Bappenas Dukung Utang Cina untuk Biayai Rel Sumatera

?Dari segi prioritas, proyek kereta Sumatera dan Sulawesi memang harus masuk.?
Ameidyo Daud Nasution
11 Mei 2016, 19:12
Rel Kereta
DONANG WAHYU | KATADATA

Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas mendukung upaya Kementerian Perhubungan mengajukan pinjaman ke Cina untuk membangun proyek rel kereta api Trans Sumatera dan Sulawesi. Sebab, pembangunan infrastruktur ini masuk proyek prioritas.

Untuk mengejar pembangunan rel hingga 2019, Bappenas memandang proyek ini layak dipertimbangkan masuk buku daftar utang pemerintah (bluebook). “Dari segi prioritas, proyek kereta Sumatera dan Sulawesi memang harus masuk,” kata Deputi Bidang Pendanaan Pembangunan Bappenas Wismana Adi Suryabrata di Hotel Le-Meridien, Jakarta, Rabu, 11 Mei 2016.

Menurut Wismana, Bappenas akan melihat ketentuan pinjaman dari Cina serta kesiapan proyek yang menjadi wewenang Kementerian Perhubungan. Pinjaman ini sah asal jumlah nominal utangnya tidak membebani rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yakni 30 persen, sekitar US$ 5 miliar. Misalnya, 27 hingga 28 persen masih ditoleransi. (Baca: Bangun Rel Sumatera dan Sulawesi, Kemenhub Berencana Utang ke Cina).

Awal rencana pinjaman ini dilontarkan oleh Direktur Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan Hermanto Dwiatmoko. Utang tersebut akan digunakan untuk membangun sejumlah rel perintis di Pulau Sumatera dan Sulawesi. “Kami usulkan dapat masuk bluebook,” kata Hermanto kemarin.

Argumen yang dilontarkan yakni tidak mungkin menawarkan pembangunan rel ini kepada swasta. Sebab, proyek ini dinilai belum ekonomis. Karena itu pemerintah yang harus mendanainya. Terkait rencana ini, Menteri Perhubungan Ignasius Jonan secara khusus telah menyambangi Cian. (Baca juga: Perancis Berminat Garap Proyek Kereta Api).

Selain dua proyek tersebut, kat Hermanto, Kementerian Perhubungan juga akan merevitalisasi perangkat kereta lintas utara Pulau Jawa. Langkah itu untuk meningkatkan performa kereta yang berkecepatan rendah ke level medium, sekitar 150 kilometer per jam.

Untuk proyek revitalisasi, Kementerian Perhubungan telah menawarkan kepada Jepang. Sebab, investor Negeri Sakura ini sangat tertarik menggarap kereta berkecepatan menengah. “Saya pernah tanyakan ke Jepang dan sepertinya ada komitmen dari mereka,” kata Hermanto.  (Lihat pula: Biaya Susut Rp 5 Triliun, Proyek Kereta Cepat Rampung Mei 2019).

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait