Pemerintah Siapkan Dua Skema Pembiayaan Kereta Layang Lingkar Jakarta

Tiga perusahaan siap membuat joint venture untuk proyek kereta layang: PT Jaya Konstruksi Manggala Pratama, PT Adhi Karya, dan PT Wijaya Karya.
Ameidyo Daud Nasution
17 Mei 2018, 07:47
LRT Rute Cawang Cibubur
ANTARA FOTO/Andika Wahyu
Sejumlah kendaraan melaju di samping deretan tiang konstruksi proyek kereta ringan atau Light Rail Transit (LRT) rute Cawang-Cibubur yang sudah dipasang struktur "U-Shape Girder" di samping jalan tol Jagorawi kawasan Cibubur, Jakarta Timur, Rabu (15/3). Kementerian Perhubungan memastikan kereta ringan atau Light Rail Transit (LRT) rute Cawang-Cibubur siap beroperasi pada Maret 2019.

Pemerintah sedang menyiapkan dua skema pendanaan untuk pembangunan proyek rel kereta layang melingkar (loop line) Jakarta. Pembiayaan yang digunakan adalah pinjaman komersial serta jaminan pemerintah dalam bentuk pembayaran secara berkala atau availability payment.

Pola pembiayaan kombinasi pada proyek kereta pernah digunakan dalam pembangunan rel Makassar - Pare-pare. Untuk rel kereta pertama Sulawesi tersebut, pemerintah menggunakan tiga skema yakni avalilability payment, pinjaman komersial, hingga Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) murni.

Hal yang sama sedang dikaji untuk proyek loop line Jakarta. “Nanti saya dan DKI Jakarta membuat studi dan dikoordinasikan dengan Kementerian Keuangan,” kata Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi di Istana Kepresidenam, Jakarta, Rabu (16/5). (Baca: Tiga Investor Lokal Minati Proyek Jalur Kereta Layang Lingkar Jakarta).

Saat ini ada tiga perusahaan yang siap membuat joint venture yakni PT Jaya Konstruksi Manggala Pratama, PT Adhi Karya, serta PT Wijaya Karya sebagai pemrakarsa. Namun dia juga membuka investor lain untuk masuk menggarap proyek infrastruktir ini. Bahkan, menurut Budi Karya, banyak investor yang berminat kalau nilai komersialnya tercapai.

Advertisement

(Baca pula: Jalur Kereta Layang Lingkar Jakarta Rp 15 Triliun Segera Dibangun).

Dia menargetkan proyek senilai Rp 10 triliun ini mulai dibangun akhir 2019 mendatang. Berdasakan usulan kajian yang sudah lama dilakukan, rutenya akan menghubungkan Stasiun Senen, Kemayoran, Kota, hingga Tanah Abang. “Perlu delapan bulan sampai setahun untuk (menentukan) pemenang lelang,” kata dia.

Sedangkan Kepala Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek Bambang Prihartono menjelaskan pihaknya masih mengurus administrasi proyek tersebut. Misalnya, memasukkan loop line Jakarta dalam blue book atau daftar proyek kerja sama pemerintah dan badan usaha (KPBU) yang diterbitkan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional.

Bambang menargetkan paling tidak hingga akhir tahun ini penyelesaian skema pembiayaan (financial close) proyek kereta ini dapat dilakukan. Rencana ini juga akan disampaikan ke Kementerian Keuangan. (Lihat pula: Atasi Macet dan Kecelakaan, KRL Akan Pakai Sistem Loop Line).

Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan, proses Detail Engineering Design (DED) atau perencanaan fisik proyek kereta ini akan dimulai. Saat itu, dia menghitung biaya pembangunannya diperkirakan Rp 12 hingga 15 triliun. 

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait