BI Peringatkan Pasar Dampak Kenaikan Fed Rate

"Ada ancaman capital reversal yang bisa membawa tekanan kepada rupiah. Capital reversal itu, biasanya, tandanya ketika Fed Rate akan dinaikkan."
Muchamad Nafi
22 Maret 2016, 16:34
Agus Martowardodjo
Donang Wahyu|KATADATA
Agus Martowardodjo

KATADATA - Bank Indonesia memperkirakan defisit transaksi berjalan atau current account defisit/CAD sekitar 2,6 persen terhadap Produk Domestik Bruto tahun ini. Gubernur BI Agus Martowardojo mengatakan kenaikan impor bahan baku dan barang modal memungkinkan defisit transaksi berjalan menjadi US$ 26 miliar, lebih tinggi dari realisasi tahun lalu yang hanya US$ 17 miliar.

Di tengah kemungkinan pelebaran CAD ini, BI memperingatkan pasar agar berhati-hati jika suku bunga Amerika Serikat berubah. Sebab, ketika Fed Rate itu naik, ada kemungkinan perpindahan dana asing secara tiba-tiba alias sudden reversal. “Ada ancaman capital reversal yang bisa membawa tekanan kepada rupiah. Capital reversal itu, biasanya, tandanya ketika Fed Rate akan dinaikkan,” kata Agus usai menghadiri acara Indonesia Investment Forum di Hotel Mandarin, Jakarta, Selasa, 22 Maret 2016.

Melihat perkembangan termutakhir, bank sentral Amerika, The Federl Reserve, kemungkinan tidak menaikkan Fed Rate hingga empat kali, melainkan hanya dua kali. Kenaikan pertama tahun ini diperkirakan pada April. Kondisi tersebut, kata Agus, harus diwaspadai Indonesia yang masih bergantung pada pembiayaan dari luar baik ke portfolio ataupun investasi asing lansung (FDI). (Baca: Langkah Baru BI Antisipasi Kenaikan Bunga Fed Rate).

Menurut Agus, kondisi saat ini sebenarnya masih menguntungkan Indonesia. Hal tersebut terkait keputusan bank sentral Eropa (European Central Bank) dan Jepang (Bank of Japan) yang menurunkan bunga hingga negatif. Dampaknya, akan ada banyak dana asing yang masuk atau capital inflow ke Indonesia. “Kenaikan Fed Rate dan negatif interest rate di beberapa negara besar akan berdampak kepada Indonesia, karena sedang memperbaiki ekonominya.”

Advertisement

Sebelumnya, Direktur Eksekutif Kebijakan Ekonomi Moneter BI Juda Agung memperkirakan defisit transaksi berjalan kuartal pertama 2016 bisa mencapai 2,6 hingga 2,7 persen. Hal itu dipicu oleh kenaikan impor bahan baku dan barang modal. (Baca juga: Ekonomi Indonesia Tahun Depan Terancam Defisit Kembar).

Perkiraan serupa juga disampaikan oleh ekonom dari Universitas Atmajaya Agustinus Prasetyantoko. Meski meningkat, menurut dia, pasar masih akan memandang positif Indonesia mengingat ekonomi dalam negeri termasuk yang terbaik di dunia.

Akhir tahun lalu, beberapa ekonom telah memperkirakan Indonesia akan menghadapi masalah penurunan kualitas fundamental ekonomi pada tahun ini. Penurunan kualitas itu ditandai oleh twin deficit alias defisit kembar, yaitu semakin melebarnya defisit transaksi berjalan atau current account deficit dan defisit anggaran.

Reporter: Desy Setyowati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait