Mengunjungi Pusat Batik Trusmi Cirebon, Saat Perjalanan Jelajah Jalan Raya Pos Show
Muhammad Zaenuddin|Katadata
Image title
12 Agustus 2021, 12:30

Foto: Legenda Batik Trusmi di Masa Pandemi

Musik dangdut dari radio tape menamani pengrajin yang sedang mewarnai kain. Dengan seksama dan teliti, di Galeri Batik Hafiyan, di ruangan 5 x 6 meter, lima orang pengrajin batik asik memoles kain menggunakan canting berisi pewarna yang direbus menggunakan malam -lilin khusus membuat batik.

Di luar ruangan seorang pria sibuk menggambar motif batik Mega Mendung, salah satu batik paling diminati pembeli di wilayah itu. Galeri Batik Hafiyan berada di Pusat Batik Trusmi, Plered, Cirebon, Jawa Barat, salah satu tempat yang disambangi tim Jelajah Jalan Raya Pos Katadata.

Rabu lalu (11/8/2021), merupakan hari kelima ketika tim ekspsedisi dari Anyer ke Panarukan ini mencapai Cirebon. Di galeri batik milik Heri Kismo Rusima tadi, berbagai macam corak batik dengan bahan kain berbeda dipajang di dinding. Harganya variatif, dari Rp 20.000 hingga Rp 2.000.000, sesuai tingkat kesuliatn pembuatan batik.

Iman merupakan seniman batik di sana yang menggambar corak unggulan Mega Mendung sejak ia berusia lima belas. “Harga batik dijual hingga jutaan itu wajar karena ini warisan budaya,” kata lelaki 65 tahun ini. “Dibuat langsung menggunakan tangan manusia, tidak menggunakan mesin.”

Namun, beberapa tahun terakhir permintaan ke Batik Trusmi berkurang. Apalagi saat ini ada Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 4. Menurut Iman, pengurangan mobilitas masyarakat selama masa pandemi Covid-19 berdampak pada menurunnya kunjungan pembeli, baik dari wisataawan maupun warga Cirebon.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.