ANALISIS DATA

Waspada Klaster Covid-19 Lokasi Pengungsian Bencana


Muhammad Ahsan Ridhoi

3 Oktober 2020, 09.29

Foto: Joshua Siringo/Katadata

Sepanjang Januari-September 2020, tercatat 2.217 kejadian bencana alam di Indonesia. Dua terbanyak adalah tanah longsor dan banjir. Dua bencana itu banyak terjadi di Jawa Tengah dan Jawa Barat, yang juga termasuk lima daerah terbanyak kasus Covid-19.


Sebelum Covid-19 mewabah, masyarakat telah mengawali 2020 dengan bencana banjir. Hujan deras yang turun sepanjang 31 Desember 2019 sampai 1 Januari 2020 menciptakan 169 titik banjir di Jabodetabek-Banten, menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) saat itu. 63 titik di antaranya di DKI Jakarta.

Pada 2 Maret, Presiden Joko Widodo mengumumkan dua pasien Covid-19 pertama. Lalu, pada 13 April, ia mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 12 Tahun 2020 yang menetapkan penyebaran virus corona sebagai bencana nasional. Setelah itu perhatian publik terserap ke virus jenis baru ini, seiring dengan terus meningkatnya kasus terkonfirmasi positif. Sampai 30 September, tercatat total 282.724 kasus di Indonesia.

Namun, di tengah perhatian publik kepada Covid-19, bencana alam terus terjadi di pelbagai wilayah dalam skala kecil maupun besar. BNPB mencatat 2.217 kejadian sepanjang Januari-30 September 2020 pukul 16.21 WIB. Terbanyak tanah longsor dengan 827 kejadian. Disusul banjir (606), puting beliung (508), kebakaran hutan (205), kekeringan (35), gelombang pasang (17), gempa bumi (11), dan letusan gunung api (8).

Dari seluruh bencana tersebut, tercatat 74 orang meninggal dunia, 72 orang luka-luka, dan 628.759 mengungsi. Pengungsi dan korban meninggal terbanyak akibat banjir, masing-masing 627.825 dan 48 orang. Disusul tanah longsor dengan 20 orang meninggal dan 634 orang mengungsi. 

Banjir terbaru terjadi di Binjai, Sumatera Utara, Rabu (30/9) dini hari. Melansir Antara, penyebab bencana ini adalah meluapnya air Sungai Bangkatan. Air mulai masuk ke rumah warga sekitar pukul 01.00 WIB. Air kemudian sempat surut, sebelum kemudian tinggi lagi pada pukul 04.00 WIB dengan ketinggian mencapai 1,5 meter. Jumlah korban belum diketahui sampai saat ini.

Sementara tanah longor terbaru terjadi di Tarakan, Kalimantan Utara, pada Senin (28/9) dini hari lalu. Tiga rumah terkubur dan empat orang meninggal dunia akibat bencana ini. Melansir Antara, dua dari empat korban tewas adalah seorang ayah dan anaknya. Jenazah keduanya ditemukan dalam keadaan berpelukan.

Bencana serupa keduanya pun berpotensi terus terjadi. Hal ini lantaran Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan musim hujan tiba pada Oktober secara bertahap di seluruh Indonesia. Puncaknya diperkirakan pada Januari-Februari 2021.

Kepala Pusat Informasi Perubahan Iklim BMKG Dodo Gunawan menyatakan, beberapa wilayah yang akan mengalami musim hujan lebih awal adalah di sebagian wilayah Sumatera dan Sulawesi, dan sebagian kecil Jawa, Kalimantan, NTB, dan NTT.

“Masyarakat diharapkan dapat lebih siap dan antisipatif terhadap kemungkinan dampak musim hujan, terutama di wilayah yang rentan terjadi bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor,” katanya melansir Bisnis.com.

Data BNPB sepanjang Januari-30 Sepetember 2020, banjir dan tanah longsor terbanyak di Jawa Tengah. Masing-masing 235 dan 519 kali kejadian. Wilayah lain yang rawan kedua bencana tersebut adalah Jawa Barat dengan 93 kali banjir dan 222 kali tanah longsor.

DKI Jakarta yang masih tercatat sekali mengalami banjir dan belum pernah terjadi tanah longsor, tetap perlu waspada. Mengingat, ibu kota selalu langganan banjir dari tahun ke tahun dan wilayah yang terdampak luas, seperti halnya pada awal tahun ini.  

Ketiga wilayah tersebut juga masuk dalam lima besar total kasus Covid-19 nasional. Sampai 30 September 2020, tercatat 22.435 kasus Covid-19 di Jawa Tengah dan 22.205 kasus Covid-19 di Jawa Barat. Sementara, total kasus di DKI Jakarta 73.736 dan yang terbanyak se-Indonesia.  Artinya kini Covid-19 dan bencana berpotensi terjadi beriringan dan menambah beban masalah. 

Di sisi lain, provinsi-provinsi rawan bencana masih memiliki rasio lacak isolasi (RLI) rendah yang menambah risiko penularan Covid-19.  Data KawalCovid-19 per 9 September 2020 menyatakan, RLI Jawa Tengah 2,59 atau sekitar 3 orang kontak erat dengan penderita virus corona yang dilacak. DKI Jakarta tercatat sebesar 1,9 dan Jawa Barat 5,73. Idealnya, menurut Satgas Covid-19, setiap wilayah melacak 30 kontak erat. Klaster bencana, khususnya di pengungsian bukan tak mungkin terjadi. 

Sebagai antisipasi, Juru Bicara Satgas Covid-19 Wiku Adisasmito meminta kepala daerah mengetatkan protokol kesehatan di lokasi pengungsian. Khususnya #Gerakan3M, yakni menggunakan masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak. Ketiganya sangat penting untuk memutus penularan virus corona.

“Kebersihan lokasi pengungsian ini juga akan menjaga para pengungsi dari penyakit-penyakit lainnya yang mungkin timbul selama musim penghujan ini,” kata Wiku melansir Antara.

Gubernur Anies Baswedan menyatakan akan memastikan tempat pengungsian banjir menerapkan protokol kesehatan. Salah satunya adalah dengan memasang tenda lebih banyak dari biasanya. Sehingga, jaga jarak tetap bisa diterapkan.

“Mudah-mudahan (banjir) tidak kejadian, tapi kalau kejadian kita siapkan dengan protokol kesehatan,” kata Anies melansir CNNIndonesia.

Editor: Muhammad Ahsan Ridhoi