KPPU: Harga Gula Tinggi Dipicu Usia Pabrik Tua

Ameidyo Daud Nasution
13 Juni 2016, 09:50
Gula Pasir
ARIEF KAMALUDIN | KATADATA

Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menilai produktivitas pabrik gula milik beberapa PT Perkebunan Nusantara di wilayah Jawa Timur sangat rendah. Hal ini memicu tingginya harga gula di provinsi itu seperti dikeluhkan oleh Gubernur Jawa Timur Soekarwo baru-baru ini.

Ketua KPPU Muhammad Syarkawi Rauf menyatakan beberapa pabrik tersebut telah berusia 200 tahun. Gula yang dihasilkannya pun begitu minim terutama dibandingkan pabrik gula milik swasta. Akibat produktivitas yang rendah, Harga Pokok Penjualan (HPP) gula milik PTPN pun menjadi tinggi, berkisar di angka Rp 8.000 per kilogram.

“Sedangkan HPP pabrik gula swasta ada di angka Rp 4.500 per kilogram dan masih bisa untung,” kata Syarkawi saat dihubungi Katadata, Jumat, 10 Juni 2016. (Baca: Antisipasi Lebaran, Pemerintah Impor Gula dan Daging Sapi).

Menurut dia, satu-satunya jalan untuk menurunkan harga gula hanya dengan merevitalisasi pabrik gula milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) itu. Meski demikian, Syarkawi tidak menutup kemungkinan adanya kelompok yang memainkan harga gula di Jawa Timur saat ini.

Oleh sebab itu, KPPU Jawa Timur telah diminta untuk meneliti kemungkinan praktek-praktek permainan harga. Walaupun, secara pribadi dia merasa tingginya harga gula dikarenakan inefisiensi pabrik gula milik beberapa PTPN. “Yang penting kami harus temukan minimal dua alat bukti,” katanya. (Baca:Harga Rendah Jelang Puasa, Pemerintah Impor Bawang dan Daging).

Sebelumnya, Gubernur Jawa Timur Soekarwo mengatakan akan meminta KPPU untuk meneliti alasan di balik tingginya harga gula di Jawa Timur. Di wilayahnya,  gula yang dijual PTPN malah mencapai Rp 13.250 per kilogram. Padahal dia telah berjanji kepada Presiden Joko Widodo untuk menjual gula Rp 11.750 ribu per kilogram. Harapanya, KPPU turun tangan agar harga gula bisa ditekan.

Menurut Soekarwo, pabrik gula milik PTPN X dan XII, yakni PG Gempolkrep menjual gula kepada para distributor dengan harga tinggi. Begitu sampai konsumen, harga komoditas itu pun dijual lebih dari target yang telah ditetapkan.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait