Bunga Turun, BI Prediksi Konsumsi Tumbuh 5 Persen

Penjualan properti dan kendaraan bermotor diperkirakan menjadi sektor yang paling terdongkrak.
Muchamad Nafi
19 Februari 2016, 18:57
Properti
Donang Wahyu|KATADATA
Properti KATADATA|Donang Wahyu

KATADATA - Bank Indonesia memprediksi konsumsi rumah tangga tumbuh lima persen di kuartal pertama tahun ini. Keyakinan bank sentral didasari oleh penurunan suku bunga acuan atau BI Rate dan Giro Wajib Minimum (GWM).

Untuk kedua kalinya di awal tahun, BI menurunkan BI Rate 25 basis poin menjadi tujuh persen. Bulan ini, BI juga menurunkan GWM Primer dalam rupiah sebesar satu persen menjadi 6,5 persen. Kebijakan yang berlaku 16 Maret nanti ini diperkirakan akan menambah likuiditas senilai Rp 34 triliun ke perbankan. Dengan begitu, bank-bank diharapkan menurunkan suku bunga deposito dan kreditnya.

Direktur Eksekutif Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Juda Agung menyatakan langkah tersebut akan meningkatkan daya beli masyarakat. Terutama dalam penjualan properti dan kendaraan bermotor. Karena itu, ia yakin konsumsi rumah tangga tumbuh hingga lima persen, lebih tinggi dibanding empat kuartal tahun lalu yang terus menurun: 01; 4,97; 4,95; dan 4,92 persen.

“Konsumsi seperti mobil dan rumah itu biasanya bereaksi cepat. Baru sektor lain, industri dan sebagainya. Kuartal satu saya yakin lima persen,” kata Juda di Gedung BI, Jakarta, Jumat, 19 Februari 2016. (Baca: Kejatuhan Harga Komoditas Hantam Konsumsi Masyarakat).

Perkiraan serupa juga disampaikan oleh Ekonom Bank Permata Josua Pardede. Pertumbuhan konsumsi rumah tangga sebesar lima persen memungkinan terjadi karena dua kebijakan BI tersebut. Namun,  kenaikan itu baru akan terjadi pada semester kedua.

Sementara itu, Ekonom Senior Kenta Institute Eric Sugandi memperkirakan konsumsi rumah tangga bisa tumbuh 5 - 5,3 persen hingga akhir tahun. Hal ini dipicu oleh perbaikan daya beli dan didukung oleh terkendalinya inflasi dan meningkatnya aktivitas ekonomi. Inflasi diprediksi membaik karena ada penurunan harga Bahan Bakar Minyak dan penguatan rupiah. Juga, ada upaya pemerintah mendorong pembangunan infrastruktur.

Secara keseluruhan, Eric memperkirakan pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 5,2 sampai 5,3 persen. Selain didukung oleh konsumsi rumah tangga yang baik juga investasi yang meningkat. Perbaikan birokrasi melalui Paket Kebijakan Ekonomi diyakini akan meningkatkan investasi asing secara langsung (FDI). Apalagi Indonesia juga mendapat keuntungan dari tren suku bunga rendah bahkan negatif di Swis, Swedia, dan Jepang. Karena kebijakan itu, investor asing diperkirakan datang ke Indonesia karena imbal hasil yang ditawarkan jadi lebih menarik.

Menteri Keuangan Bambang Brodjoengoro menyatakan kebijakan tersebut akan mendorong ekonomi tumbuh lebih baik. Dia memperkirakan ekonomi tahun ini bisa mencapai 5,2 hingga 5,5 persen. Sebab, penurunan BI Rate akan membantu menggerakan konsumsi dan investasi. (Baca: Ada 4 Stimulus, Ekonomi 2016 Diperkirakan Bisa Tumbuh 5,2 Persen).

“Pokoknya harapan kami dengan tingkat bunga rendah ekonomi bergerak. Itu yang paling penting, bukan tingkat laba bank atau tingkat bunganya berapa,” tutur Bambang.

Reporter: Desy Setyowati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait