Merawat Para ODGJ di Yayasan Jamrud Biru Show
Adi Maulana Ibrahim|Katadata
Image title
Oleh Adi Maulana Ibrahim
29 Oktober 2020, 07:00

Foto: Jatuh Bangun Merawat Pasien Gangguan Jiwa

Ketika fasilitas rumah sakit jiwa terbatas, panti swadaya bisa menjadi alternatif. Yayasan Jamrud Biru satu di antaranya. Didirikan pada 2009 oleh Suharyono, 40, di Jalan Mustikasari, Kecamatan Mustikajaya Kota Bekasi.

Di lahan seluas sekitar 800 meter itu berdiri bangunan yang menampung 220 orang pasien dengan gangguan kejiwaan. Suharyono dibantu 14 karyawan.

Sesungging senyuman, tapi dengan tatapan nanar dan pikiran kosong, beberapa orang yang berpakaian sama menyambut Katadata akhir pekan lalu. Mereka, yang kehilangan akal sehat atau orang dengan gangguan jiwa (ODGJ), berbaur satu sama lain. Ada yang bercanda, tertawa, bercengkerama, dan melamun.

Terapi penyembuhan di Yayasan Jamrud Biru melalui cara tradisional, seperti pijat saraf, totok, pemberian ramuan jamu, vitamin, hingga siraman rohani. Semua terjadwal rapi dengan keterampilan para pekerja atau terapis melayani pasien. Waktu kesembuhan pasien tidak sama, tergantung kondisinya. Moto yang mereka usung “Semangat, Sehat, dan Bergembira”.

Para pengurus yayasan sepakat bahwa ODGJ punya hak untuk hidup dan diperlakukan secara baik. Diskriminasi adalah kata yang haram, sementara “merawat” merupakan pegangan utama para pekerja yayasan.

“Kita harus bisa memahami perasaan temen-temen di sini. Sama seperti ketika kita sakit perut atau kepala, mereka juga tersiksa dengan sakit yang ada,” kata Suharyono. “Kita menempatkan diri sebagai keluarga mereka supaya sakit-sakit itu perlahan berkurang.”

Pasien di Jamrud Biru rata-rata memiliki gangguan skizofrenia hingga halusinasi. Ada yang depresi maupun stres ringan, tapi jumlahnya tak banyak. Yang pasti, mayoritas sensor dan saraf motorik para pasien sudah tidak lagi berada di titik yang ideal.

Penyebab gangguan pasien di Jamrud Biru sangat bervariasi, mulai dari efek perisakan (bullying), keluarga yang disfungsional, ekonomi, pengaruh obat-obatan, sampai yang paling ekstrim seperti ilmu hitam alias santet. Bagi Suharyono, santet memang ada.

Selama 11 tahun, para pengurus Jamrud Biru jatuh bangun mempertahankan kiprah yayasan. Stigma, minimnya dukungan, serta kesulitan finansial datang silih berganti. Namun mereka percaya bahwa segala keterbatasan dan rintangan, tak akan membikin mereka mengibarkan bendera putih. “Ini sudah seperti panggilan jiwa,” ujar Suharyono.