Tunggu Tiga Faktor, Bunga Acuan BI Diprediksi Tetap

Desy Setyowati
19 Oktober 2016, 11:42
Bank Indonesia
Arief Kamaludin|KATADATA
Bank Indonesia

Sejumlah ekonom memperkirakan Bank Indonesia (BI) akan memertahankan suku bunga acuan BI 7 Days Repo Rate di posisi lima persen. Bank sentral diduga masih akan mengkaji tiga faktor guna menentukan kebijakan moneternya.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede, misalnya, menyebutkan ketiga faktor tersebut yakni terkait keputusan subsidi listrik antara pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat, data pertumbuhan ekonomi kuartal tiga 2016, dan kebijakan moneter Amerika Serikat. (Baca: Kredit Melemah, BI Pangkas Bunga Acuan BI 7-Days Repo).

Menurut Josua, ketetapan subsidi listrik menjadi penting karena akan mempengaruhi inflasi hingga tahun depan. Saat ini, pemerintah bersama DPR sedang membahas pencabutan subsidi listrik untuk golongan 900 volt ampere (VA) dan 450 VA. Tujuannya, agar pemberian subsidi menjadi lebih tepat sasaran.

Saat ini ada 45 juta pelanggan yang menerima subsidi listrik: 22,8 juta pelanggan 450 VA dan 22,9 juta pelanggan golongan 900 VA. “Keputusan ini penting karena kepastian pengurangan subsidi listrik akan mempengaruhi outlook inflasi tahun depan, yang juga berpengaruh pada kebijakan suku bunga BI,” kata Josua kepada Katadata, Rabu, 19 Oktober 2016. (Baca juga: Keperkasaan Rupiah Dibayangi Sejumlah Tantangan).

Di tengah penantian keputusan subsidi listrik, BI juga menunggu rilis pertumbuhan ekonomi kuartal  tiga 2016 yang akan diumumkan pada 7 November mendatang. Josua memperkirakan pertumbuhan ekonomi semester dua hanya akan ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang diperkirakan tumbuh lima persen hingga akhir tahun.

Sementara itu, dari sisi investasi, potensi pertumbuhannya berkurang imbas pemangkasan anggaran oleh pemerintah. “BI akan mencermati data ekonomi dalam negeri serta arah kebijakan suku bunga Amerika yang dapat mempengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah,” ujar Josua. (Baca: Bank Indonesia Jaga Stabilitas Rupiah Jelang Pemilihan Amerika).

Gundy Cahyadi mempunyai pandangan serupa. Ekonom Development Bank of Singapore (DBS) ini juga memprediksi BI 7Days Repo Rate tetap. Sebab, inflasi hingga September masih sejalan dengan target BI empat persen plus minus satu persen hingga akhir tahun. Sedangkan tahun depan, inflasi diperkirakan lebih tinggi karena harga minyak dan beberapa komoditas mulai meningkat.

Yang mengkhawatirkan, kata dia, yaitu prospek pertumbuhan ekonomi triwulan tiga tahun ini. Pemerintah masih harus berjuang meningkatkan penerimaan agar belanja untuk infrastruktur tetap berjalan baik. Tetapi, menurut dia, penerimaan dari pelaksanaan pengampunan pajak alias tax amnesty cukup untuk menjaga defisit anggaran di bawah batas aman tiga persen.

“Saat ini, terlihat risiko berkurangnya belanja pemerintah secara drastis menjelang akhir tahun. Sepertinya, ini membutuhkan kebijakan BI yang lebih dari yang sudah dilakukan selama ini,” ujar dia. (Baca: Cadangan Devisa Bisa Jaga Rupiah dari Risiko Bunga The Fed).

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait