Popularitas Path Merosot Tajam Dikalahkan Aplikasi Tahu Bulat

Maria Yuniar Ardhiati
31 Mei 2016, 11:06
1.Miripnya-Logo-Path-dan-Pininterest.1.jpg
KATADATA

Akuisisi Daum Kakao terhadap Path pada tahun lalu ternyata tidak berhasil meningkatkan pertumbuhan media jejaring sosial ini. Setidaknya hal itu terlihat di Indonesia sebagai negara dengan pengguna Path terbesar. Berdasarkan data AppAnnie, perusahaan analisa aplikasi yang berbasis di San Francisco, Path berada di posisi ke-16 aplikasi paling popular pada Play Store di Indonesia pada 29 Mei 2014.

Namun satu tahun kemudian, tepatnya saat aplikasi startup dari Amerika Serikat ini diakuisisi Daum kakao, raksasa teknologi asal Korea, peringkatnya malah sempat merosot ke posisi 27. Bahkan saat ini, Path ada di peringkat ke-57. (Baca: Microsoft dan Facebook Bangun Kabel Raksasa Kejar Kecepatan Super).

Sementara itu, yang terjadi pada WhatsApp adalah sebaliknya. Di Indonesia, WhatsApp menjadi aplikasi terpopuler kelima. Sementara itu Facebook dan Blackberry Messenger masing-masing berada di urutan ketiga dan kedua. Sekarang yang menempati posisi pertama adalah aplikasi permainan mobile bernama Tahu Bulat. Penempatan peringkat aplikasi di Play Store Google dilakukan antara lain berdasarkan jumlah pengunduh, penilaian pengguna, serta pencopotan aplikasi.

Meski Path berada di posisi buncit, perusahaan aplikasi ini tetap optimististis. “Sejak transisi berlangsung, jumlah pengguna kami bertambah signifikan,” kata juru bicara Path tanpa merinci jumlah pengguna, seperti dilansir Tech in Asia, Senin, 30 Mei 2016. (Baca: Keuntungan Facebook Melejit Hingga Rp 74 Triliun).

Ia mengklaim popularitas Path meningkat di luar Indonesia. Namun data yang ada menunjukkan sebaliknya. Pada peringkat yang disajikan AppAnnie, Path hanya meraih posisi dalam 100 aplikasi terpopuler di satu negara, yaitu Indonesia. Di Arab Saudi, jejaring sosial ini bahkan masih ada di kelompok 500 besar. Selain itu, tidak ada lagi.

Daum Kakao, yang mengembangkan Path melalui anak usahanya, saat ini sedang membangun sejumlah fitur baru untuk aplikasi tersebut, antara lain layanan pesan terintegrasi dan video streaming. Tech in Asia melakukan survey informal terhadap sepuluh pengguna Path di Indonesia. Mereka menilai Path memiliki fitur-fitur yang lebih menarik sejak diakuisisi Daum Kakao. Para pengguna ini memang membuka akun Path mereka secara rutin.

Namun, sepuluh orang yang sudah menggunakan Path tidak kurang dari satu tahun ini lebih aktif menggunakan aplikasi jejaring sosial lainnya seperti WhatsApp, Facebook, dan Line. (Baca: Izin Kantor Perwakilan Google dan Facebook Terancam Dicabut).

Path mulai hadir pada akhir tahun 2010 di California, Amerika Serikat. Saat itu, jejaring sosial yang didirikan oleh Dave Morin ini menjadi alternatif selain Facebook. Path sempat berjaya selama dua tahun sebelum akhirnya mulai terpuruk.

    News Alert

    Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

    Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
    Video Pilihan

    Artikel Terkait