Apakah Berinvestasi Real Estate Virtual di Metaverse Ide Gila?

Pertanyaannya, apa manfaat dari memiliki lahan virtual? Metaverse adalah fantasi yang menjadi kenyataan bagi seseorang yang dulunya gemar bermain game.
Theo Tzanidis
Oleh Theo Tzanidis
17 Januari 2022, 14:38
Theo Tzanidis
Ilustrator: Joshua Siringo Ringo | Katadata

Menghabiskan ribuan hingga jutaan dolar untuk membeli “tanah” fiktif di dunia maya tentunya terdengar tidak masuk akal.

Namun, belakangan, investasi tanah virtual di metaverse menjadi kian digemari. PwC, misalnya, menjadi salah satu entitas teranyar yang mengikuti tren ini dengan membeli properti di dunia permainan virtual The Sandbox, dengan nominal yang tidak diumumkan ke publik.

Jika investasi serupa yang telah dilakukan investor lainnya dapat dijadikan pegangan, nominal yang dikeluarkan PwC mungkin saja kolosal. Sebagai contoh, seorang investor baru-baru ini membeli sejengkal tanah senilai US$ 450 ribu (sekitar Rp 6,43 miliar) di Snoopverse – dunia virtual yang dikembangkan oleh rapper Snoop Dogg di The Sandbox.

Sementara, Metaverse Group, perusahaan real estate yang berfokus pada ekonomi metaverse, baru saja merogoh kocek untuk membeli tanah seharga US$ 2,43 juta di Decentraland, platform virtual lainnya.

Tanah Virtual sebagai NFT

Umumnya, transaksi di dunia maya dimonetisasi lewat mata uang kripto. Selain melalui kripto, non-fungible tokens (NFTs) menjadi metode utama untuk monetisasi dan tukar nilai dalam metaverse.

NFT merupakan aset digital yang unik. Walaupun umumnya berbentuk barang atau karya seni digital (misalnya video, gambar, musik dan obyek 3D), NFT juga dapat berupa aset – termasuk di antaranya real estate digital. Dalam platform seperti OpenSea, yang memungkinkan pengguna melakukan transaksi jual beli NFT, kini terdapat aset digital berupa tanah atau bahkan rumah.

Untuk memastikan bahwa real estate digital memiliki nilai, suplai aset tersebut dibatasi – sebuah konsep ekonomi yang dikenal dengan “scarcity value” atau nilai kelangkaan. Sebagai contoh, Decentraland terdiri dari 90.000 petak tanah seluas 50 x 50 kaki (15,24 meter).

Walaupun terdengar tidak masuk akal, kenaikan nilai investasi real estate virtual nyatanya sudah terbukti. Pada Juni 2021, sebuah dana investasi real estate digital bernama Republic Realm dilaporkan menghabiskan lebih dari US$ 900 ribu untuk membeli sepetak tanah di Decentraland. Menurut DappRadar, sebuah situs untuk melacak data penjualan NFT, transaksi tersebut merupakan pembelian tanah virtual termahal dalam sejarah Decentraland.

Beberapa bulan kemudian, pada November 2021, Metaverse Group membeli petak tanah di Decentraland dengan nilai mencapai US$ 2,4 juta. Jumlah tanah yang dibeli oleh Metaverse Group hanyalah sebesar 116 petak, atau jauh di bawah 259 petak yang dibeli oleh Republic Realm.

Decentraland bukan satu-satunya platform yang mengalami apresiasi aset. Pada Februari 2021, dunia game virtual Axie Infinity menjual sembilan petak tanahnya dengan nilai ekuivalen sebesar US$ 1,5 juta. Pada November 2021, vakuasi properti di platform tersebut naik hingga US$2,3 juta per petak tanah.

Namun demikian, terlepas dari meroketnya nilai aset virtual di metaverse, penting bagi investor untuk menyadari bahwa investasi real estate digital sangatlah spekulatif. Tidak ada yang dapat memastikan bahwa ledakan investasi ini akan menjadi masa depan yang menjanjikan, atau menjerumuskan investor pada gelembung properti digital.

Masa Depan Real Estate di Metaverse

Apa yang dilakukan oleh perusahaan dan individu dengan tanah digital yang mereka beli kerap memunculkan rasa penasaran.

Sebagai contoh, Metaverse Group membeli tanah di kawasan fashion di Decentraland. Lahan tersebut konon akan digunakan untuk menyelenggarakan acara fashion dan menjual pakaian untuk para avatar. Dengan kata lain, area ini potensial untuk pertumbuhan bisnis dalam metaverse.

Walaupun ruang maya ini masih didominasi investor dan perusahaan, tidak semua real estate di metaverse harus membuat pengguna mengeluarkan jutaan dolar.

Pertanyaannya, apa manfaat dari memiliki lahan virtual? Jika dibandingkan, properti fisik di dunia nyata membawa keuntungan yang kasat mata: tempat untuk tinggal, untuk dibanggakan, untuk menyambut keluarga dan teman.

Namun, walaupun properti virtual tidak dapat menyediakan tempat berlindung secara fisik, ada fungsi paralel yang dapat ditemukan di dunia nyata. Dalam transaksi real estate virtual, pengguna dapat membeli tanah untuk dibangun atau membeli rumah yang telah tersedia sesuai selera masing-masing. Para pemilik properti digital ini juga dapat melakukan personalisasi propertinya dengan menghiasnya dengan berbagai obyek digital. Pengguna juga dapat mengundang pengunjung ataupun mengunjungi rumah lain.

Visi ini memang masih terlihat jauh. Namun, walaupun terdengar mustahil, kita harus ingat bahwa ada masanya ketika masyarakat meragukan potensi signifikansi internet dan juga media sosial.

Pakar teknologi memprediksi bahwa pada tahun-tahun mendatang, metaverse akan berevolusi menjadi ekonomi yang berfungsi secara penuh, dan memberikan pengalaman digital tersinkronisasi dalam kehidupan kita seperti email dan jejaring sosial yang ada sekarang.

Metaverse adalah fantasi yang menjadi kenyataan bagi seseorang yang dulunya gemar bermain game. Beberapa tahun yang lalu, kesadaran saya yang masih lebih muda mendorong saya berhenti membuang-buang waktu bermain game; untuk kembali belajar dan fokus pada kehidupan “nyata”.

Namun, jauh dalam nurani saya, saya berharap bahwa dunia game dapat saling melengkapi dengan dunia nyata, seperti dalam film Real Player One. Sekarang, saya merasa impian ini makin dekat dengan kenyataan.

 

 

The Conversation

Theo Tzanidis
Theo Tzanidis
Artikel ini terbit pertama kali di:
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait