ConocoPhillips Buat Program Prioritas Atasi Kejatuhan Harga Minyak

Sebenarnya sudah banyak yang dilakukan pemerintah untuk menggairahkan kembali industri migas. Dinilai belum tepat sasaran.
Miftah Ardhian
25 Mei 2016, 16:41
Stand pameran ConocoPhillips
Arief Kamaludin|KATADATA

Kejatuhan harga minyak mentah dunia, kini mendekati US$ 50 per barel, membuat perusahaanperusahaan migas mengencangkan “tali pinggang”. ConocoPhillips Indonesia melakukan efisiensi agar bisnisnya terus berjalan. Salah satunya dengan menentukan program prioritas.

Corporate & External Communication ConocoPhillips Diarmila Sutedja mengatakan perusahannya sedang melakukan review dari semua kegiatan yang sedang dan akan dikerjakan. “Akan dilihat lagi. Mana yang menjadi prioritas, mana yang bisa menunggu,” kata Diarmila saat ditemui dalam Konvensi Asosiasi Industri Minyak dan Gas Bumi (IPA) ke-40 di Jakarta, Rabu 25 Mei 2016. (Baca: (Baca: Harga Minyak Anjlok, Pemerintah Siapkan Insentif untuk Hulu Migas).

Menurutnya, sejauh ini belum ada proyek yang ditunda atau dihentikan pengerjaannya. ConocoPhillips masih menjalankan rencana sesuai program awal. Tapi dia tidak memungkiri apabila setelah proses review selesai akan ada proyek-proyek yang ditunda. Diarmila tidak menjelaskan lebih lanjut bentuk efisiensi yang dilakukan, termasuk apakah adanya pengurangan karyawan.

Di tengah harga minyak yang terbilang rendah, ConocoPhillips masih melakukan eksplorasi untuk menemukan cadangan minyak dan gas baru. Salah satu eksplorasi prioritas yang sedang dikerjakan yaitu di Kuala Kurun, Kalimantan.

Dampak rendahnya harga minyak dirasakan pula oleh pelaku industri migas lainnya, di Indonesia. Karena itu, sejumlah kebijakan pemerintah yang mendukung perkembanga industri migas diperlukan untuk membuat sektor ini kembali menggeliat. (Baca: Asosiasi Migas Berharap Insentif selama Harga Minyak Rendah).

Chairman IPA 2016 Marudut Manulang mengatakan, sebenarnya, sudah banyak yang dilakukan pemerintah untuk mengairahkan kembali industri migas nasional. Namun, yang menjadi pertanyaan adalah, apakah hal yang dilakukan pemerintah sudah cukup atau belum.

Dengan melihat situasi saat ini, dia menilai upaya pemerintah masih kurang. Untuk itu, Marudut berharap Pemerintah bisa memberikan insentif yang berbeda-beda di tiap daerah. “Jadi tidak bisa dipukul rata. Karena daerah yang ditawarkan tingkat kesulitannya berbeda beda,” ujarnya.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait