AS vs Cina, Pertarungan di Laut Cina Selatan di Tengah Covid-19

Cina yang sudah maju di bidang ekonomi ingin juga menjadi kekuatan utama menantang hegemoni AS. Indonesia perlu berkongsi dengan kedua negara tersebut.
Sampe L. Purba
Oleh Sampe L. Purba
24 April 2020, 14:02
Sampe L. Purba
KATADATA/JOSHUA SIRINGO RINGO
KRI Tjiptadi-381 mengikuti sailing pass di Laut Natuna, Rabu (15/1/2020). Dalam kesempatan tersebut, Menkopolhukam Mahfud MD meninjau alutsista yang tergabung dalam Operasi Siaga Tempur Laut Natuna 2020 yang melakukan operasi pengendalian wilayah laut, khususnya di Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) laut Natuna Utara.

Pantau Data dan Informasi terbaru Covid-19 di Indonesia pada microsite Katadata ini.

Tembakan Salvo Amerika di Tengah Badai Virus Corona

Di tengah goncangan dunia akibat penyebaran Covid-19 yang bermula di Wuhan, Cina, Amerika Serikat –yang mulai kehilangan taji dan pamor termasuk di antara sekutu NATO– mencoba mengirim kode keras kepada Cina. Peluru kendali jarak jelajah menengah ditembakkan ke arah pantai Cina. Tiongkok boleh membantu negara-negara NATO, seperti Italia melawan Covid-19, tetapi jangan pernah mengusik sekutu Amerika Serikat.

Beberapa hari sebelumnya, pesawat militer Cina terbang dari Fuzhou melewati garis tengah Selat Taiwan. Pesawat Cina dan F 16 Taiwan sempat berhadapan selama 10 menit. Dalam buku putih Pertahanan RRC 2019 tercantum bahwa Tentara Pembebasan Cina (PLA) akan mengalahkan siapapun yang berusaha memisahkan Taiwan dari Cina. Amerika menuduh Cina mengelabui aktivitasnya yang tidak berdasar hukum di Laut Cina selatan, di tengah badai virus corona.

Pesan Amerika tidak tanggung–tanggung. Untuk pertama kalinya, kapal perang angkatan laut AS USS Barry menembakkan peluru kendali jarak menengah SM-2 ke arah Cina pada 24 Maret 2020, dari arah laut Filipina, di bawah sandi latihan Ballistic Misile Defense

Ini adalah tantangan serius. Cina merupakan momok bagi Amerika Serikat. PLA berhasil memproduksi dua jenis peluru kendali DF-21D dan DF-26, yang mempunyai jangkauan 4.000 kilo meter, dapat mencapai pangkalan angkatan laut AS di Guam. Cina juga sudah mengembangkan kapal pengangkut pesawat tempur bernama “Liaoning”, dengan sistem peluncur yang efisien seperti katapel (catapult) launch system.

Komando tempur Pacific Command yang bermarkas di Hawaii, pada Mei 2018 berubah nama menjadi US Indo-Pacific Command. Jangkauan tanggung jawab operasinya meluas hingga ke lautan India.  Menteri Pertahanan Jim Mattis menyebut hal ini, “Penting untuk menjaga stabilitas di lautan yang merupakan area kritis bagi perdamaian global”. Ini sejalan dengan jargon Donald Trump yang terkenal itu “Make America Great Again”.

Menghadapi manuver Cina di laut Taiwan, Amerika bereaksi keras. Sedikit norak malah. USS Shiloh secara demonstratif berpatroli di Selat Taiwan. Kapal induk USS Ronald Reagan yang doking di Tokyo dan kapal induk Theodore Roosevelt diperintahkan merapat, menghadapi Cina yang memiliki pangkalan angkatan laut kuat di Dalian (Utara) dan Hainan (selatan). Kedua pangkalan Cina ini secara geografis menjepit Taiwan dan Jepang.

Apes bagi Presiden Donald Trump. Anak buah kapal induk Theodore Rooesevelt yang sebelumnya sempat sandar di Da Nang Vietnam, diberitakan terkena Covid-19. Brett Crozier, Kapten Kapal Induk menulis surat ke Pimpinan Angkatan Laut untuk izin sandar di Guam.

Dia menyadari betul bahwa apabila ada awak kapalnya yang terpapar virus corona, bencana besar akan timbul. Para tentara dan anak buah kapal induk super mewah 15-an tingkat (seperti hotel) yang  dihuni kelasi 5.000-an orang itu bisa tersapu seketika. Itu dapat menjadi bencana mengerikan bagi operasi militer dari kapal induk bersenjata lengkap yang digerakkan dengan tenaga nuklir tersebut.

Tetapi apa lacur, alih-alih mendapat penghargaan, sang kapten kapal langsung dibebastugaskan oleh Panglima Angkatan Laut. Komentar Donald Trump pun tidak kurang pedasnya. Kapal memang terpaksa sandar di Guam, seluruh awak dievakuasi. Hampir 10 % ABK ternyata positif Covid-19. Kapten Crozier –saya yakin adalah pahlawan besar dalam batin anak buahnya– menelan pil pahit.

Ilusi Amerika Serikat – Hard Power versus Smart Power

Salah satu strategi perang Sun Tzu yang terkenal yaitu berpura-puralah menyerang ke Timur walau maksudnya menyerang Barat. Bersahabatlah dengan tetangga jauh, sambil membakar semak untuk menangkap ular.

Cina yang saat ini berada di bawah kepemimpinan “manusia setengah dewa” Presiden Xi Jinping, yang belum lama ini dikukuhkan Partai Komunis Cina sebagai Pemimpin seumur hidup -sebagai murid dari Deng Xiao Ping- menyadari betul kekuatan kultural Cina yang jauh berakar sebelum Masehi. (Ref. How China’s leaders think, Robert Kuhn, 2011). Ketika manusia di belahan dunia lainnya masih nomaden atau  mungkin belum berpakaian sebagai simbol adab modern, Cina telah menemukan bahan peledak. Juga ahli filsafat.

Saat ini Cina adalah salah satu kekuatan super power di dunia. Ada atau tidak ada Covid-19. Kekuatan Cina mengandalkan diplomasi dagang –smart power, bukan kekuatan senjata hard power ala cowboy Trump. Tidak ada negara di dunia ini yang tidak menggunakan produk Cina. Bahkan Amerika Serikat sekalipun. Kebencian Trump kepada Cina yang berujung pada sengketa dagang dengan menaikkan tarif bea masuk dan membatasi barang Cina, justru menjerat rakyatnya yang sudah tergantung kepada produk Tiongkok.

RRC sang raksasa ekonomi, dengan lincah dan royal membantu negara-negara di dunia dalam pembiayaan proyek infrastruktur dalam skema OBOR (one belt one road) menghubungkan Asia – Oseania – Afrika – Eropa. Modifikasi OBOR yang disebut dengan BRI (Belt and Road Initiative) menempatkan negara-negara mitra sebagai stakeholders-nya.

Pemerintah Daerah Australia Utara (Northern Territory) telah mengikat kerja sama membangun infrastruktur pelabuhan dengan skema pinjam pakai kepada Cina sampai 99 tahun di bawah skema BRI. Pelabuhan yang tidak jauh dari markas marinir Amerika Serikat di Darwin.

Manuver Cina tidak berhenti di situ. Menteri Pertahanan RRC pada Juli 2019 yang lalu, dalam pertemuan dengan Negara-negara Pasifik Selatan dan Karibia, menawarkan kerja sama militer dalam skema BRI. Ini memaksa Menteri Pertahanan Amerika Serikat terbang ke Sydney beberapa hari kemudian, dan menuduh BRI adalah jerat tantangan keamanan kawasan. Sebagai gantinya Amerika Serikat menawarkan kerjasama trilateral dengan Pemerintah Jepang dan Australia untuk mengganti skema BRI.

Pemerintah Federal Australia seperti kecolongan dengan kebijakan Pemerintah Negara Bagian Australia Utara. Politisi pun gaduh, saling menyalahkan antara Pemerintah Federal dengan Pemerintah Negara Bagian Australia Utara (Northern Territory).

Amerika Serikat sebetulnya telah mengakui ada realitas baru kekuatan dunia pasca-perang dunia kedua. Senator Marco Rubio (Republik – DaPil Florida) menyebut AS tidak keberatan bahwa Cina menjadi kaya dan sejahtera, tetapi harus ada keseimbangan dengan AS. Bagaimana mungkin negara  yang posisi tawarnya melemah mampu mendiktekan terms.

Ini mengingatkan saya ke buku George Friedman “The next 100 years” (2010) yang menyebut Cina tahun 2020 sebagai macan kertas, sebaliknya memprediksi Amerika Serikat akan unggul dalam perang “Battle Stars” tahun 2050 dan mendiktekan pengaturan dunia baru kembali. Amerika sedang terjebak dengan nostalgia ilusi zaman perang dunia kedua. Ketika itu, di Yalta–Ukrania, Rooesevelt, Stalin dan Churchill menggambar ulang peta dunia.

Ini bukan lagi era Brettonwoods di mana mata uang Amerika Serikat menjadi kiblat dunia. Kekuatan Ekonomi Cina saat ini tidak saja di bidang perdagangan, juga di bidang keunggulan teknologi dan inovasi. Reuters belum lama ini melaporkan untuk pertama kalinya dalam  empat dekade terakhir Cina melibas dan melewati Amerika Serikat dalam pendaftaran hak paten di World International Property Organization (WIPO).

Sepanjang 2019, Cina mendaftarkan 58.990 sementara AS “hanya” 57.840. Ini adalah pertanda bahwa di bidang inovasi dan teknologi, Cina telah beroperasi dalam nilai ekonomi yang tinggi.  Amerika Serikat gamang. Negara itu meminta dunia untuk melarang penggunaan peralatan informasi dan komunikasi teknologi Huawei dari RRC dengan tuduhan bahwa teknologi tersebut dapat digunakan Cina untuk memata-matai siapapun.

Halaman selanjutnya: Cengkeraman Kuku Cina di Laut Cina Selatan

Sampe L. Purba
Sampe L. Purba
Praktisi Energi Global. Mahasiswa Doktoral Universitas Pertahanan, Konsentrasi Ketahanan Energi

Katadata bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 2005 2020 55). Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik di sini untuk info lebih lengkapnya.

Video Pilihan

Artikel Terkait