Carbon Trading: Mengurangi Emisi, Menurunkan Karbon Dioksida

Carbon Trading merupakan program untuk menekan emisi dengan menargetkan pengurangan karbon dioksida.
Image title
25 Mei 2021, 20:45
Ilustrasi perdagangan karbon atau carbon trading
123rf.com/malp
Ilustrasi perdagangan karbon atau carbon trading

Carbon trading terdengar cukup asing di telinga sebagian besar masyarakat saat ini. Namun hal tersebut bukanlah sesuatu yang baru. Carbon trading adalah perdagangan, salah satunya, antar-negara yang disusun dengan tujuan untuk mengurangi emisi karbon dioksida.

Carbon emissions trading merupakan nama lain dari carbon trading atau dalam bahasa Indonesia artinya perdagangan emisi karbon. Kegiatan tersebut diektahui telah menyumbang sebagian besar perdagangan emisi di dunia.

Perdagangan emisi karbon ini suatu bentuk perdagangan emisi yang dengan khusus mentargetkan karbon dioksida dalam satuan ton dan sudah menjadi perdagangan emisi terbesar. Perdagangan tersebut bekerja dengan menetapkan batas secara kuantitatif yang dihasilkan oleh penghasil emisi.

Melalui program ini, suatu negara yang memproduksi emisi karbon lebih banyak dapat mengeluarkan emisi tersebut dari negaranya. Sedangkan negara yang memiliki emisi lebih sedikit bisa menjual hak menghasilkan emisi sesuai batasnya ke negara atau wilayah lainnya.

Cara ini juga menjadi salah satu metode pengurangan karbon paling hemat biaya dan bahkan bisa dieksploitasi. Beberapa analis menjelaskan kemungkinan orang lain untuk berpartisipasi dalam perdagangan, contohnya perusahaan pialang swasta. Hal tersbut untuk mengatur risiko yang lebih baik dalam sistem, seperti variasi harga izin.

Pada dasarnya, masing-masing negara memiliki batasan karbon yang diperbolehkan untuk dilepaskan. Sehingga memungkinkan negara-negara yang menghasilkan emisi karbon lebih tinggi bisa membeli hak untuk melepaskan lebih banyak karbon dioksida ke atmosfer dari negara yang memiliki emisi karbon lebih rendah.

Pemerintah juga bisa mengeluarkan izin mengenai batas maksimum yang disepakati bersama dan diberikan secara gratis ataupun dilelang ke perusahaan-perusahaa. Jika suatu perusahaan terbukti mampu menekan emisi karbon yang dihasilkannya secara signifikan, mereka bisa memperdagangkan kelebihan izin batas maksimum emisi karbon di carbon trading dan mendapatkan keuntungan berupa uang tunai.

  • Kelebihan

Carbon trading dinilai cukup efektif dalam menyelesaikan masalah lingkungan dengan melakukan perdagangan izin sulfur dioksida, misalnya. Hal tersebut dianggap membantu membatasi kelebihan asam di AS. Ini bisa menjadi daya tarik besar bagi pemerintah dengan membendung produksi CO2.

Jika skema pembatasan dan perdagangan dapat digabungkan secara global, hal tersebut dapat menjadi metode yang relatif bebas dari kesulitan dan lebih cepat untuk membantu dunia melakukan dekarbonisasi.

  • Kekurangan

Menciptakan pasar karbon dioksida memang sangat sulit. Anda perlu melakukan promosi kelangkaan dan harus benar-benar membatasi hak untuk mengeluarkan barang agar dapat diperdagangkan.

Dalam skema perdagangan karbon terbesar di dunia, campur tangan politik telah menciptakan kilau izin yang sering diberikan secara gratis, sehingga menyebabkan jatuhnya harga bahkan pengurangan emisi tidak lagi menjadi efektif.

Masalah lainnya yakni izin penggantian kerugian dari membayar pengurangan polusi di negara-negara miskin. Pentingnya izin ketika hendak mengurangi emisi karbon saat ini banyak dipertanyakan dan efektivitas skema pembatasan dan perdagangan secara keseluruhan semakin berkurang.

Ada dua opsi dalam skema pembatasan emisi karbon, yaitu pajak karbon dan peraturan secara langsung. Pajak karbon banyak diberlakukan di negara Eropa. Beberapa negara juga memberlakukan pajak tersebut seperti India, Jepang dan Korea Selatan, bahkan mereka dikenakan pajak yang kemudian dicabut di Australia.

Pemerintahan telah mencoba untuk merancang regulasi agar emisi dapat turun secara efektif. Pendekatan tersebut sedang diuji coba di AS semenjak Presiden Obama memberlakukan rencana Clean Power Plan yang harus ditaati oleh berbagai produsen energi.

Skema tersebut dirancang untuk mengurangi emisi sebesar 32% pada 2030. Hal tersebut lantaran, beberapa tahun belakangan, perdagangan emisi karbon banyak menuai kritik karena dinggap sebagai gangguan yang cukup berbahaya dan setengah-setengah dalam memecahkan permasalahan pemanasan global yang sangat mendesak.

Reporter: Aisyah Rahmatul Fajrin
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait