Aplikasi Baca Terima Rp 261,9 Miliar dari Perusahaan Cina

Baca mengklaim telah memiliki satu juta pengguna aktif di Indonesia per hari. Setiap hari, aplikasi ini mengumpulkan 20 ribu hingga 25 ribu artikel dari 500 penerbitan.
Maria Yuniar Ardhiati
29 Juli 2016, 11:48
Internet desa
Donang Wahyu|KATADATA
Petani mencoba koneksi internet menggunakan wifi di tengah persawahan di Desa Melung, Kecamatan Kedung Banteng, Banyumas, Jawa Tengah.

Aplikasi untuk membaca berita, yang bernama Baca, menyatakan baru menerima investasi seri B dari Bertelsmann Asia Investment (BAI), Crystal Stream, serta CC Zhuang dari Cina. Chief Operating Officer (COO) Baca Jimmy Sie menyebutkan nilai pendanaan yang masuk lebih dari US$ 20 juta atau sekitar Rp 261,9 Miliar.

Sebagai agregator berita, Baca mencari pemasukan melalui iklan yang ditempatkan bersama dengan konten berita. “Kami meletakkannya di akhir artikel,” kata Jimmy seperti dikutip Tech in Asia, Kamis, 28 Juli 2016. (Baca: Enam Startup Indonesia Lolos Program Launchpad Google).

Baca mengklaim telah memiliki satu juta pengguna aktif di Indonesia per hari. Setiap hari, aplikasi ini mengumpulkan 20 ribu hingga 25 ribu artikel dari 500 penerbitan.

Aplikasi ini menganalisa berita-berita yang banyak dibaca pengguna. Baca memakai hasil analisa tersebut sebagai dasar untuk memilih berita-berita yang ditampilkan.

Advertisement

Perusahaan induk Baca, News in Palm, yang berkantor pusat di Hong Kong mengklaim perusahaannya sebagai perusahaan global. News in Palm mempekerjakan tim lokal di setiap negara yang dimasukinya. (Baca: Badan Kreatif Minta Bursa Percepat 10 Startup yang Layak IPO).

Setelah Indonesia, sekarang News in Palm membidik pasar yang gemuk di Brazil.  Di negara tersebut, perusahaan meluncurkan agregator berita bernama Central das Noticias pada Maret mendatang. Sementara itu, News in Palm juga tetap menyasar negara-negara lainnya.

Di Indonesia, Baca berkompetisi dengan agregator berita seperti BaBe dan Kurio. Disandingkan dengan para pesaingnya, Baca menyatakan kekuatannya, yakni membuat penggunanya tidak perlu log in maupun membuat akun, dan tidak banyak memakan kuota internet untuk data.

Tech in Asia hingga saat ini belum mendapat komentar dari Bertelsmann Asia Investment (BAI). Baca akan menjadi penerima investasi pertama di Indonesia dari BAI. Sebelumnya, BAI memfokuskan investasinya di Cina. (Baca: Startup India Ekspansi Jualan Tiket Film Online ke Indonesia).

Didirikan pada 2008, BAI fokus berinvestasi untuk media baru, internet dan mobile internet, pendidikan secara online, teknologi baru, outsourcing, dan layanan jasa. Pada 2014, BAI mendirikan lembaga pendanaan, BetaFund, untuk menyalurkan investasi tahap awal atau angel investment. 

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait