Kredit Rendah, Laba BCA Naik Tipis

Permintaan kredit sektor transportasi dan konsumer merupakan yang paling rendah.
Muchamad Nafi
28 Oktober 2015, 19:43
BCA
Arief Kamaludin|KATADATA
BCA KATADATA|Arief Kamaludin

KATADATA - Ekonomi Indonesia yang sedang lesu berimbas pula ke sektor perbankan. Sejumlah lembaga keuangan tak mencapai target dalam memperoleh laba atau pun pendapatan. Misalnya, hal itu ditunjukkan oleh kinerja PT Bank Central Asia.

Selama sembilan bulan terakhir, laba BCA hanya tumbuh 9,6 persen menjadi Rp 13,4 triliun, naik tipis dari pencapaian periode yang sama tahun lalu yakni Rp 12,2 triliun. Minimnya kenaikan laba ini akibat rendahnya penyaluran kredit, sementara bunga kredit juga diturunkan.

AnchorDirektur Utama BCA Jahja Setiatmadja menyebutkan pendapatan bunga bersih dan pendapatan operasional hanya naik 13,9 persen atau Rp 34,4 triliun. Pada periode yang sama tahun lalu, pendapatan bank swasta terbesar di Indonesia itu Rp 30,2 triliun. Sementara itu, outstanding portfolio kredit hanya meningkat 10,3 persen senilai Rp 364,8 triliun.

AnchorDari sisi kredit, BCA telah memangkas bunganya. Karena itu, margin bunga bersih (Net Interest Margin/NIM) BCA hanya tumbuh 6,6 persen, naik tipis dibanding tahun lalu 6,5 persen. "Kredit naik 10 persen sampai September. Kami targetkan 11-12 persen sampai akhir tahun," kata Jahja saat memaparkan kinerja kuartal ketiga 2015 di Hotel Kempinski, Jakarta, Rabu 28 Oktober 2015.

Walau beberapa komponen tersebut menurun, Jahja mentargetkan nilai dana pihak ketiga (DPK) tetap stabil di level 7 persen. Karena itu, BCA tidak akan menaikkan NIM, sebaliknya ada kemungkinan turun walau tidak banyak. Pertimbangannya, jika ada kenaikan biaya hingga 20 persen, sebagian besar disumbang dari sisi personil.

AnchorUntungnya, kata Jahja, biaya dana (Cost of Fund) tidak meningkat signifikan karena sudah menurunkan bunga deposito sebanyak delapan kali masing-masing 0,25 persen. Artinya, BCA sudah menurunkan bunga deposito sebesar 2 persen. Karena total deposito sedikit, dampak terhadap NIM pun tidak terlalu besar. "Kan kredit kami turunkan, tapi penurunan cost of fund membantu kami sedikit menurunkan NIM."

AnchorSaat ini, posisi kredit korporasi BCA naik 12 persen atau Rp 13,5 triliun menjadi Rp 126,1 triliun. Sedangkan kredit komersial dan usaha kecil menengah (UKM) tumbuh 9,3 persen senilai Rp 11,9 triliun menjadi Rp 140,4 triliun. Kemudian, kredit konsumer naik 9,8 persen sebesar Rp 8,8 triliun menjadi Rp 98,5 triliun. Menurut Direktur Corporate Banking BCA Dahlia M. Ariotedjo, permintaan kredit dari sektor transportasi dan konsumer merupakan yang paling rendah. Namun, untuk perusahaan properti dan pariwisata menunjukan peningkatan.

AnchorJahja menyatakan kendati permintaan kredit menurun, namun kredit bermasalah atau non performing loan tetap rendah di level 0,7 persen. Sementara rasio kredit terhadap pendanaan (LFR) juga masih rendah di level 78,1 persen, dan rasio kecukupan modal (CAR) 19,2 persen di akhir September 2015. Untuk itu, menurut dia, masih ada ruang yang besar untuk menyalurkan kredit.

AnchorSementara itu, dana pihak ketiga hanya tumbuh 7 persen menjadi Rp 462,3 triliun per September 2015, dengan dana murah (CASA) naik 7,5 persen menjadi Rp 353,8 triliun. Adapun dana deposito hanya meningkat 5,6 persen menjadi Rp 108,5 triliun. Karena rendahnya pencapaian tersebut, kata Jahja, perusahaan tidak menurunkan bunga deposito lagi sejak Oktober ini.

Reporter: Desy Setyowati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait