Logistik dan Pasokan Membaik, BI Perkirakan Inflasi Februari Rendah

Survei pekan pertama menunjukkan deflasi 0,14 persen. Target inflasi dua tahun ke depan empat plus-minus satu persen.
Muchamad Nafi
9 Februari 2016, 19:15
Pasar Rumput
Arief Kamaluddin | Katadata

KATADATA - Inflasi cukup tinggi bulan lalu, hingga 0,51 persen, sebagian besar disumbang oleh kelompok yang rentan bergejolak atau volatile food. Pemerintah menyatakan pasokan dan arus distribusi barang menjadi salah satu pemicunya. Untuk itu, kedua masalah ini sedang dibereskan.

Bank Indonesia menyatakan perbaikan problem pangan ini akan berdampak positif dalam menekan laju inflasi, bahkan kemungkinan menjadi deflasi. Direktur Eksekutif Bidang Moneter dan Ekonomi BI Juda Agung mengatakan inflasi di berbagai daerah, terutama di wilayah Timur, biasanya tinggi. Begitu pula dengan tingkat volatilitasnya. (Baca: Harga Sejumlah Pangan Mengerek Inflasi Januari 0,51 Persen).

Selain itu, disparitas atau perbedaan harga antarwilayah sangat tinggi. Semakin jauh distribusi, inflasi dan volatilitasnya tinggi. “Faktor logistik ini sangat penting pengaruhi inflasi. Maka kami akan fokus pada masalah logistik pangan,” kata Juda di kantornya, Jakarta, Selasa, 9 Februari 2016.

Karena itu, Bank Indonesia akan membahas berbagai opsi kebijakan untuk membenahi masalah logistik dan kapasitas pangan. Akan hadir dalam rapat tersebut, kata Juda, Dewan Bubernur BI dan anggota.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik menyatakan bukan hanya pasokan yang minim membuat harga pangan melambung. Panjangnya rantai distribusi dari produsen ke konsumen, juga margin jumbo yang dipetik distributor dan pedagang, turut memicu lonjakan harga pangan. Hasil survei  “Perdagangan Komoditas Strategis 2015” mencatat ada lima komoditas strategis yang melibatkan dua hingga sembilan lapis usaha perdagangan. Yakni beras, cabai merah, bawang merah, jagung pipilan, dan daging ayam ras.

Alur yang panjang, dari produsen, importir atau eksportir, pedagang pengepul, distributor, subdistributor, agen, subagen, pedagang grosir, swalayan/supermarket/pedagang eceran ini, membuat harga kelima komoditas itu melonjak. Survei yang mencakup 34 provinsi dan 186 kabupaten/kota ini bertujuan mengetahui pola distribusi perdagangan, peta wilayah distribusi dan margin perdagangan serta pengangkutan. Mulai dari pedagang besar sampai eceran. Adapun komoditas yang disurvei berdasarkan kriteria paling banyak dikonsumsi masyarakat, berperan membentuk inflasi dan pertumbuhan konomi. (Baca: Margin Jumbo Pedagang Berperan Melambungkan Harga Pangan).

Juda Agung sepakat dengan penilaian tersebut. Namun dengan terbangunnya angkutan kapal ternak dan angkutan barang rutin dan terjadwal, semestinya biaya logistik akan terpangkas sehingga menurunkan harga komoditas. “Ini belum kami evaluasi secara keseluruhan. Tapi kajian kami menyimpulkan, pengaruhnya cukup besar,” ujarnya.

Selain persoalan logistik yang mulai tertangani, dia juga melihat dampak fenomena cuaca panas berkepanjangan atau el-nino berkurang. Alhasil volatile food lebih terkendali. Adapun inflasi inti atau core inflation sudah menurun sejak satu dasawarsa. Pemerintah juga mengatasi guncangan atau tekanan dari harga yang diatur (administered price) dengan mengurangi subsidi bahan bakar minyak. 

“Seminggu (Februari) minus 0,14 persen. Deflasi terjadi lebih banyak didorong dari volatile food yang sudah menurun,” kata Juda. “Tantangan jangka pendek kan dampak el-nino, musim panen tertunda, itu harus dijaga.” (Lihat pula: Ekonomi Kuartal IV-2015 Melonjak Berkat Belanja Pemerintah).

Dia juga mengatakan pemerintah menargetkan inflasi tahun ini dan 2017 sebesar empat plus-minus satu persen. Sedangkan 2018 ditarget 3,5 persen. Agar bisa mencapainya, pemerintah harus memperbaiki logistik dan menjaga pasokan pangan. Untuk itu, data yang pas dari Tim Pengendali Inflasi (TPI) pusat dan daerah sangat dibutuhkan.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Sasmito Hadi Wibowo sebelumnya mengatakan biasanya inflasi Februari lebih rendah dibanding Januari. Dengan catatan, pemerintah harus memerhatikan pasokan beras, ayam dan telur ayam ras. Pemerintah juga disarankan mengurangi alur distribusi yang panjang seperti pada beras dan cabai rawit.

“Kalau (pasokan) mepet, impor perlu dilakukan daripada harga melambung nggak karuan. Distribusi yang panjang, sepeti beras dan cabai harus dikurangi,” kata Sasmito.

Reporter: Desy Setyowati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait