Hanni Adiati: Sebagian Hutan Sengaja Dibakar

Risiko kebakaran meningkat dan sebagian perusahaan perkebunan memanfaatkannya untuk membuka lahan.
Muchamad Nafi
6 Oktober 2015, 10:42
No image
Donang Wahyu|KATADATA
Staf khusus menteri KLHK Hanni Adiati

KATADATA - Layaknya siklus musim, kebakaran yang melanda sebagian kawasan hutan di Indonesia, terutama di Sumatera dan Kalimantan, terjadi saban tahun. Asapnya yang begitu pekat membuat warga di wilayah tersebut sesak nafas. Sebagian terbang ke negara tetangga dan membuat Singapura dan Malaysia marah.

Tahun ini, si jago merah itu menyebar pula ke beberapa titik di Jawa. Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat, hingga Ahad, 4 Oktober 2015, berdasarkan pantauan Satelit Terra Aqua dari NASA diketahui ada 1.820 titik api. Dari jumlah itu, 1.562 titik panas berada di Sumatera dan sisanya di Kalimantan.

Atas peristiwa tersebut, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengancam akan mencabut izin 10 perusahaan yang terindikasi membakar kawasan hutan dan lahan di Kalimantan Tengah, Riau, dan Sumatera Selatan. Sanski tersebut bisa diterapkan walau proses hukumnya baru dimulai.

"Pemodal yang memiliki uang sekitar Rp 1 miliar yang membiayai orang untuk membakar satu hektare seharga Rp 700 ribu akan kami lakukan penegakan hukum," kata Hanni Adiati.

Kepada Katadata yang menemuinya pada Rabu pertengahan bulan lalu, Staf Ahli Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan ini menceritakan masalah kebakaran tersebut dari A hingga Z. Menurutnya, ada beberapa penyebab kebakaran hutan yang terjadi secara rutin sejak 1997 lalu.

Selain soal kebakaran, dia becerita tentang seluk beluk industri sawit. Berikut ini sebagian petikan wawancara Katadata dengan Hanni di ruang kerjanya di lantai empat Kementerian Lingkungan Hidup pada Rabu sore tersebut.


Mengapa setiap tahun selalu ada kebakaran kawasan hutan di Indonesia?

Karena ada bencana ekologi yang terbentuk dari dulu dengan memotong-motong kawasan gambut. Kenapa tahun 1997 saat itu kebakaran? Itu karena El Nino, perubahan iklim akibat revolusi industri 100 tahunan lalu, di mana Amerika dan Eropa menebang pohon-pohon. Mereka mendirikan pabrik sehingga terjadi perubahan iklim.

Apa pengaruhnya?

Akibatnya seperti saat ini. Secara kalender normatif, September seharusnya sudah hujan. Tapi karena El Nino, Desember baru hujan. Akibatnya, risiko kebakaran meningkat dan sebagian perusahaan perkebunan memanfaatkan ini untuk membuka lahan. Sebenarnya, bukan kebakaran yang utama, tapi asapnya. Dan ini belum puncaknya.

Apakah kebakaran yang terjadi saat ini lebih banyak karena fenomena alam atau kesengajaan?

Sebagian memang ada yang terbakar, tapi tidak akan masif seperti kalau dibakar.

Jadi memang terindikasi sengaja dibakar?

Faktanya begitu. Saya datang ke Rimau Panjang saat kebakaran lalu. Pas kami semprot ada bekas kaleng bensin dan bekas ban yang ditaruh karet dibakar. Sekarang sudah kita police line.

Apakah sudah ketahuan siapa pembakarnya?

Karena kebakarannya merambat, kami tanya ke masyarakat. Ketika itu, mereka bilang melihat ada motor masuk di sana. Ada bekas ban (yang dibakar) juga. Sekarang sudah tertangkap.

Lalu, bagaimana kelanjutannya?

Itu lagi diproses. Kami tidak mau buka sekarang, mau kami buat gelar perkaranya dulu. Jadi, tunggu rapi dulu, karena sudah 15 tahun gagal terus.

Nanti, prosesnya akan seperti apa?

Ada dua tahapan. Pengusaha akan kami bekukan dulu izin usahanya. Kalau untuk pemodal-pemodal yang memiliki uang sekitar Rp 1 miliar yang membiayai orang untuk membakar satu hektare seharga Rp 700 ribu, akan kami lakukan tindakan penegakan hukum.

Bagaimana dengan si pembakar yang biasanya rakyat kecil? Tidak ada sanksi?

Tentu pendekatannya beda. Yang dihukum bukan yang membakar. Okelah akan ada sanksi, tapi yang dihukum yang punya modal. Kenapa? Karena abis dibakar kan diolah. Biayanya gede itu sawit. Per hektare-nya Rp 40 juta. Mana ada mereka (rakyat kecil) punya uang sampai segitu?

Terkait kebakaran kawasan hutan ini, bagaimana kita bisa mencapai sustainable development?

Sekarang ada tumpukan-tumpukan masalah. Kalau hendak mencapai sustainable development, kita harus mengubahnya, bukan cuma sawit saja, HTI juga dari tapak atau lapangan.

Bagaimana caranya?

Seharusnya diidentifikasi kembali mana gambut dalam, mana yang tidak. Jika ada wilayah yang kanalnya mengeringkan wilayah lain, itu harus disalurkan. Wilayah itu harus dibuat tali air sehingga ada lahan kecil yang dialiri air.

Apa hal tersebut sudah dipraktikkan?

Sudah kami lakukan di Kampung Jawa, di Bengkalis (Riau). Itu selama empat tahun terbakar terus, sekarang dia tidak terbakar sama sekali.

Bisa diaplikasikan di daerah lainnya?

Untuk daerah yang gambutnya dipotong-potong, yang kering seperti di Kampung Jawa, Bengkalis dapat dilakukan secara bersama-sama dengan masyarakat. Kalau 40-50 hektare bisa dirapikan bersama. Tapi kalau ribuan hektare gambut dalam, penanganannya lain.

Seperti apa penanganannya?

Sedang saya pikirkan. Kemarin kami sudah coba padamkan gambut dalam sekitar lima meter di areal 500 meter dengan cara injeksi air ke dalam gambut. Dibuat jenuh agar tak hanya yang di atas saja, tapi api yang di bawah juga padam. Berhasil, tapi effort-nya besar sekali.

Maksudanya, biaya besar?

Bukan hanya biaya, tapi peralatan, tenaga manusia, dan ketahanannya, semua butuh effort yang besar. Untuk memadamkan 500 meter itu butuh dua jam dan airnya tidak boleh berhenti. Getarannya juga luar biasa. Bayangkan kalau ada 2.000 hektare.

Jadi, sangat logis kalau ada perusahaan dituntut hingga Rp 7 triliun?

Logis sekali.

Selain itu, apalagi yang perlu dibenahi oleh perusahaan?

Kalo perusahaan mau sustain, harus mau bersama pemerintah menata kembali kebunnya. Di dekat kanal itu jaraknya harus 100 meter. Kalau yang kecil, kanalnya 50 meter, baru bisa ditanami sawit. Jadi tidak mepet. Sawit kan menyerap air, kalo mepet pasti kering.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait