Kami Mencetak Generasi yang Siap Menghadapi Disrupsi

“Disrupsi yang terjadi di IT menyangkut berbagai bisnis proses di semua industri. Tidak hanya di produksi atau manufaktur, juga kepada automasi finansial.”
Image title
Oleh Dana Santoso Saroso
1 Januari 2020, 06:00
Rektor BRI Institute Dana Saroso
Ilustrator: Joshua Siringoringo | Katadata
Rektor BRI Institute Dana Saroso

Perkembangan teknologi digital yang begitu pesat berdampak sangat luas hampir ke semua industri. Selain memberi efek positif, disrupsi pun tak terlekan, termasuk di sektor keuangan dan perbankan. Sejumlah perusahaan keuangan dunia melaporkan pemangkasan karyawan besar-besaran secara bertahap dalam beberapa tahun.

Melihat hal tersebut, BRI Institute menyiapkan lulusannya mampu menghadapi dampak disrupsi tersebut. Karena itu, walau kampus ini menyandang nama besar BRI, kurikulum yang dikembangkan tidak semata soal keuangan dan perbankan. Bahkan, separuh lebih mata kuliah yang ditawarkan terkait informasi dan teknologi (IT).

“Kami membekali mahasiswa 60 % mengenai IT yang bisa masuk ke asuransi, keuangan, syariah, perbankan, dan sebagainya,” kata Rektor BRI Institute Dana Saroso kepada Desy Setyowati dan Muchamad Nafi dari Katadata.co.id pertengahan Desember kemarin.

(Baca: Disrupsi Robot dan AI Ancam Dunia Kerja)

Bukan hanya imporvisasi kurikulum agar klop dengan kebutuhanan bisnis yang terus berubah, BRI Institute juga mewajibkan satu tahun magang bagi para mahasiswa untuk merasakan dunia kerja di industri. Ditemani minuman dingin segar, berikut ini wawancara lengkap dengan lelaki 58 tahun itu di salah satu sudut Perpustakaan BRI Institute yang penuh nuansa kekinian.

Pertengahan bulan lalu ada perubahan di BRI Institute menjadi kampus fintech. Apa yang melatarbelakanginya?

Kami punya enam program studi, lima di antaranya dengan platform kurikulum teknologi informasi (IT). Satu lagi terkait enterpreneurship. Dewasa ini, tidak ada satu pun industri yang tanpa tersentuh teknologi, khususnya teknologi digital. Mungkin 10-15 tahun ke depan, SDM-SDM yang seharusnya kita miliki adalah yang terbesit terhadap teknologi informasi.

Oleh karena itu, Bank BRI, dengan sejarahnya 124 tahun, memiliki data, jaringan, dan semua pengalaman dari sisi microfinance. Kami punya platform IT, memfokuskan kurikulum untuk menyiapkan para insinyur fintech.

Fintech cakupannya luas, tidak hanya berkaitan dengan bayar-membayar. Segala macam aktivitas yang berkaitan dengan transaksi finansial akan tersentuh oleh teknologi atau isu fintech, sehingga kami mencanangkan sebagai fintech university.

Apa ada paradigma baru dari kurikulum sebelumnya yang mungkin fokus ke perbankan kemudian mengkawinkannya dengan IT menjadi sebuah pengetahuan baru?

BRI Institute memang perguruan tinggi swasta yang dimiliki oleh Bank BRI, tapi kami bukan banking school. Lulusan kami bisa bekerja di perbankan atau non-bank. Yang pasti, mereka kami bekali pengetahuan dan pengalaman mengenai IT yang implementasinya di semua jenis industri.

Disrupsi yang terjadi di IT menyangkut berbagai bisnis proses di semua industri. Tidak hanya di produksi atau manufaktur, juga kepada otomasi finansial. Karena itu, kami mendesain kurikulum yang siap menghasilkan lulusan ke dunia industri yang berbau teknologi dan finansial. Kami membekali mahasiswa 60 % mengenai IT yang bisa masuk ke asuransi, keuangan, syariah, perbankan, dan sebagainya.

Dengan program perkuliahan tersebut, lulusan BRI Institute sudah siap menghadapi disrupsi, termasuk di sektor perbankan?

Untuk itu kami berkolaborasi dengan industri-industri dari fintech. Contohnya, kami sudah menandatangani kerja sama dengan Aftech (Asosiasi Fintech Indonesia). Di dalam Aftech lebih dari 300 perusahaan yang sifatnya investment. Ada yang traveling, hospitality, sampai ke industri-industri produksi lainnya.

Kami menghasilkan lulusan yang akan dimanfaatkan dalam industri tersebut. Kami mengajak mereka menjahit kurikulum, yang sesuai peraturan pendidikan tinggi hingga empat tahun. Mahasiswa kuliah tiga tahun di kami. Nanti satu tahun mereka internship di industri. Sehingga, para mahasiswa akan merasakan apa yang terjadi di industri, punya pengalaman.

Prof Dana Saroso
Rektor BRI Institute Dana Saroso . Lulusan perguruan tinggi akan dibekali materi mengenai IT untuk menghadapi disrupsi. (Adi Maulana Ibrahim | KATADATA)

 

Apa ini  salah satu kata kunci untuk menjawab problem lulusan kampus yang sering dikemukakan banyak pihak yakni link and match antara perguruan tinggi dan industri?

Sebenarnya, konsep link and match sudah lama di-sounding-kan kepada kami di kalangan perguruan tinggi. Barangkali kemarin industri dan perguruan tinggi punya kesibukan masing-masing sehingga tidak pernah duduk bareng mencari solusi bersama.

Industri pasti sudah tersita waktunya dengan aktivitas bisnisnya, sehingga kami yang harus merangkul, bertanya, diskusi, mengajak mereka menjahit bareng. Apalagi banyak yang mengatakan bahwa gelar sarjana belum menjadi jaminan. Itu berarti problem bersama. Mari cari solusinya. Karena pada akhirnya, kebutuhan akan kualitas lulusan, kompetensinya, yang menggunakan yaitu dunia usaha.

Di BRI Institute ada prodi yang spesifik langsung ke perbankan, syariah, mikro, insurance. Ada pula fintech pembayaran yang belum diambil. Kenapa berfokus ke sana?

Kenapa kami memilih micro finance dan sebagainya? Bank BRI punya pengalaman di situ, memiliki jaringan, data, sehingga punya kekuatan. Bank BRI tentu harus memperkuat posisi tersebut. Dengan teknologi digital, kami harus melahirkan orang-orang muda yang tahu micro finance, juga fasih terhadap IT. Maka dibentuklah IT dengan major di micro finance.

Untuk Syariah, kita tahu banyak konteks di dunia ini dan negara yang mayoritas bukan muslim mulai melirik syariah. Bukan hanya di bank syariah, juga traveling syariah, rumah sakit syariah, dan sebagainya. Pertumbuhan syariah akan terus naik.

Apalagi wakil presiden sekarang representatif kuat dari kalangan muslim. Kemungkinan besar perbankan syariah akan semakin bergaung?

Sekali lagi, kami mengklaim we are not a banking school. Syariah dalam konteks di sini adalah syariah as a islamic economic system, bukan bank syariah. Definisi syariah tidak langsung diekuivalen dengan bank syariah. Syariah bisa masuk ke berragam industri: travel, rumah sakit, hotel, pembiayaan konstruksi, produksi, dan sebagainya. Trennya menunjukkan ke sana.

[Lihat halaman berikutnya mengenai tantangan fintech dan generasi milenial]

Video Pilihan

Artikel Terkait