CPO Fund Dongkrak Harga Minyak Sawit

Pemerintah tetap menjaga harga CPO tidak terlalu tinggi agar kompetitif ketika dikonversikan menjadi biodiesel.
Muchamad Nafi
13 Oktober 2015, 18:40
Direktur Utama, BPDB Sawit, Bayu Krishnamukti
Arief Kamaludin|KATADATA
Direktur Utama, BPDB Sawit, Bayu Krishnamukti (kemeja abu-abu) memberikan perkembangan terbaru dalam Media Briefing BPDB di Jakarta, Selasa, (13/10).

KATADATA - KATADATA - Direktur Utama ‎Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Bayu Krisnamurthi‎ mengatakan terjadi tren positif pada harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO). Hal itu ditunjukkan dalam pergerakan harga CPO di tiga bursa komoditas utama yakni Indonesia Comodity & Derivatives Exchange, Malaysia Derivatives Exchange, dan bursa Rotterdam.

Menurut Bayu, membaiknya harga salah satu komoditas unggulan Indonesia itu mulai terasa sejak ada kebijakan CPO Fund pada Agustus lalu. "Kita ingat pungutan sawit dimulai 16 Juli. Kemudian kita menyalurkan biofuel 18 Agustus dan riil delivery-nya kira-kira 24 Agustus," kata Bayu di Graha Mandiri, Jakarta, Selasa, 13 Oktober 2015.

Setelah disalurkan melalui PT Pertamina, Bayu melanjutkan, harganya sempat naik-turun tapi dalam tren positif. Penyaluran yang dimaksud Bayu yakni peningkatan bauran energi melalui peningkatan bahan bakar nabati. Tahun ini, Pertamina menerapkan B15 yaitu dalam setiap liter bahan bakar termuat bahan bakar nabati sebesar 15 persen dengan produk berupa biodiesel.

Dalam perdagangan di ICDX, harga CPO memang terlihat makin menguat. Misalnya, untuk pengiriman November 2015, CPO ditransasksikan Rp 7.190 per kilogram pada awal pekan ini. Nilainya terus naik untuk tiga bulan selanjutnya, yakni Rp 7.390, 7.725, dan 7.775 per kilogram. 

Meskipun trennya positif, mantan Wakil Menteri Perdagangan ini tidak ingin harga CPO melonjak melebihi harga minyak mentah dunia. Sebab, hal itu akan menyebabkan CPO tidak kompetitif ketika dikonversikan menjadi biodiesel. "Harga crude masih sekitar US$ 49 per barel. Itu gap-nya besar. Kita cari keseimbangan di mana harga itu cukup memberikan insentif, tapi pada saat yang sama jangan hilangkan daya kompetitifnya," ujarnya. "Kita tidak mau terlalu tinggi dan terlalu rendah."

Salah satu cara menjaga harga tersebut, pemerintah akan menerapkan mandatori B20 untuk kendaraan dan B30 untuk Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang semula diwajibkan B25. Artinya, semua solar akan dicampur 20 persen bahan bakar nabati dalam membuat biodiesel.

Untuk diketahui, hingga kini subsidi biodisel berkisar Rp 2.600 perliter. PLN merupakan salah satu perusahaan yang mendapat subsidi biodeisel dari CPO Fund sebanyak 266 ribu kiloliter.

Reporter: Anggita Rezki Amelia
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait