Penyaluran Kredit Usaha Rakyat Belum Maksimal

"Harapannya, bisa mencetak pengusaha baru kecil-kecil yang jadi besar dan berkembang."
Muchamad Nafi
23 Oktober 2015, 15:31
UKM Topeng Batik
Donang Wahyu|KATADATA
Pengrajin menyelesaikan pembuatan topeng batik di desa Bobung, Gunung Kidul.

KATADATA - Direktur Bisnis Unit Kegiatan Masyarakat PT Bank BRI Mohammad Irfan menyebutkan hingga kini BRI baru menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar Rp 5,5 Triliun. "Ini untuk KUR nasabah baru yang dimulai pertengahan Agustus 2015. Nasabah yang menerima 330 ribu orang," kata Irfan usai mengikuti acara BUMN Untuk Negeri di Kawasan Berikat Nusantara Cakung Jakarta, Jumat, 23 Oktober 2015.

Menurutnya, target penyaluran KUR yang dilimpahkan ke BRI dari pemerintah pada tahun ini sejumlah Rp 21,4 triliun. Peminjam akan dikenai bunga 12 persen. Namun karena program tersebut baru dimulai pertengahan Agustus, Irfan pesimistis dana sebesar itu tersalurkan sepenuhnya hingga akhir tahun.

Sektor keuangan, terutama menyangkut kredit usaha rakyat, merupakan bagian dari paket kebijakan ekonomi yang dikeluarkan pemerintah dalam menangani pelemahan ekonomi. Dalam paket keempat yang dikeluarkan pada pertengahan bulan ini, segmentasi KUR diperluas. Pelonggaran ini, misalnya, meliputi waktu peminjaman, menaikkan anggaran kredit, hingga memperbanyak jumlah bank penyalur kredit untuk para wong cilik.

Oleh karena itu, Menteri Badan Usaha Milik Negara Rini Soemarno berharap kredit usaha rakyat dapat dimanfaatkan sebaik mungkin. Apalagi bunga KUR saat ini tergolong rendah karena mendapat subsidi dari pemerintah. "Harapannya bisa mencetak pengusaha baru kecil-kecil yang jadi besar dan berkembang," kata Rini.

Sebetulnya, penurunan bunga KUR sudah diterapkan jauh hari sebelum keluarnya paket kebijakan. Sejak pertengahan tahun ini, pemerintah telah memangkas bunga KUR dari 22 menjadi 12 persen. Tingkat bunga tersebut ditujukan bagi bank pemerintah yang ditetapkan sebagai pelaknsan penyalur kredit usaha rakyat.

Respons perbankan terhadap keputusan tersebut cukup positif karena dinilai tidak mempengaruhi pendapatan bank. Pasalnya, secara riil bank pelaksana hanya mengurangi bunga tiga persen, artinya tetap mendapat bunga tinggi, yakni 19 persen. Selisih tujuh persen, dari 12 persen tadi, itulah yang ditanggung pemerintah.

Pemerintah berharap kebijakan ini mendorong pertumbuhan ekonomi. Sebab, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah menyerap banyak tenaga kerja. Sektor ini juga dinilai tahan terhadap risiko perekonomian global.

Tahun ini, pemerintah menyiapkan plafon KUR Rp 30 triliun. Dari jumlah itu, sekitar Rp 20 triliun disalurkan ke mikro, dan sisanya untuk ritel. Ada tiga bank pemerintah dan enam bank pembangunan daerah (BPD) yang menyalurkannya. Tiga bank pemerintah adalah Bank Mandiri, Bank Negara Indonesia, dan BRI. Terhitung sejak 16 Oktober, KUR mikro dan ritel yang disalurkan ketiga bank tersebut mencapai Rp 6,2 triliun dengan jumlah debitur 347,346 orang.

Reporter: Anggita Rezki Amelia
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait