Pemerintah Dorong Konservasi Energi untuk Hemat Miliaran Dolar

Kesadaran masyarakat untuk menghemat energi masih rendah. Salah satu faktor utama karena harga energi belum rill.
Muchamad Nafi
18 Maret 2016, 19:01
energi
Katadata

KATADATA - Walau belum disahkan, cetak biru energi nasional sudah masuk proses finalisasi. Pemerintah menyatakan tidak ada lagi perdebatan yang kuat dalam Rencana Umum Energi Nasional tersebut. Dalam penyusunan draf ini, pemerintah menekankan pada pentingnya konservasi yang dilakukan terhadap energi nasional.

Dalam rapat Dewan Energi Nasional, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said menyatakan selama ini kebijakan energi nasional terlalu berfokus pada pasokan energi. Dia mencontohkan seperti pembangunan pembangkit listrik, kilang minyak, dan Energi Baru Terbarukan. “Ada satu sumber daya yang kita abaikan yaitu mengelola konservasi,” ujar Sudirman, di Kantor Kementerian Energi, Jakarta, 18 Maret 2016. (Baca: Penetapan Rencana Umum Energi Nasional Molor).

Menurut Sudirman, salah satu tolok ukur keberhasilan konservasi energi adalah jika masyarakat berhasil menurunkan intensitas penggunaan energi. Saat ini, energi yang dimiliki Indonesia sangat terbatas, tetapi masih digunakan secara berlebihan. Karena itu Rencana Umum Energi Nasional akan mendorong seluruh lapisan masyarakat untuk menggunakan energi secara efisien. Jumlah energi yang dibutuhkan harus sesuai kebutuhan, tidak menggunakannya secara berlebihan.

Sampai saat ini, kata Sudirman, kesadaran masyarakat untuk menghemat energi masih rendah. Salah satu faktor utama adalah harga untuk energi belum rill. Hal tersebut karena anggaran subsidi dalam bidang energi masih besar, sehingga masyarakat tidak menyadari besarnya pengeluaran untuk energi. “Jadi salah satu persoalan adalah komponen subsidi energi terlalu besar,” ujarnya. (Lihat juga: Komisi VII Akan Revisi Kebijakan Energi Nasional).

Jika melihat kondisi saat ini, pemerintah melihat ada ruang penghematan sebesar 17 persen pada 2025. Ruang penghematan ini dianalogikan oleh Sudirman seperti pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). “Katakanlah investasi PLTU US$ 1 - 1,5 juta dolar per megawatt. 17 persen itu sama dengan hampir 5.000 megawatt. Bayangkan jika dikali US$ 1 juta. Jadi ruang penghematan itu sangat besar,” ujarnya.

Oleh karena itu, Kementerian Energi berencana mengambil beberapa langkah. Misalnya melatih 242 manajer energi yang bertugas untuk merencanakan dan menghitung upaya penghematan pada tahun ini. Pada tahun lalu jumlah manajer energi yang terlatih baru 162 orang. Lalu, memiliki 167 auditor energi dari saat ini hanya 127. Terakhir melakukan pelabelan terutama untuk instansi pemerintahan dan memberikan disinsentif bagi instansi yang tidak menghemat energi. (Baca pula: Penetapan Cetak Biru Energi Nasional Terganjal Isu Nuklir).

Melalui Rencana Umum Energi Nasional, pemerintah bersama Dewan Energi berharap energi nasional dapat menjadi pionir pertumbuhan ekonomi. Untuk mewujudkannya dibutuhkan konservasi agar energi nasional dapat berkesinambungan. Anggota Dewan Energi Abadi Purnomo mengatakan pembangunan energi baru terbarukan juga menjadi salah satu upaya dalam konservasi agar tidak terus bergantung pada energi fosil walaupun tidak mudah dilakukan. “Perlu effort luar biasa. Harus ada terobosan-terobosan,” ujarnya.

Reporter: Miftah Ardhian
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait