Chevron Lepas Blok Makassar Strait, Proyek IDD Terancam Mundur

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral berharap jadwal operasi proyek IDD tidak mundur terlalu jauh, tak lebih dari tiga bulan. 
Anggita Rezki Amelia
14 Agustus 2018, 12:27
Ambil Alih Lapangan Migas Blok Mahakam
Arief Kamaludin|KATADATA
Suasana North Processing Unit (NPU) wilayah kerja Blok Mahakam di Kutai Kartanegara, Minggu (31/12). Pertamina resmi mengambil alih pengelolaan Blok Mahakam dari Total E&P Indonesie mulai 1 Januari 2018.

Pemerintah menyatakan proyek ultra laut dalam atau Indonesia Deepwater Development (IDD) belum tentu bisa beroperasi sesuai target. Proyek tersebut harus dievaluasi ulang lantaran keluarnya Blok Makassar Strait dari bagian blok minyak dan gas tersebut.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM Djoko Siswanto mengatakan dengan keluarnya Makassar Strait maka Chevron perlu waktu untuk memperbaiki proposal IDD mereka. “Karena Makassar Strait take out jadi evaluasi ulang. Jadwal produksi mundur,” kata dia di Kementerian ESDM, Senin (13/8).

Djoko memberi tenggat kepada Chevron untuk menyelesaikan revisi proposal pengembangan atau Plan of Delevopment (PoD) IDD selama tiga bulan ke depan mulai bulan ini. Targetnya, pada akhir Oktober harus sudah ada kejelasan proposal dari Chevron.

(Baca juga: Lelang Blok Makassar Strait, South Jambi B, Selat Panjang Pekan Depan)

Advertisement

Dengan tenggat tersebut diharapkan jadwal operasi proyek IDD tidak mundur terlalu jauh, tak lebih dari tiga bulan tadi. Bila mengacu data Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas (SKK Migas), proyek ini dipatok bisa beroperasi mulai kuartal empat 2023.

Sebagai gambaran, dengan keluarnya Makassar Strait dari proyek IDD, Chevron hanya mengelola dua blok saja dalam mengembangkan proyek tersebut yakni Blok Ganal dan Rapak. Saat ini, SKK Migas masih menghitung ulang besaran biaya pengembangan proyek IDD seiring rencana awal yang diajukan Chevron berubah.

(Baca juga: Proyek IDD Tetap Jalan Tanpa Makassar Strait)

Hasil kajian pekerjaan desain awal atau pre front end engineering design ( pre-FEED) yang telah selesai Juni lalu menyebutkan Chevron berencana membangun pipa bawah laut untuk mengambil produksi dari Lapangan Maha. Namun, karena Chevron memutuskan untuk tidak mengembangkan Makassar Strait, opsi terserbut gagal.

“Nah cost-nya jadi berapa sedang dihitung,” kata Kepala SKK Migas Amien beberapa waktu lalu. 

 

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait