Cina Bidik Pengembangan Kawasan Jalur Kereta Cepat

Konsorsium tidak mengincar keuntungan langsung dari bisnis transportasi.
Muchamad Nafi
16 Oktober 2015, 15:26
No image
Suasana ekspo Jaringan Kereta Cepat Negara Tiongkok di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta. Pameran menampilkan beragam jenis kereta cepat dan pembangunan stasiun kereta yang telah dipergunakan di negara Tiongkok yang rencananya juga akan di pergunak

KATADATA - Direktur Utama PT. Wijaya Karya Bintang Perbowo mengatakan ada tiga hingga empat perusahaan asal Cina yang siap mengembangkan kawasan sepanjang rute kereta cepat Jakarta-Bandung. Daerah transit kereta tersebut akan "disulap" menjadi kawasan bisnis.

"Saya belum bisa kasih tahu detailnya, tapi dari Cina ada tiga atau empat perusahaan," kata Bintang saat ditemui di Hotel Pullman, Jakarta, Jumat, 16 Oktober 2015. Selain Cina, kabarnya ada pula pemain lokal dan asing lainnya yang menyatakan minat.

Sebagaimana diberitakan Katadata sebelumnya, Wijaja Karya ditunjuk oleh pemerintah untuk memimpin konsorsium Badan Usaha Milik Negara dalam membangun kereta cepat Jakarta-Bandung. Sebagai anggota konsorsium yaitu PT Jasa Marga, PT Kereta Api Indonesia, dan PT Perkebunan Nusantara VIII. Mereka membentuk PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia dan bekerjasama dengan China Railway International. Co, Ltd. (Baca pula: Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung dari Cina Diduga Lebih Mahal).

Pada kesempatan tersebut, Direktur Komersial KAI Anggoro Budi Wiryawan mengatakan pemanfaatan Transit Oriented Development (TOD) di wilayah yang disinggahi kereta cepat akan efektif menutup biaya operasional. Karena itu, konsorsium tidak mengincar keuntungan langsung dari bisnis transportasi.

Menurut Anggoro, konsorsium BUMN mengarahkan pemgembangan beberapa wilayah seperti di Walini dan juga Gede Bage, Bandung. "Konsepsi besarnya adalah pengembangan ekonomi kawasan, bukan saja soal kereta cepat," kata Anggoro.

Dari sisi transportasi, tingkat isian penumpang harian kereta diprediksi mencapai 28 - 30 ribu orang. Namun, sekali lagi dia menegaskan, pengembangan wilayah merupakan target utama konsorsium. "Bahkan kami targetkan orang itu bisa tinggal di Bandung dan kerja di Jakarta," ujarnya.

Rencananya, proyek kereta cepat ini akan dibangun pada 9 November mendatang. Staf Ahli Kementerian BUMN Sahala Lumban Gaol mengatakan peluncuran proyek tersebut bertempat di Walini, Jawa Barat. Panajang rute kereta sekitar 150 kilometer dan berkecepatan 250 kilometer per jam. (Baca juga: Awal November, Kereta Cepat Cina Pertama di Luar Negeri Dibangun di Walini).

"Launching dan groundbreaking di situ (Walini) semua," kata Sahala usai penandatanganan joint venture kereta cepat Jakarta-Bandung di Hotel Pullman, hari ini. Pembangunan kereta cepat ditargetkan rampung pada akhir 2018 dan beroperasi pada awal 2019. "Ongkosnya (tiket kereta) sekitar US$ 16 atau setara dengan Rp 200 ribu."

Dalam menggarap proyek ini, konsorsium memperkirakan biayanya US$ 5,5 miliar. Sahala menyebutkan 75 persen akan menggunakan pinjaman dari China Development Bank. Sedangkan 25 persennya ditanggung oleh PT. Pilar Sinergi dan China Railway International. Co, Ltd. Dalam konsorsium BUMN, Wijaya Karya mendapatkan porsi 38 persen, Jasa Marga 12 persen, Perkebunan Nusantara VIII 25 persen, dan KAI 25 persen.

Reporter: Ameidyo Daud Nasution
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait