Mata uang won Korea anjlok 1,4 persen sedangkan mata uang baht Thailand dan peso Filipina juga jatuh masing-masing 0,6 persen dan 0,5 persen. Penurunan dalam juga menimpa mata uang ringgit Malaysia. Ringgit sempat jatuh 2 persen terhadap dolar AS pada Jumat ini.

Advertisement

Penyebabnya, para investor asing memilih keluar dari pasar emerging market untuk mengantisipasi kebijakan pemimpin baru Amerika Serikat (AS), Donald Trump, yang cenderung protektif. “Likuiditas tipis dan sentimen terhadap dolar kuat,” kata Trader Valas di INTL FCStone Inc., Singapura, seperti dikutip Bloomberg. ”Pasar di negara-negara ekonomi berkembang sedang menggila saat ini.”

Kepala Riset Monex Investindo Ariston Tjendra melihat adanya kekhawatiran para pelaku pasar terhadap potensi kebijakan ekonomi AS yg lebih protektif. Hal ini bisa mengganggu ekonomi Indonesia.

Salah satu indikasi kekhawatiran para investor tersebut terlihat dari kenaikan imbal hasil SUN tenor 10 tahun. “Ini juga tanda kekhawatiran,” katanya kepada Katadata, Jumat (11/11) pagi. “Yang terlihat investor keluar dari Indonesia.” Pada Jumat ini, imbal hasil SUN tenor 10 tahun memang naik tipis jadi 7,47 persen. Namun, SUN tenor 5 tahun malah turun 2 basis poin menjadi 7,11 persen.

Reporter: Desy Setyowati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait