Produksi Terus Membeludak, Harga Minyak Mentah Makin Lemah

Harga minyak berjangka acuan Brent maupun WTI sama-sama melemah.
Maria Yuniar Ardhiati
25 Juli 2016, 13:52
minyak
Katadata

Hingga awal pekan ini, harga minyak mentah dunia sudah melemah selama dua bulan. Rendahnya harga disebabkan oleh kekhawatiran atas produksi kilang yang berlimpah.

“Masih akan berlangsung sampai semester kedua tahun 2016,” kata Morgan Stantley seperti dilansir Reuters, Senin, 25 Juli 2016. Selain itu, permintaan bahan bakar untuk kendaraan juga menurun.  (Baca: Harga Minyak Indonesia Akan Mengacu Brent).

Harga minyak berjangka acuan Brent hari ini menyentuh US$ 45,59 per barel atau turun 10 sen dari penutupan perdagangan akhir pekan lalu. Sementara itu, minyak acuan West Texas Intermediate diperdagangkan dengan harga US$ 44,09, yang juga turun 10 sen per barel.

Harga Brent maupun WTI sama-sama telah melemah selama dua bulan. Para pedagang menilai hal ini imbas kelebihan pasokan yang terus berlanjut dan pertumbuhan ekonomi yang belum begitu membaik.

Advertisement

Salah satu bank di Amerika Serikat menjelaskan, permintaan minyak mentah dari kilang-kilang juga berkurang sebagai dampaknya. Tak hanya itu. penguatan nilai tukar dolar serta naiknya produksi rig minyak Amerika Serikat selama empat pekan berturut-turut juga berpengaruh.

Untuk bertahan dari tekanan rendahnya harga minyak, perusahaan pengeboran pun melakukan lindung nilai atau hedging, yaitu untuk melakukan pembayaran ketika harga turun. Perusahaan energi asal Houston, Amerika Serikat, menandatangani kontrak untuk jual-beli minyak pada harga maksimal US$ 90 per barel. (Baca: Harga Minyak Indonesia Akan Mengacu Brent).

Pada Maret lalu ketika harga menyentuh US$ 45 per barel, lindung nilai Linn Energy mencapai US$ 1,5 miliar dan menjadikannya sebagai perusahaan dengan aset paling tinggi. Meski demikian, strategi ini belum cukup untuk melindungi perusahaan tersebut dari masalah keuangan setelah harga minyak turun.

“Jika harga minyak belum juga pulih dalam beberapa bulan ke depan, mereka tidak akan bisa menghindari kebangkrutan,” kata analis energi dari Bloomberg Intelligence, Gurpal Dosanjh, seperti dikutip Bloomberg, Kamis pekan lalu. (Baca: Asumsi Minyak US$ 40, Penerimaan Negara Tambah Rp 3,3 Triliun).

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait