ANALISIS DATA

Boleh Buka saat PSBB Transisi, Bioskop Bisa Bangkit?


Andrea Lidwina

16 Oktober 2020, 12.29

Foto: Joshua Siringo/Katadata

Pemprov DKI Jakarta akhirnya mengizinkan bioskop buka saat PSBB transisi. Namun, kebijakan ini masih sulit membangkitkan bisnis bioskop yang telah terpuruk selama pandemii Covid-19.


Bioskop tak bisa beroperasi selama kurang lebih delapan bulan sejalan dengan berlangsungnya pandemi Covid-19 di Indonesia. Tempat hiburan ini ditutup lantaran punya potensi penyebaran virus corona yang tinggi, seperti halnya disampaikan epidemolog Universitas Indonesia Tri Yunis Miko.   

“Tanpa ventilasi yang baik, virus dapat bertahan lama di udara pada ruangan tertutup dalam waktu cukup lama. Potensi airborne tinggi kalau bioskop di Jakarta,” kata Tri pada 27 Agustus lalu.

Berdasarkan catatan filmindonesia.or.id, ada 508 bioskop (jaringan dan independen) dengan 2.110 layar yang tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia, kecuali Nusa Tenggara Timur dan Papua, pada 2019. Jumlah penonton film Indonesia saja pada periode waktu yang sama tahun lalu mencapai 52 juta.

SIMULASI PEMBUKAAN BIOSKOP DI ERA NORMAL BARU
SIMULASI PEMBUKAAN BIOSKOP DI ERA NORMAL BARU (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa/aww.)

Jika jumlah penonton dan bioskop pada tahun ini diasumsikan sama, maka pengelola telah kehilangan pendapatan dalam jumlah besar, salah duanya dari pembelian tiket menonton dan makan-minum. Di sisi lain, menurut Ketua Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI) Djonny Syafruddin, kegiatan operasional, seperti perawatan dan kebersihan bioskop tetap berjalan.

PT Graha Layar Prima Tbk, perusahaan yang menaungi CGV Cinemas, misalnya, membukukan kerugian hingga Rp 185,5 milar sepanjang semester I-2020. Nilai tersebut berbanding terbalik dengan posisi pada periode yang sama tahun sebelumnya, lantaran perusahaan memperoleh laba sebesar Rp 41,1 miliar.

 

Di DKI Jakarta, pembukaan kembali bioskop sempat beberapa kali direncanakan. Awalnya pada akhir Juli, kemudian diundur menjadi pertengahan Agustus hingga awal September. Rencana tersebut terus dibatalkan karena kasus Covid-19 di Ibu Kota masih meningkat. 

Pada masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB) transisi 12-25 Oktober ini, bioskop akhirnya boleh beroperasi lagi. Namun, Pemprov DKI Jakarta menetapkan sejumlah protokol kesehatan tambahan yang wajib dipatuhi pengelola untuk menghindari penularan virus corona. 

Kasus virus corona di DKI Jakarta memang masih bertambah di kisaran 1.000 kasus per hari dalam satu pekan terakhir. Jumlah pasien yang masih menjalani perawatan di rumah sakit maupun isolasi mandiri bahkan mencapai angka tertinggi sejak awal pandemi, yakni 13.556 orang, hingga 11 Oktober 2020.

Salah satu protokolnya adalah jumlah penonton hanya boleh mencapai 25% dari kapasitas ruangan. Konsekuensinya terhadap okupansi penonton yang berkorelasi terhadap bisnis lain di bioskop, seperti penjualan makanan.

Masyarakat pun belum tentu mau berkunjung ke bioskop. Tercermin dari Survei JakPat terhadap 1.252 responden yang menyatakan 55,8% di antaranya masih enggan pergi ke mal selama pandemi Covid-19. Padahal, lokasi bioksop sebagian besar di mal.  

Masalah lain adalah ketersediaan film. Rumah produksi dalam negeri masih ragu menayangkan filmnya di bioskop lantaran penoton yang terbatas. Mereka enggan menanggung rugi jika biaya produksi tak tertutup penghasilan dari penonton.  Sementara, rumah produksi luar negeri juga masih menunda proses produksi dan rilis filmnya hingga tahun depan.

“Kita harus tunggu juga film-film ini mau diputar di mana karena filmnya tidak ada sekarang. Film tidak akan mau masuk kalau bioskop hanya buka 10-20 gedung,” kata Djonny, dikutip dari Kompas.com.

Hal serupa dikatakan Head of Sales and Marketing CJ CGV Cinemas Manael Sudarman. Melansir CNN Indonesia, menurutnya jika pembukaan kembali bioskop tidak menguntungkan secara bisnis, maka jaringan bioskop CGV mungkin akan melanjutkan tidur panjangnya.

Oleh karena itu, pembukaan bioskop pada masa PSBB transisi belum akan menjadi angin segar bagi pengelolanya. Meskipun, mungkin tetap ada masyarakat yang berkunjung. Terlebih, selama pandemi ini masyarakat juga semakin ramah dengan layanan streaming film dan video on demand. Inovasi bioskop terbuka atau drive-in-cinema juga mulai bermunculan yang semakin memperketat persaingan di bisnis ini.  

Editor: Muhammad Ahsan Ridhoi