Kabar baik datang dari surat utang global terbesar sepanjang sejarah yang baru saja dijual pemerintah Indonesia. Global bond sebesar US$ 4,3 miliar atau setara Rp 67,5 triliun tersebut laku diborong investor. Surat utang ini menawarkan tenor jatuh tempo hingga 50 tahun, juga terlama sepanjang sejarah negeri ini.

Keberhasilan penjualan global bond terjadi tak lama setelah investor ramai-ramai meninggalkan saham dan surat utang domestik negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Data Institute of Internasional Finance (IIF) menunjukkan total US$ 97 miliar dana asing keluar dari pasar modal negara-negara berkembang sejak awal tahun. Jumlah ini sekira lebih dari Rp 1.500 triliun.

“Negara-negara ekonomi berkembang mengalami arus keluar dana asing yang lebih besar dibandingkan masa-masa krisis belakangan,” demikian analisis IIF, Kamis (8/4). Arus keluar bukan hanya dipicu oleh kekhawatiran investor akan dampak pandemi corona terhadap perekonomian, tapi anjloknya harga minyak dunia.

(Baca: RI Negara Pertama Asia yang Jual Obligasi Global Rp 69 T saat Pandemi)

Di dalam negeri, kepemilikan asing atas surat utang domestik merosot Rp 136 triliun sejak awal tahun ini hingga Maret. Penurunan signifikan terjadi pada bulan lalu, yaitu Rp 121 triliun. Sedangkan penjualan bersih saham oleh investor asing mencapai Rp 12 triliun. Seiring kondisi ini, kurs rupiah di pasar spot anjlok nyaris 18 % dalam kurun waktu yang sama.

Credit Default Swap (CDS) untuk utang pemerintah Indonesia tenor lima tahun menanjak signifikan. Ini menunjukkan meningkatnya persepsi risiko terhadap investasi di dalam negeri. Mengacu pada data World Government Bonds, per 11 April lalu, CDS untuk tenor lima tahun mencapai level tertinggi 290,81 pada 23 Maret, melompat hampir lima kali dari posisi terendahnya 58,43 pada 20 Februari.

Kepala Sindikasi Surat Utang Asia untuk Standard Chartered Alan Roch mengatakan keberhasilan penjualan global bond Indonesia telah mendorong negara-negara ekonomi berkembang lainnya untuk mengetes pasar setelah berminggu-minggu tertekan oleh gejolak. Apalagi, bunga atau kupon yang ditawarkan pemerintah Indonesia tidak banyak berubah dari sebelum gejolak terjadi.

“Pasar lebih tegang karena virus, tapi Anda berhasil mendapatkan level kupon yang tetap menarik,” kata dia seperti dikutip Wallstreet Journal, Rabu (7/4) lalu.

Sebagai perbandingan, kupon global bond yang baru diterbitkan pemerintah untuk tenor 10,5 tahun sebesar 3,8 %, tenor 30,5 tahun berbunga 4,2 %, dan tenor 50 tahun berkupon 4,45 %. Sedangkan kupon global bond yang diterbitkan Januari lalu untuk tenor 10 tahun sebesar 2,85 % dan tenor 30 tahun sebesar 3,5 %.

Meski begitu, perburuan utang bakal semakin menantang di bulan-bulan ke depan. Hal ini seiring kekhawatiran yang masih melingkupi investor. Di sisi lain, banyak negara membutuhkan utang dalam jumlah yang lebih besar dari perkiraan awal. Hal ini tercermin dari proyeksi defisit anggaran berbagai negara yang lebih tinggi.

(Baca: Dampak dan Risiko Defisit Anggaran hingga 5,07% untuk Atasi Corona)

Proyeksi defisit anggaran yang lebih tinggi seiring kebutuhan besar dana segar untuk melawan pandemi corona. Selain itu untuk mengantisipsi risiko tertekannya pendapatan negara imbas terhambatnya kegiatan bisnis seiring kebijakan pembatasan atau penutupan wilayah dan kejatuhan harga komoditas.

Proyeksi Defisit Anggaran 2020 Beberapa Negara:

Negara

Defisit Anggaran 2019

Proyeksi Defisit Anggaran 2020

Indonesia

2,2%

5,07%

Malaysia

3,4%

4,5%

Singapura

0,3%

7,9%

India

3,8%

6,2%

Prancis

3%

7,6%

Italia

1,6%

di atas 2,5%

Amerika

4,7%

Lebih dari 10%

Sumber: Data pemerintah dan lembaga internasional

Sedangkan berdasarkan data IIF, lonjakan utang baru pemerintah sudah terpantau pada Maret lalu. Penerbitan surat utang bruto pemerintah di seluruh dunia mencapai US$ 2,1 triliun atau sekitar Rp 33.170 triliun. Jumlah ini lebih dari dua kali lipat rata-rata penambahan utang bulanan pada periode 2017 - 2019 yang mencapai US$ 0,9 triliun.   

Risiko Bunga Tinggi Surat Utang Indonesia

Jika dilihat dari CDS, persepsi risiko terhadap investasi di Indonesia jauh lebih tinggi dibandingkan negara-negara berkembang Asia, seperti Malaysia dan Filipina. Meskipun, masih lebih baik dibandingkan India.  

Negara

Rating Utang Jangka Panjang dari S&P

CDS 5 Tahun

Indonesia

BBB

198,33

Malaysia

A-

96,81

Filipina

BBB+

83,28

India

BBB-

222,32

Sumber: World Government Bond, data 11 April 2020

Bila dibandingkan dengan beberapa negara yang memiliki rating utang yang selevel yaitu BBB, CDS Indonesia juga terpantau menjulang, meskipun bukan yang tertinggi. Dengan risiko yang lebih tinggi, ekspektasi investor akan bunga atau kupon yang ditawarkan biasanya lebih besar.

Negara

CDS 5 Tahun

Indonesia

198,33

Meksiko

220,32

Italia

193

Portugal

104,6

Sumber: World Government Bond, data 11 April 2020

Sedangkan bila melihat pengalaman global bond terkini, Direktur Riset Center of Reform of Economics Piter Abdullah Redjalam mengatakan ada dua faktor yang membuat surat utang tersebut menarik minat investor global. Pertama, kondisi global yang tengah banjir likuiditas.

“Hampir semua negara meningkatkan stimulus yang dibiayai oleh bank sentralnya. Banjir likuiditas global akan mengalir mencari penempatan investasi sekaligus menjadi potensial demand bagi global bond Indonesia,” kata dia kepada katadata.co.id.

Kedua, penurunan drastis suku bunga acuan di banyak negara mendekati nol. Surat utang pemerintah AS alias US Treasury yang menjadi tempat aman pelarian dana asing sepanjang beberapa bulan belakangan kini berada di level 0,76 %.

Dengan perkembangan tersebut, kupon global bond Indonesia yang di level 3 – 4 % menjadi menarik. “Terutama dengan tenor yang begitu panjang,” ujarnya.

Hal senada pernah disinggung mantan Direktur Eksekutif Lembaga Penjamin Simpanan Fauzi Ichsan ketika bicara tentang melimpahnya likuiditas global: “Investor akan tahan berapa lama (di US Treasury) dengan imbal hasil yang mendekati nol?”

Dolar
Dolar (Arief Kamaludin|KATADATA)

Selain kedua faktor itu, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan rasio utang Indonesia yang terkendali menambah minat investor global terhadap global bond Indonesia. Berdasarkan perhitungannya, bila defisit anggaran Indonesia melebar hingga 5,07 % terhadap PDB, rasio utang pemerintah di posisi 34 – 35 % terhadap PDB. Ini masih di bawah batas aman yang ditetapkan Undang-Undang Keuangan Negara yakni 60 %.

“Global investor mempertimbangkan kesinambungan utang oleh pemerintah Indonesia tetap prudent sehingga minat pada global bond Indonesia tersebut juga tinggi,”ujarnya.

Meski terdapat faktor-faktor pendukung, Piter mengatakan ketidakpastian ekonomi sekarang ini begitu tinggi, dan hasrat investor untuk mengambil risiko alias risk appetite sangat rendah. Alhasil, risiko bahwa tidak banyak investor yang akan membeli surat utang Indonesia akan tetap membayangi.

“Hal ini akan mendorong Pemerintah meningkatkan iming-iming kupon yang lebih tinggi termasuk tenor yang lebih panjang,” kata Piter. Kondisi ini sudah terlihat pada global bond terbaru.

Halaman selanjutnya: Global Bond Disarankan untuk Pemulihan Pandemi Corona, Bukan Sekarang

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.