Kadin: Harga Pangan Tinggi Salah Perencanaan Pemerintah

Keran impor sapi hidup didorong dibuka, bukan hanya mendatangkan daging beku semata.
Miftah Ardhian
14 Juni 2016, 18:53
Pasar Daging
Agung Samosir|KATADATA

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menyatakan kebijakan pemerintah dan pola konsumsi masyarakat yang menyebabkan harga pangan melonjak, khususnya daging sapi. Karena itu, Ketua Umum Kadin Rosan P. Roeslani mengatakan perencanaan yang matang merupakan jalan untuk mengatasi kenaikan harga yang terus berulang.

Konsep tersebut harus didukung dengan data-data valid di lapangan. Apalagi, kata dia, data-data dari tiap instansi pemerintah terkadang berbeda-beda. Sehingga, kebijakan yang diambil justru hanya untuk jangka pendek saja.

“Sekarang saya lihatnya hanya sekadar pemadaman api aja, harga tinggi pemerintah langsung impor tapi tidak bantu turunin harga juga. Pemerintah harus bikin planning yang bener, jangan terulang terus,” ujar Rosan di Jakarta, Selasa, 14 Juni 2016. (Baca: Harga Melonjak, Kadin Jamin Pasokan Bahan Pangan Mencukupi).

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Bidang Pengolahan Makanan dan Industri Peternakan Kadin Juan Permata Adoe mengatakan kebijakan impor oleh pemerintah justru membuat harga daging semakin tinggi. Daging beku impor tersebut kurang diminati masyarakat. Akibatnya, harga daging segar pun tetap melambung.

Permintaan terus banyak malah ditekan dengan impor daging. Itu bukan menjadikan turun, malah naik. Tidak pernah percaya itu pemerintah,” ujarnya.

Untuk itu, Juan mengimbau agar keran impor sapi hidup segera dibuka, bukan hanya impor daging beku saja. Dengan mengimpor sapi dari Australia atau Brazil dapat menghidupkan ekonomi peternak kecil. Mereka pun bisa membeli langsung dari Kadin untuk menjaga stok pasokan daging sapi apabila permintaan naik. (Baca: Swasta Dapat Izin Impor Daging Sapi 23 Ribu Ton).

Menurut Juan, harga daging sapi Rp 80.000 per kilogram sebegaiman diminta Presiden Joko Widodo sulit tercapai. Senada dengan Rosan, dia berpandangan antisipasi pemerintah telat atas kenaikan harga akibat tingginya permintaan masyarakat. Pola konsumsi masyarakat yang cenderung makin konsumtif saaat bulan puasa dan menjelang Lebaran menjadi faktor naiknya harga-harga pangan.

Suara bulat disampaikan Wakil Ketua Kadin Bidang Perdagangan Benny Soetrisno. Saat ini konsumsi masyarakat naik hingga dua kali lipat menjelang Lebaran. Permintaan tinggi membuat banyak spekulan mengambil untung besar. “Beli barang secukupnya. Pembelian panik yang mubazir akan menyebabkan harga naik,” ujarnya.

Sementara itu, Chairman and Chief Executive Officer Sinar Mas Agribusiness & Food Franky Oesman Widjaja mengatakan masyarakat tidak sepatutnya merasa kehabisan produk pangan lalu berbelanja secara berlebihan. Sebab, ketersediaan produk pangan akan aman hingga Lebaran.

Himbauan yang sama disampaikam Wakil Ketua Umum Aprindo Tutum Rahanta. Masyarakat diminta tidak panik dalam berbelanja. Upaya memborong bahan pangan dapat dimanfaatkan para spekulan tadi. “Stok cukup. Kalau pasar tradisional tutup kami siap melayani,” ujarnya.

 

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait