Strategi Sri Mulyani Melahirkan Perusahaan Unicorn Lebih Banyak

Sri Mulyani optimistis dapat menghasilkan startup dengan valuasi  unicorn cukup banyak melalui pengembangam kreativitas, inovasi, dan ekosistem.
Image title
18 Februari 2019, 19:22
Sri Mulyani
Ajeng Dinar Ulfiana | KATADATA
Sri Mulyani dalam acara Outlook Perekonomian Indonesia di Ritz Carlton Pacific Place, Jakarta, (8/1). Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan bahwa keputusan pemerintah meningkatkan anggaran bantuan sosial (Bansos) di tahun 2019 bukan karena menjelang pemilihan umum (Pemilu).

Sejak semalam, perusahaan rintisan atau startup yang menjelma unicorn menjadi buah bibir usai debat calon presiden (capres) Joko Widodo dan Prabowo Subianto. Hari ini, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati ikut meramaikannya. Kementeriannya sedang menyiapkan strategi untuk meningkatkan unicorn.

Pemerintah akan mengembangkan unicorn sesuai visi Presiden Joko Widodo dengan mendukung dari hulu sampai hilir. “Kalau mengharapkan unicorn menjadi lebih banyak, kami bisa melahirkan seperti Gojek Tokopedia, Traveloka, Bukalapak,” kata Sri Mulyani di kantornya, Senin (18/2).

Menurut dia, perusahaan-perusahaan tersebut didirikan oleh warga Indoensia yang memiliki pendidikan tinggi. Karenanya, peningkatan kualitas sumber daya manusia perlu menjadi prioritas. (Baca juga: Dikabarkan Jadi Unicorn, OVO Fokus Tingkatkan Transaksi)

Unicorn merupakan sebutan bagi perusahaan rintisan atau startup yang memiliki nilai valuasi lebih dari US$ 1 miliar atau sekitar Rp 14,1 triliun. Istilah ini pertama kali dicetuskan oleh Aileen Lee, pendiri perusahaan modal ventura Cowboy Ventures.

Sri Mulyani berjanji membenahi sumber daya manusia (SDM) agar banyak yang menjadi pionir di bidang inovatif, misalnya, investasi di bidang SDM. Untuk mendukung hal tersebut, ia sudah berdiskusi dengan perguruan tinggi negeri, seperti Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Univesitas Gadjah Mada (UGM).

Selain itu, kerja sama dengan institusi yang melakukan riset inovasi juga dilakukan. Caranya, melalui program Lembaga Pengelola dan Dana Pendidikan (LPDP); Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi; dan universitas.

(Baca: Disinggung dalam Debat Capres, Unicorn Indonesia Hampir Jadi Decacorn)

Pemerintah juga mengidentifikasi masalah pada penelitian dan pengembangan (R&D). Sebagai contoh, memetakan jumlah anggaran, pelaku, dan karakter riset. Dengan demikian, Kementerian Keuangan dapat melakukan keberpihakan belanja anggaran dengan membentuk dana abadi seperti program LPDP.

Selain itu, Sri Mulyani mendorong unicorn di Indonesia agar tidak hanya terfokus di Pulau Jawa. Peningkatan infrastruktur dan konektivitas digital terus dilakukan secara merata, seperti pengadaan satelit Palapa Ring.

Menteri Komunikasi dan Informasi juga pernah menyatakan akan meningkatkan konektivitas jaringan di Indonesia bagian tengah dan timur. Upaya tersebut dengan membangun skema kerja sama pemerintah dan badan usaha.

Kemudian pada sektor perpajakan, Sri Mulyani hendak mengembangkan ekosistem melalui kebijakan yang mendukung kebutuhan unicron. “Dari sisi fasilitas dan support yang dibutuhkan,” ujarnya. Ia meyakini Indonesia dapat menghasilkan startup dengan valuasi  unicorn yang cukup banyak melalui pengembangam kreativitas, inovasi, dan ekosistem yang terus diperbaiki.

Sebelumnya, dalam debat capres, Jokowi bertanya kepada Prabowo mengenai langkah yang akan dilakukan untuk mendukung unicorn. “Infrastruktur apa yang akan Bapak bangun untuk mendukung pengembangan unicorn-unicorn Indonesia?” tanya Jokowi di sesi kelima.

Prabowo yang tampak tidak terlalu memahami maksud istilah unicorn kembali bertanya sebelum menjawab. “Maksudnya apa itu? Yang online-online itu ya, Pak?” ujarnya. (Baca: Awal Mula Istilah Unicorn dalam Debat Capres Jokowi dan Prabowo)

Berdasarkan data CBS Insights, hingga Januari 2019, ada 325 startup unicorn di dunia. Dari jumlah itu, baru empat yang berasal dari Indonesia, yakni, Tokopedia, Traveloka, dan Bukalapak.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait