Hasil Hitung Cepat Sementara Memenangkan Jokowi, Pasar Respons Positif

Jika pasangan Prabowo yang unggul, arah pergerakan saham lebih sulit ditebak. Investor akan meraba-raba arah kebijakan ekonominya.
Muchamad Nafi
Oleh Muchamad Nafi
17 April 2019, 17:55
hasil hitung cepat, jokowi, pasar modal, pilpres 2019
Ajeng Dinar Ulfiana | KATADATA
Presiden Joko Widodo (dua dari kanan) secara resmi melakukan penutupan perdagangan pasar modal seiring berakhirnya 2018 di PT. Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta Selatan (28/12). Penutupan tersebut dihadiri Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution, Ketua OJK Wimboh Santoso, Wakil Menteri Keuangan Mardiasmo, Wakil Ketua DK OJK Nurhaida dan Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Inarno Djajadi.

Hingga pukul 17.00 WIB, sejumlah lembaga survei menyiarkan hasil hitung cepat atau quick count pemilihan presiden (pilpres 2019) yang menempatkan Joko Widod-Ma’ruf Amin unggul dari Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Jumlah suara yang masuk di atas 60 persen. Melihat perolehan tersebut, pelaku pasar memberi respons positif.

Bahana TCW Investment Management menilai hasil hitung cepat ini akan diapresiasi pelaku pasar modal. “Hasil quick count itu menambah momentum positif bagi investor di pasar modal,” kata Direktur Strategi Investasi dan Kepala Makroekonomi Bahana TCW Investment Management, Budi Hikmat, ketika dihubungi Antara di Jakarta, Rabu (17/4).

(Baca: Exit Poll LSI Denny JA: Jokowi Unggul 12% atas Prabowo)

Menurut dia, hasil hitung cepat yang sesuai ekspektasi pasar akan memudahkan investor mengkalkulasi dan menentukan pilihan investasi. Namun, lanjut dia, bukan berarti jika Prabowo Subianto-Sandiaga Uno yang unggul dalam hitung cepat akan berpengaruh negatif bagi pasar saham.

Hanya saja, kalau pasangan Prabowo yang unggul arah pergerakan saham akan lebih sulit ditebak. “Investor akan meraba-raba lagi arah kebijakan ekonomi dari pasangan itu,” katanya.

Selain arah pergerakan saham yang diproyeksikan positif, Budi Hikmat mengatakan pasar surat utang (obligasi) di dalam negeri juga terkena imbasnya. “Sikap dovish the Fed terhadap suku bunga acuannya menjadi faktor positif bagi obligasi kita,” katanya.

(Baca: INDEF Sebut Stabilitas Makro Ekonomi Terjaga Sepanjang Pemilu 2019)

Kendati demikian, Budi Hikmat mengingatkan agar investor tidak terlena dengan sentimen pemilu karena masih terdapat sentimen lainnya. Sentimen itu adalah laporan kinerja keuangan emiten, kebijakan pemerintah dalam perbaikan defisit transaksi berjalan hingga kabinet baru di pemerintahan mendatang. Sentimen-sentimen itu cukup mempengaruhi investor menanamkan dananya.

INDEF: Investor Asing Akan “Tancap Gas” setelah Pemilu

Sebelumnya, Insutute for Development of Economics and Finance (Indef) memperkirakan investor asing kembali aktif atau “tancap gas” di pasar saham usai Pemilu 2019. “Setelah Pilpres investor asing akan ‘tancap gas’ lagi,” kata peneliti Indef Bhima Yudhistira kepada Antara di Jakarta, Rabu. “Bagaimanapun, kita tetap pasar yang prospektif tumbuhnya di atas lima persen.”

Menurut Bhima, menjelang Pilpres 2019, investor asing sementara cenderung menghindari aksi beli bersih saham atau nett buy dan cenderung jual bersih saham alias nett sell. Selama seminggu terakhir nett sell dari investor asing mencapai Rp 1,06 triliun dan diproyeksikan pekan depan kegiatan beli saham mulai bergeliat kembali.

(Baca: Sri Mulyani: Dunia Berharap RI Lanjutkan Kemajuan Ekonomi Usai Pemilu)

Geliat investor asing akan kembali muncul karena dari sisi demografi di Indonesia banyak usia produktif. “Ini pasar yang masih bagus. Kalau kita lihat kecenderungan ekonomi global sedang melemah, banyak dana asing negara larinya ke emerging market, salah satunya Indonesia,” katanya.

Reporter: Antara

Video Pilihan

Artikel Terkait