Peralatan Elektronik Dongkrak Penjualan Eceran

Pemerintah perlu waspada di akhir tahun seiring kembali melambatnya sejumlah permintaan beberapa kelompok barang.
Muchamad Nafi
11 November 2015, 11:57
Perdagangan Elektronik
Arief Kamaludin|KATADATA

KATADATA - Di tengah kabar eknomi yang sedang lesu, data perdagangan ritel pada September lalu cukup menggembirakan. Survei Bank Indonesia menunjukkan penjualan eceran di bulan itu menguat dibandingkan bulan sebelumnya. Indeks penjualan riil secara tahunan (year on year) tercatat meningkat 7,2 persen, lebih tinggi dari Agustus yang berada di posisi 5,8 persen. Dengan kenaikan ini, indeks penjualan riil September sebesar 178,8.

Menurut Bank Indoneisa, meningkatnya penjualan ini terutama didorong oleh tingginya pertumbuhan permintaan peralatan informasi dan komunikasi. Angkanya paling tinggi, yakni 23,9 persen. “Terutama didorong kenaikan penjualan produk elektronik seperti audio dan video,” demikian hasil Survei Bank Indonesia yang dirilis kemarin.

Sementara itu, peringkat kedua diduduki kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan pertumbuhan 9,9 persen. Pada sektor ini, pendorong utamanya yaitu produk makanan jadi dan minuman. (Baca juga: BI dan Pemerintah Satu Suara, Pertumbuhan Ekonomi 2015 di Bawah 5 Persen).

Dilihat dari pergerakan bulanan (month to month), pencapain September juga cukup melegakan. Pasalnya, penjualan eceran pada Agustus tercatat minus 13,1 persen lalu berubah menjadi 0,8 persen sebulan kemudian. Walaupun, Bank Indoneisa menggarisbawahi bahwa pertumbuhan beberapa kelompok masih mengalami kontraksi.

Advertisement

Karena itu, bank sentral menyarankan agar mengambil posisi waspada pada kuartal terakhir tahun ini. Apalagi, penjualan eceran pada Oktober diperkirakan melambat, hanya tumbuh 5,8 persen. Hal ini dipengaruhi oleh penurunan permintaan di kelompok bahan bakar kendaraan sebesar minus 30,1 persen dan perlengkapan rumah tangga minus 13,4 persen. Pada bulan ini, penjualan produk elektronik aka sedikit menyusut.

Secara umum, untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, Gubernur BI Agus Martowardojo pada pekan lalu meminta swasta turut berperan, misalnya dengan meningkatkan investasi di triwulan keempat 2015. “Tentu swasta harus mempersiapkan diri. Kami harap di kuartal IV, investasi bangunan dan swasta akan naik dan berkontribusi pada ekonomi Indonesia,” kata Agus.

Dari sisi pemerintah, belanja anggaran juga sedang ditingkatkan. Hal ini terlihat pada kuartal ketiga ketika berbagai proyek infrastruktur dikerjakan. Menurutnya, kenaikan belanja modal pemerintah menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi memasuki paruh kedua 2015. (Baca pula: DBS Perkirakan Dua Faktor Ancaman Pertumbuhan Ekonomi 2016).

Sementara itu, Gundy Cahyadi memperkirakan pertumbuhan ekonomi kuartal ketiga sebesar 4,8 persen. Ekonom Development Bank of Singapore (DBS) ini melihat ada peningkatan impor bahan baku, yang menandakan investasi pemerintah mulai meningkat. Dari sisi kredit investasi tercatat naik meski pemerintah masih kesulitan mengandalkan pertumbuhan dari ekspor.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait