Genjot Daya Beli, Pemerintah Gandeng Bank Swasta Salurkan KUR

Hanya bank dengan rekam jejak baik -kredit bermasalah dan penyaluran di bidang kredit mikro terkendali- yang berhak menyalurkan KUR.
Muchamad Nafi
28 Desember 2015, 19:41
UMKM
Donang Wahyu | Katadata
UMKM KATADATA|Donang Wahyu

KATADATA - Pemerintah berencana menambah bank penyalur Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari swasta. Bank nonpelat merah yang dibidik terutama yang berfokus menyalurkan kredit mikro. Percepatan penyaluran dan peningkatan anggaran subsidi KUR ini diharapkan mendorong pertumbuhan ekonomi tahun depan hingga 5,3 persen.

Pada 2016, pemerintah berencana menambah subsidi KUR menjadi Rp 120 triliun dari tahun ini Rp 30 triliun. Padahal, per 17 November penyaluran KUR baru mencapai Rp 11,7 triliun atau 39 persen dari target. Dengan begitu bunga KUR yang dibayarkan oleh Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah hanya sembilan persen. Angka tersebut lebih rendah 12 persen dari tahun ini.

Presiden Joko Widodo, beberapa waktu lalu, mengatakan peningkatan anggaran ini dalam upaya mendorong daya beli masyarakat. Harapannya, gerak ekonomi di level paling bawah makin menggeliat sehingga memunculkan daya beli. (Baca: Penyaluran Kredit Usaha Rakyat Belum Maksimal).

Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengatakan besaran bunga KUR sembilan persen ini akan berlaku per Januari 2016. Alokasinya tergantung kemampuan bank. Bank Rakyat Indonesia mendapatkan plafon paling besar untuk menyalurkan kredit mikro. Sementara Bank Mandiri dan Bank Negara Indonesia kebagian menyalurkan kredit ritel.

“Tadi juga diputuskan kami akan menambah bank penyalur, jadi mungkin akan melibatkan bank swasta,” kata Bambang usai Rapat Koordinasi terkait KUR di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Senin, 28 Desember 2015. Tentunya, kata dia, dengan memperhatikan rekam jejak bank tersebut terkait kredit bermasalah atau non performing loan/NPL dan penyaluran di bidang kredit mikro.

Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo mengatakan salah satu kunci pertumbuhan ekonomi ke depan adalah UMKM. Ia mendukung langkah pemerintah meningkatkan anggaran subsidi KUR tahun depan. “Kalau bisa tumbuh 5,2 sampai 5,6 persen. Kalau UMKM-nya baik bisa memberi tambahan satu sampai dua persen,” ujar dia. (Baca juga: Bunga Diturunkan, BRI Sebut KUR Masih Menguntungkan).

Ekonom Paramadina Firmanzah juga berpendapat bahwa upaya mendorong pembiayaan UMKM akan berdampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Sebab penyaluran KUR ini bisa menggerakan sektor riil, terutama UMKM, dan meningkatkan penyerapan angkatan kerja rumah tangga. Dengan begitu bisa mendorong daya beli masyarakat. Tak sampai disitu, ia juga yakin upaya ini bisa mengurangi angka pengangguran.

“Kalau mayoritas bentuk badan usaha nasional adalah UMKM dan sektor ini bergerak, dampaknya akan sangat signifikan bagi PDB, pemerataan ekonomi, pengurangan pengangguran, bahkan pengentasan kemiskinan,” kata mantan Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi dan Pembangunan ini kepada Katadata.

Namun, analis Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) di bidang keuangan Hendro Utomo tak seluruhnya sepaham. Peningkatan anggaran subsidi KUR belum akan maksimal tahun depan. Sebab, masih ada tantangan perlambatan ekonomi yang mempengaruhi sisi permintaan dan biaya produksi, juga likuiditas perbankan. “Tahun ini memang agak turun dibanding 2014. Di 2016 dengan bunga KUR turun karena subsidi harusnya bisa berdampak positif terhadap penyaluran KUR,” ujar dia.

 

Reporter: Desy Setyowati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait