Gagal Lobi Pemerintah Amerika, Saham Deutsche Bank Terpuruk

Deutsche Bank sedang berjuang untuk mengembalikan kepercayaan pasar ketika Departemen Kehakiman Amerika Serikat menjatuhkan sanksi Rp 181,6 triliun.
Maria Yuniar Ardhiati
10 Oktober 2016, 19:39
Bursa saham
Arief Kamaludin|KATADATA
Bursa saham

Saham Deutsche Bank terjerembab lebih dari tiga persen hari ini. Kejatuhan itu menyusul kegagalan Chief Executive Deutsche Bank John Cryan membuat kesepakatan dengan Departemen Kehakiman Amerika Serikat sepanjang pekan lalu. Bank asal Jerman ini menghadapi tuntutan atas kesalahan dalam menjual kredit perumahan murah.

Cryan menghadiri pertemuan dengan Dana Moneter Internasional (IMF) serta Bank Dunia pada pekan lalu. Ia berharap dapat melakukan negosiasi personal untuk mendapatkan pengurangan denda US$ 14 miliar atau sekitar Rp 181,6 triliun yang dikenakan oleh Departemen Kehakiman.

"Ia berharap bisa menemui kesepatakan dengan cepat," ujar seorang trader asal Jerman, seperti dilansir Reuters, Senin 10 Oktober 2016. (Baca: Deutsche Bank Kena Denda Rp 181 Triliun, Picu Kecemasan Krisis).

Saham Deutsche Bank melemah ke level 11,74 euro. Namun, bank i ni masih berada di peringkat bawah indeks blue chip di Jerman. Pekan lalu, saham bank tersebut sempat melambung. "Namun mereka tidak akan menyelesaikan masalah di Amerika Serikat secepat itu," kata Direktur Pelaksana McLaren Securities, Terry Torrison.

Advertisement

(Baca: IMF Kategorikan Deutsche Bank Paling Berisiko di Dunia).

Ia menilai Deutsche Bank masih perlu menerbitkan saham baru. Sejak menghadapi perkara ini, Deutsche Bank memang diperkirakan menerbitkan saham baru, melakukan penjualan aset, atau keduanya mengingat jumlah denda yang begitu besar.

Bank itu kini sedang berjuang untuk mengembalikan kepercayaan pasar yang memudar ketika Departemen Kehakiman Amerika Serikat menjatuhkan sanksi US$ 14 miliar itu. Para investor pun mempertanyakan rencana yang dimiliki Cryan untuk menyelesaikannya. (Baca: IMF Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Amerika Jadi 2,2 Persen)

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait