Belanja Modal Akan Dorong Ekonomi Kuartal I Tumbuh Lebih 5 Persen

Belanja modal sudah melebihi Rp 5 triliun, naik empat kali lipat dibanding periode yang sama tahun lalu.
Muchamad Nafi
11 Maret 2016, 18:07
Suasana lansekap pemukiman dan gedung bertingkat di Jakarta.
Arief Kamaludin|KATADATA

KATADATA - Pemerintah memacu pertumbuhan di awal tahun. Sejumlah proyek sudah memasuki fase konstruksi. Alhasil, kendati konsumsi rumah tangga masih stabil, pemerintah dan Bank Indonesia memperkirakan ekonomi kuartal pertama bisa tumbuh lebih dari lima persen. Keyakinan tersebut didasarkan pada belanja modal di awal tahun yang cukup fantastis.

Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro menyebutkan pengeluaran pemerintah per Februari mencapai Rp 251,5 triliun atau 12 persen dari target Rp 2.095,7 triliun. Dari jumlah itu, belanja modal sudah melebihi Rp 5 triliun atau sekitar 2,5 persen dari rencana Rp 201,6 triliun. Realisasi ini naik empat kali lipat dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 1,3 triliun. Di sisi lain, penerimaan negara baru Rp 164 triliun, sembilan persen dari nilai yang di patok dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2016 sebesar Rp 1.822,5 triliun.

Data-data itulah yang membuat pemerintah percaya diri meskipun konsumsi bergerak stabil. “Semoga peran faktor pemerintah bisa mengkompensasi. Jadi ekonomi kuartal satu bisa lebih baik,” ujar Bambang usai rapat kerja dengan Komisi Keuangan Dewan Perwakilan Rakyat di Jakarta, Jumat, 11 Maret 2016. (Baca: Ada 4 Stimulus, Ekonomi 2016 Diperkirakan Bisa Tumbuh 5,2 Persen).

Proyeksi serupa juga disampaikan oleh Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara. Dia yakin pertumbuhan ekonomi kuartal pertama tahun ini bisa menggapai lima persen. Pencairan anggaran berbagai proyek, khususnya di daerah, semestinya membantu pertumbuhan ekonomi di wilayah yang berbasis komoditas. Belum lagi memperhatikan nilai tukar rupiah yang makin stabil. “BI yakin masih kepala lima (persen),” ujar Mirza di kompleks Gedung BI.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Kebijakan Ekonomi Moneter BI Juda Agung menyatakan pertumbuhan ekonomi lebih dari lima persen sangat memungkinkan. Dari sisi fiskal, belanja modal dan barang meningkat signifikan sepanjang Januari-Februari. (Liha juga: Lebih Optimistis, BI Perkirakan Pertumbuhan Ekonomi 5,4 Persen).

Adapun dari sisi konsumsi rumah tangga diperkirakan stabil. Penjualan kendaraan bermotor, ritel, atau properti tidak ada akselerasi. Indikator ekspor juga belum menunjukan peningkatan berarti. “Di kuartal satu ini tetap didorong oleh belanja pemerintah, invetasi pemerintah dan konsumsi pemerintah. Perkiraan kami masih di atas lima persen,” kata Juda.

Sebelumnya, BI memperkirakan ada empat stimulus yang dapat mendongkrak pertumbuhan eknomi 2016. Pertama, kebijakan pemerintah meluncurkan stimulus fiskal dengan anggaran yang lebih produktif. Kedua, reformasi struktural dengan menghilangkan subsidi harga Bahan Bakar Minyak. Ketiga, kebijakan makroprudensial Bank Indonesia, seperti pelonggaran perhitungan Giro Wajib Minimum-rasio tabungan terhadap pinjaman atau Loan to Deposit Ratio. Terakhir, kebijakan moneter oleh BI dengan menurunkan suku bunga acuan. (Baca: Bank Dunia Peringatkan Ekonomi Negara Berkembang Hadapi Risiko Besar)

Meski begitu, BI memperkirakan masih ada tekanan dari global terhadap ekonomi Indonesia. Salah satunya adalah perlambatan ekonomi Cina. Namun, Perry yakin pemerintah Cina tidak akan membiarkan mata uangnya melemah lebih dalam dan akan mengarahkan ekonominya pada stabilitas. Di sisi lain, Indonesia bisa memanfaatkan perubahan arah ekonomi Cina dari investasi menjadi konsumsi. Caranya dengan menarik investasi asing langsung (FDI) dari Cina.

Reporter: Desy Setyowati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait