BI Waspadai Penguatan Tajam Rupiah Lewati Fundamental Ekonomi

?Kalau mata uang rupiah terlalu kuat, di luar fundamentalnya, pasti akan membuat ketidakcapaian ekuilibrium.?
Muchamad Nafi
22 Maret 2016, 18:25
rupiah dolar arief.jpg
Arief Kamaludin|KATADATA

KATADATA - Sudah beberapa pekan terakhir kurs rupiah cukup perkasa terhadap dolar Amerika Serikat. Walau agak menurun disbanding kemarin, hari ini nilai rupiah dalam kurs tengah Bank Indonesia (JISDOR) masih bertengger di posisi  13.175 per dolar Amerika. Bank sentral menyatakan salah satu faktor penguatan rupiah yaitu dampak kebijakan suku bunga negatif di beberapa negara.

Namun Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo juga mengingatkan agar penguatan ini harus dicermati. Kenaikan rupiah secara tajam yang tidak sesuai dengan nilai fundamentalnya malah berpotensi membuat ekonomi rentan. Misalnya, dolar yang melemah akan diikuti oleh lonjakan impor. Hal itu bisa menyebabkan defisit transaksi berjalan (CAD) bertambah lebar.

?Kalau mata uang rupiah terlalu kuat, di luar fundamentalnya, pasti akan membuat ketidakcapaian ekuilibrium dan akhirnya membuat ekonomi Indonesia rentan,? kata Agus usai menghadiri Indonesia Investment Forum di Hotel Mandarin, Jakarta, Selasa, 22 Maret 2016. (Baca: Menko Ekonomi Tidak Ingin Rupiah Terlalu Kuat).

Kebijakan bank sentral Eropa (European Central Bank) dan Jepang (Bank of Japan) menurunkan bungnya hingga negatif membawa investor datang ke negara yang pasarnya tengah berkembang atau emerging market, salah satunya Indonesia. Masuknya dana asing (capital inflow) ini membuat rupiah menguat. Namun penguatan rupiah harus dijaga sesuai dengan nilai fundamentalnya.

Advertisement

?Komitmen kami untuk memberikan kesempatan rupiah fleksible  pada nilai fundamentalnya adalah bentuk upaya menjaga dan menghindari terjadinya tekanan berlebihan kepada stabilitas ekonomi,? ujar Agus. (Baca juga: Pemerintah Sebut Tiga Faktor Rupiah Menguat Tajam).

Ekonom dari Universitas Indonesia Anton Gunawan, sebelumnya, mengatakan semestinya nilai fundamental rupiah di bawah 13.000 per dolar Amerika. Hal itu didasarkan pada inflasi yang stabil di level 3,35 persen tahun lalu. Juga diiringi oleh perbaikan defisit transaksi berjalan di kisaran 2 persen pada 2015. Di tahun itu, ekonomi juga tumbuh 4,79 persen.

Namun, menurut Anton, fundamental ekonomi memang dinamis. Maka semestinya perhitungan nilai tukar berdasarkan efektifitasnya atau Real Effective Exchange Rate (REER) ditambah tingkat kompetitif dengan negara lain. Karenanya, rupiah di level 13.300 per dolar Amerika sejak awal tahun masih pada posisi relatif stabil. (Lihat pula: Tembus Level Rp 12.000, Darmin: Rupiah Dekati Nilai Fundamental).

Reporter: Desy Setyowati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait