Enam Kontrak Gas Diteken, Negara Terima Rp 7,86 Triliun

Pada 2014, penyerapan gas oleh pembeli lebih rendah dari komitmen.
Muchamad Nafi
20 Oktober 2015, 16:18
Pipa Gas
Arief Kamaludin|KATADATA
Pekerjaan pipanisasi gas milik Pertamina Gas di Kawasan Marunda, Jakarta Utara.

KATADATA - Konferensi dan pameran minyak dan gas bumi Asia Pasifik (APOGCE) di Nusa Dua, Bali, dibuka hari ini, Selasa, 20 Oktober 2015. Enam perjanjian jual beli gas bumi (PJBG) sukses ditandatangani pada saat pembukaan konferensi. Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Amien Sunaryadi mengatakan tiga kontrak untuk kelistrikan, dua kontrak ditujukan ke sektor industri, dan satu kontrak untuk memenuhi kebutuhan elpiji.

Perjanjian jual beli gas bumi di sektor kelistrikan yakni antara PetroChina International Jabung Ltd. dan PT. Perusahaan Listrik Negara Batam dengan jangka waktu tujuh tahun tiga bulan. Adapun pasokannya 10-17 miliar british thermal unit per hari. Dari kontrak ini, penerimaan negara bertambah US$ 323,9 juta atau sekitar Rp 4,34 triliun. (Baca juga: Tambahan Penerimaan Rp 29,5 Triliun dari Perjanjian Gas Bumi).

Kemudian, kontrak antara Energy Equity Epic (Sengkang) Pty Ltd dan Perusahaan Daerah Sulawesi Selatan dengan jangka waktu empat tahun. Energi Equity akan memasok 40-68 BBTUD. Di sini, pendapatan negara sebesar US$ 176,77 juta atau sekitar Rp 2,37 triliun. Lalu, ada amandemen PJBG antara PT. Pertamina EP dan PT. Pura Daya Prima untuk jangka waktu empat tahun dengan pasokan 3,8 juta kaki kubik per hari (MMSCFD) dengan penerimaan negara US$ 7,2 juta, sekitar Rp 96,5 miliar.

Untuk kontrak di sektor industri, perjanjian ditandatangani oleh JOB Pertamina-PetroChina East Java dengan PT. Gresik Migas dengan jangka waktu empat tahun. JOB Pertamina akan memasok 1,2-3,2 MMSCFD ke Gresik Migas. Dalam perjanjian ini penerimaan negara sebesar US$ 6,9 juta, sekitar Rp 93 miliar. Lalu, ada pula kesepakatan gas suar bakar (flare gas) antara PT. Pertamina EP dan Pertamina (Persero) selama lima tahun dengan pasokan 3-8 MMSCFD, dan uang yang akan masuk ke kas negara US$ 4,2 juta atau sekitar Rp 56 miliar.

Sementara itu, untuk memenuhi kebutuhan elpiji, ConocoPhillips Indonesia akan memasok 230 ribu metrik ton per tahun kepada Pertamina selama satu tahun. Dari perjanjian ini kas negara akan bertambah US$ 68 juta atau sekitar Rp 911,2 miliar. ‘’Potensi penambahan pendapatan negara selama periode perjanjian jual beli sebesar US$ 587 juta atau sekitar Rp 7,86 triliun,’’ kata Amien Sunaryadi usai membuka Konferensi APOGCE.

Dalam kesempatan tersebut, Presiden Direktur PT. Pertamina EP, Rony Gunawan berharap dukungan dari semua pihak supaya penyaluran gas dari PJBG bisa terlaksana. Dengan dukungan tersebut, Pertamina EP berharap segera dapat memonetisasi temuan-temuan cadangan migas dari lapangan yang lain untuk mendukung tingkat produksi migas nasional.

Sebagai informasi, pada 2014, penyerapan gas oleh pembeli lebih rendah dari komitmen. Akibatnya, potensi kehilangan produksi mencapai 95 MMSCFD atau setara 17 ribu barel minyak per hari. (Baca pula: Tambahan Penerimaan Rp 126 Triliun dari Penjualan Gas untuk Domestik).

Dalam ajang konferensi tersebut, industri hulu migas berkomitmen meningkatkan pasokan gas untuk domestik. Sejak 2003, pasokan gas untuk domestik meningkat rata-rata 9 persen per tahun. Pada 2013, volume gas untuk kebutuhan domestik lebih besar dibandingkan ekspor. Tahun ini, komitmen untuk domestik mencapai 4.403 miliar british thermal unit per hari atau 61 persen, sementara peruntukan ekspor gas sebesar 2.836 miliar british thermal unit per hari.

Reporter: Arnold Sirait
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait