ANALISIS DATA

Mengapa Ekonomi RI Tak Cepat Normal Lagi Pasca-Covid-19?


Cindy Mutia Annur

26 Oktober 2020, 09.00

Foto:

Ketidakpastian waktu pandemi berakhir, perubahan perilaku konsumen, dan masih lesunya ekonomi global berpengaruh terhadap pemulihan ekonomi Indonesia. Ekonomi Indonesia diprediksi bisa normal kembali tahun 2022.


Ekonomi Indonesia terancam tak bisa pulih cepat setelah terpukul pandemi Covid-19. Dana Moneter Internasional (IMF) dalam laporan keluaran Oktober memproyeksikan pertumbuhannya sepanjang 2020 masih minus 1,5% secara tahunan (yoy). Ini lebih dalam dari proyeksi Juni lalu yang tumbuh minus 0,3% (yoy).

Revisi proyeksi ke arah lebih buruk juga dilakukan Bank Dunia dalam laporan keluaran bulan yang sama. Angkanya antara -1,6% sampai -2% yoy. Padahal, Juli lalu lembaga ini masih memproyeksikan ekonomi negeri ini tumbuh positf 0% yoy.

Kedua lembaga tersebut meramal ekonomi Tanah Air akan pulih pada 2021. IMF memproyeksikan sepanjang tahun depan ekonomi tumbuh 6,1% yoy. Sementara Bank Dunia meramalnya akan tumbuh antara 3% sampai 4,4% yoy.

Proyeksi tak jauh beda datang dari Office of Chief Economist Group (OCE) Bank Mandiri. Lembaga ini memproyeksikan secara kuartalan (qtoq) ekonomi akan tumbuh melambat pada kuartal III dan IV tahun ini, meskipun lebih baik dari triwulan kedua yang terkontraksi 5,32%. Perkiraan pembalikan ke level pra-Covid-19 pada kuartal II 2021 dengan pertumbuhan 5,15% yoy.

 

Lambatnya pemulihan ekonomi Indonesia tersebut erat terpengaruh tiga faktor. Pertama, ketidakpastian akhir pandemi. Sampai hari ini kasus Covid-19 dalam negeri masih terus melonjak. Pada 21 Oktober 2020, kasus harian bertambah 4.267 dan total menjadi 373.109.

Fakta tersebut berbanding terbalik dengan prediksi sebelumnya yang menyatakan pandemi berakhir antara Juni-Juli 2020. Pemerintah termasuk yang memprediksi hal ini, sebagaimana disampaikan mantan Jubir Satgas Covid-19 Achmad Yurianto pada 8 Mei 2020.

Sedangkan, vaksin yang digadang Presiden Joko Widodo menjadi game changer menghadapi Covid-19 tak akan mampu didistribusikan kepada seluruh masyarakat dalam semalam. Kementerian Kesehatan merencanakan vaksinasi terhadap 160 juta orang sepanjang Januari 2021-Maret 2022. Artinya, selama itu protokol kesehatan masih harus berlaku, termasuk menjaga jarak.

Konsekuensi dari penerapan menjaga jarak adalah terbatasnya aktivitas masyarakat. Dampak buruknya adalah kegiatan usaha tak bisa mencapai break even point (BEP) atau titik impas. Selama pandemi, OCE Bank Mandiri mencatat BEP sejumlah sektor memang tak tercapai, seperti perhotelan yang hanya 46,2%.

 

Kedua, terpengaruh perubahan pola konsumsi masyarakat. Survei McKinsey memperlihatkan masyarakat cenderung mengurangi pengeluaran di berbagai katergori produk, kecuali kebutuhan pokok dan hiburan di rumah.

Data Bank Indonesia (BI) pada Agustus 2020 pun menunjukkan dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 11,64% yoy. Naik signifikan dari Juli yang tercatat 7,7%. Mengindikasikan masyarakat lebih gemar menabung selama pandemi.

Pengetatan konsumsi sangat berdampak pada perekonomian Indonesia. Mengingat, konsumsi rumah tangga adalah komponen pengeluaran yang berkontribusi terbesar terhadap Produk Domestik Bruto. Angkanya mencapai 57% pada kuartal II 2020. Ketika anjlok, pertumbuhan ekonomi pun sama.

Ketiga, terpengaruh masih lesunya perekonomian global. IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global tahun ini terkontraksi 4,4% yoy. Ekonomi sejumlah negara maju pun diramal masih tumbuh lambat, seperti Tiongkok yang 1,9% yoy. Padahal Tiongkok adalah mitra utama ekspor-impor Indonesia.   

Pengaruh terhadap perekonomian Indonesia terlihat dari kinerja ekspor-impor yang menurun dibandingkan tahun lalu, meskipun meningkat secara bulanan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada September 2020 nilai ekspor US$ 14 miliar atau turun 0,51% dibanding periode sama tahun lalu. Nilai impor turun lebih dalam mencapai 26,31% yoy pada bulan lalu.  

 

Meski demikian, ekonom cum Menteri Keuangan Indonesia periode 2013-2014 Chatib Basri menyebut tetap ada beberapa sektor yang potensial tumbuh pada 2021. Salah satunya hiburan seperti bioskop asal diiringi dengan tes PCR atau Swab terhadap penonton. Maka, perlu penurunan harga tes tersebut yang patokan maksimalnya saat ini Rp 900 ribu.

“Kalau itu terjadi, maka aktivitas ekonomi bisa lebih cepat pulih,” katanya dalam diskusi daring bersama Katadata.co.id bertajuk Peluang RI Keluar dari Resesi, Rabu (21/10).

Sektor primer, kata Chatib, masih tetap menjadi unggulan di tengah ketidakpastian ekonomi dan pandemi tahun depan. Pelaku usaha di sektor makanan dan minuman akan tetap menjamur tahun depan. “Semua orang saat ini berjualan makanan dan saling membeli. Ini sangat menarik,” katanya.

Sektor kesehatan pun menurut Chatib akan terus bertahan. Pasalnya, sektor ini berkaitan langsung dengan penanganan pandemi. Banyak investor yang berlomba menanamkan sahamnya di bisnis kesehatan, terlebih ada peluang penemuan vaksin yang menjadi kebutuhan seluruh masyarakat dunia.

Tak ketinggalan sektor digital yang menurut Chatib akan tetap tumbuh. Mengingat PSBB akan tetap berlaku dan masyarakat tetap berdiam di rumah. Dunia usaha pun semakin banyak yang bertransformasi ke digital untuk meningkatkan kinerjanya.

Chatib memprediksi pemulihan ekonomi akan membentuk kurva “V”, logo Nike atau Swoosh, dan “U”. Meskipun, terdapat juga peluang menyerupai huruf “W” ketika gelombang kedua pandemi terjadi.

“Seandainya second wave tidak terjadi, mungkin kita akan mengalami pola dalam bentuk seperti lambing Nike. Jadi menyentuh titik terbawah di triwulan kedua (2020). Mungkin masih negatif di triwulan ketiga. Keempat itu mungkin negatif atau nol persen. Baru kita akan positif di kuartal pertama 2021,” kata Chatib

Namun, Chatib lebih optimis ekonomi akan kembali ke level sebelum pandemi pada 2022. Prediksi ini mempertimbangkan vaksin dan ketidakpastian pandemi yang membuat ekonomi belum mampu berjalan 100% tahun depan.  

“Kalau dia hanya beroperasi 70%, mungkin perekonomian kita di sekitar 3,5% sampai 4%. Sekitar itulah,” kata Chatib.

Kita semua tentu berharap ekonomi bisa lekas pulih dan kembali ke level normal. Berkaca kepada data-data dan pendapat Chatib, cara yang paling mungkin adalah dengan menekan pandemi. Masyarakat bisa berkontribusi dengan terus disiplin menerapkan protokol kesehatan, khususnya gerakan 3M (mencuci tangan dengan sabun, menjaga jarak, dan memakai masker).

Selanjutnya, bisa dengan meningkatkan kinerja sektor-sektor usaha potensial di tengah pandemi. Termasuk juga mempercepat penyerapan angaraan penanganagan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yang baru mencapai 49,5% dari total Rp 695,2 triliun pada Oktober 2020.

Editor: Muhammad Ahsan Ridhoi