Rupiah 13.200 per Dolar, Darmin: Belum Sesuai Nilai Fundamental

Paket kebijakan ekonomi berhasil meyakinkan pasar bahwa pemerintah sungguh-sungguh memperbaiki perekonomian.
Muchamad Nafi
15 Oktober 2015, 12:47
Menko Perekonomian, Darmin Nasution
Arief Kamaludin|KATADATA
Menko Perekonomian, Darmin Nasution

KATADATA - Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution menyatakan menguatnya nilai tukar rupiah dalam dua pekan terakhir belum sesuai fundamental ekonomi Indonesia. “Susah mengatakan (kapan rupiah kembali ke nilai fundamental). Mungkin sebulan dua bulan ini (rupiah) masih bergerak,” kata Darmin saat membuka acara sosialisasi Paket Kebijakan Ekonomi 2015 di Kementerian Koordinator Perekonomian, Jakarta, Kamis 15 Oktober 2015.

Sepanjang dua pekan terakhir, rupiah memang bergerak fluktuatif dan cenderung terus menguat terhadap dolar Amerika Serikat. Pada 29 September lalu merupakan titik terrendah rupiah terhadap dolar Amerika sejak krisis 1998, yakni berada di level 14.802. Setelah itu terjadi pembalikan arah. Hari ini, kurs tengah Bank Indonesia menunjukkan mata uang Indonesia Rp 13.222 per dolar Amerika. Penguatan ini pun tercatat yang paling tinggi se-Asia.

Darmin mengatakan tajamnya penguatan rupiah karena‎ sebelumnya rupiah melemah terlalu dalam. Bahkan, sudah jauh beranjak dari nilai fundamentalnya selama bebrapa bulan. Hal itu imbas dari bermacam spekulasi, euforia, dan histeria yang dia anggap sudah tak jelas. Nah, saat ini arah rupiah sedang berbalik secara pelan-pelan.

Penguatan rupiah ini, kata Darmin, masih akan berlanjut hingga akhir tahun kendati akan digelar rapat Federal Open Market Committee (FOMC) Amerika. Keyakinannya bertumpu, salah satunya, pada paket kebijakan ekonomi berhasil meyakinkan pasar bahwa pemerintah sungguh-sungguh memperbaiki perekonomian.

AnchorAnchorKarena paket kebijakan inilah, Darmin melanjutkan, penguatan rupiah lebih besar dibandingkan mata uang lainnya di Asia. Ia mencontohkan, ketika rapat FOMC dibahas dan memutuskan tidak menaikan suku bunga bank sentral Amerika (Fed Rate) pada pertengahan bulan lalu seharusnya rupiah menguat. Namun hal itu tidak terjadi karena belum ada upaya untuk meyakinkan pasar.

Berkaca dari hal itu, pemerintah lalu membenahi berbagai permasalahan. Hasilnya, "Negara lain juga menguat, tapi yang paling cepat menguat adalah negara yang mempersiapkan perbaikan ekonominya paling meyakinkan. Itu yang kami lakukan. Itu arti dari deregulasi,” kata mantan Gubernur Bank Indonesia itu. 

rupiah dolar arief.jpg
rupiah dolar arief.jpg (KATADATA/ Arief Kamaludin)

 

Dalam acara sosialisasi ini, Darmin juga menyatakan bahwa paket kebijakan sudah berjalan. Sebagai contoh yaitu kredit usaha rakyat (KUR) dan pembiayaan industri berorientas ekspor. Mulai 6 Oktober 2015, pemerintah telah menyelesaikan 41 aturan untuk dideregulasi. Selebihnya, masih ada 215 dari total 256 izin untuk dideregulasi menjadi 86 aturan sesuai rencana awal.

Sebelumnya, ekonom Universitas Indonesia Anton Gunawan menyatakan ada empat penyebab mengapa rupiah naik dengan tiba-tiba di luar faktor eksternal. Pertama, ada perubahan kebijakan BI di pasar valas, yakni dengan menaikkan volume lelang foreign exchange swap sehingga investor masuk dan menyerap rupiah dan obligasi. Kedua, Pertamina dan Perusahaan Listrik Negara mengurangi permintaan valas di pasar keuangan. (Baca juga: Rupiah Meroket, Investor Panik Lepas Dolar ASRupiah Meroket, Investor Panik Lepas Dolar AS).

Lalu, yang juga membuat rupiah menguat tajam adalah penerbitan saham baru atau rights issue PT HM Sampoerna Tbk senilai US$ 1,4 miliar atau sekitar Rp 21 triliun. Terakhir, pemerintah yang dikabarkan menarik pinjaman siaga (standby loan) senilai US$ 5 miliar dari Bank Pembangunan Asia (ADB).

 

Reporter: Desy Setyowati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait