Mendag Incar Negosiasi Perdagangan dengan Negara-negara Afrika

Selain membidik pasar Afrika, pemerintah terus memperluas akses pasar ekspor di Asia, dua di antaranya yakni Korea Selatan dan Bangladesh.
Muchamad Nafi
12 Maret 2019, 14:56
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menyampaikan pemaparannya dalam kunjungan kerjanya ke Bandung, Jawa Barat, Kamis (4/5).
ANTARA FOTO/Agus Bebeng
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menyampaikan pemaparannya dalam kunjungan kerjanya ke Bandung, Jawa Barat, Kamis (4/5).

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menyatakan ada beberapa tahapan dalam memperluas pasar ekspor. Setelah menyelesaikan berbagai perjanjian perdagangan dengan Chile, EFTA dan Australia, pemerintah sedang mengincar negosiasi dan perjanjian perdagangan dengan negara-negara Afrika.

Menurut Enggar, negosiasi dengan negara-negara di benua hitam itu, termasuk wilayah non sub-Sahara, akan dimulai tahun ini. “Seperti Mozambik, Tunisia, dan Maroko adalah kelompok negara yang menjadi prioritas untuk kami proses dan selesaikan negosiasinya,” kata Enggar pada peresmian Pasar Rakyat dan pembukaan Raker Kementerian Perdagangan di ICE BSD Serpong, Selasa (12/3).

(Baca: Kumpulkan Mantan Menteri, Mendag Bahas Defisit Dagang)

Untuk meningkatkan ekspor, Indonesia memang harus menjaga pasar lama dan membuka pasar baru dengan melakukan delegasi bisnis. Melalui perjanjian dagang dengan Tunisia dan Maroko, misalnya, Indonesia bisa mendapatkan bebas pengenaan bea tarif atau zero tariff ke sebagian negara Eropa melalui dua negara hub tersebut.

Advertisement

Selain membidik pasar Afrika, pemerintah terus memperluas akses pasar ekspor di Asia. Dua negara yang akan diteruskan penetrasi ke sana yakni Korea Selatan dan Bangladesh. Pemerintah menjadikan kedua negara itu sebagai prioritas dalam penyelesaian perjanjian dagang. “Mereka sudah punya perjanjian dengan negara-negara lain. Jadi kita mengejar ketertinggalan itu,” kata Enggar.

Dalam kesempatan itu, Enggar juga kembali menyampaikan bahwa sebagai dukungan dan untuk meningkatkan daya saing produk Palestina, Indonesia menghapus tarif bea masuk produk kurma dan minyak zaitun asal negara tersebut. Hal ini sebagai tindak lanjut dari rekomendasi Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Keuangan. Hasilnya, kini, kurma Palestina sudah bisa ditemui di pasar-pasar.

(Baca: RI Hapus Tarif Impor Kurma dan Minyak Zaitun Palestina Jelang Ramadan)

Di tengah memanasnya perang dagang antara Amerika Serikat dan Cina serta melemahnya pertumbuhan ekonomi dunia, ekspor Indonesia tumbuh positif pada 2018, baik dari segi nilai maupun volume. Pada tahun itu, total ekspor Indonesia naik 6,7 persen dari US$ 168,8 miliar pada 2017 menjadi US$ 180 miliar dolar.

Reporter: Antara
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait