ANALISIS DATA

Mengandalkan Konsumsi Produk Lokal untuk Memulihkan Ekonomi


Muhammad Ahsan Ridhoi

30 Oktober 2020, 16.57

Foto: Joshua Siringo/Katadata

Survei Katadata Insight Center (KIC) menemukan masyarakat masih cenderung membeli dan menggunakan produk lokal. Ini dapat menjadi peluang untuk pemulihan ekonomi nasional akibat pandemi covid-19.


Pemerintah meyakini konsumsi produk dalam negeri menjadi salah satu cara memulihkan perekonomian nasional akibat pandemi Covid-19. Dua cara yang dilakukan pemerintah adalah memprioritaskan belanja modal pemerintah untuk produk dalam negeri dan kampanye Bangga Buatan Indonesia.

“Mari kita belanja hasil karya usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) domestik,” kata Menteri Kooordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, 14 Agustus 2020 lalu.

Hal senada disampaikan Staf Ahli Bidang Pengawasan Pajak Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Nufransa Wira Sakti. Ia mengimbau masyarakat membeli produk UMKM dalam negeri agar ekonomi kembali bergerak di tengah pandemi Covid-19.

“Masyarakat dengan penghasilan tetap dan mungkin memiliki uang lebih, sebisa mungkin membeli produk UMKM agar ekonomi berputar,” katanya.

Terpuruknya ekonomi dalam negeri di tengah pandemi Covid-19 memang akibat konsumsi masyarakat yang anjlok. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan, pada kuartal I tahun ini konsumsi rumah tangga hanya tumbuh 2,83%.

Pada kuartal selanjutnya bahkan tumbuh minus 5,51% dan menyebabkan laju ekonomi terkontraksi 5,32%. Hal ini karena konsumsi rumah tanga adalah penyumbang terbesar Produk Domestik Bruto (PDB) dari sisi pengeluaran.

Imbas dari rendahnya konsumsi rumah tangga, adalah merosotnya pendapatan UMKM. Survei Katadata Insight Center (KIC) periode 8-15 Juni 2020 terhadap 206 UMKM di Jabodetabek menyatakan, 93,4% terdampak negatif saat pandemi. Mayoritas (63,9%) omzetnya menurun lebih dari 30%. Sebaliknya, hanya 1,6% yang omzetnya meningkat lebih dari 30%.

Sementara, kontribusi UMKM terhadap PDB mencapai 57,8% pada 2018 menurut data BPS. UMKM juga menyerap 116.978.631 pekerja atau 97% dari total tenaga kerja Indonesia. Sehingga, membangkitkan kinerjanya memang akan sangat menentukan pemulihan ekonomi nasional.

Pertanyaannya, masihkah produk dalam negeri menjadi pilihan masyarakat? Hasil survei KIC periode 13-17 Oktober 2020 secara daring terhadap 6.697 responden pengguna internet di 34 provinsi yang pernah melakukan aktivitas belanja, menyatakan mayoritas masyarakat masih lebih memilih membeli dan menggunakan produk dalam negeri.

Kepercayaan masyarakat terhadap produk dalam negeri pun sangat tinggi, mencapai 93,3%. Lebih tinggi dari kepercayaan terhadap produk asing yang 71,5%.   

 

Mayoritas responden (82,3%) beralasan menggunakan produk lokal karena bangga. Alasan selanjutnya adalah karena harga yang terjangkau (60,7%). Disusul untuk membantu perekonomian bangsa (45,4%).

Namun, hanya 35,6% yang menyatakan membeli produk lokal lantaran kualitasnya bersaing dengan produk asing. Hal ini selaras dengan persepsi responden yang mayoritas menyatakan produk asing unggul secara desain, inovasi, kualitas, desain kemasan, dan daya tahan.

Data tersebut mengisyaratkan pentingnya peningkatan kualitas produk lokal oleh produsen agar semakin diminati dan dipercaya konsumen dalam negeri. Caranya bisa dengan terus memacu inovasi, pengemasan, dan kontrol kualitas sebelum menjangkau pasar.

Persepsi lain adalah masyarakat cenderung membeli merek lokal yang terlaris dan paling banyak diiklankan. Mean skor masing-masing, 7,62% dan 7,57% dari skala 1 (sangat tidak setuju)-10 (sangat setuju). Research Manager KIC, Vivie Zabkie mengatakan, dengan temuan ini menyarankan merek lokal lebih gencar beriklan dan berpromosi agar masyarakat lebih mengenal produknya.

Vivie pun menilai penting bagi UMKM dan pemilik merek lokal meningkatkan literasi dan mempelajari perilaku konsumen agar lebih jitu membidik pasar. “Membangun persepsi masyarakat terhadap produk seperti yang dilakukan Jepang bukan hasil kerja semalam,” katanya, Senin (26/10), dalam Kelas Inspiratif 2: Merek Lokas VS Merek Asing yang diselenggarakan Katadata.co.id.

Adrianus Raditya dari Ikatan Alumni Prasetya Mulya (IKAPRAMA) Branding Club menyatakan sekarang saat tepat bagi pemilik merek lokal mengeksplorasi produknya untuk lebih terkenal. Mengingat banyak merek lokal berkualitas tapi belum diketahui masyarakat. Bahkan, masih ada masyarakat yang keliru mengira merek lokal sebagai produk asing.

“Pemain lokal mungkin belum siap maraton, maunya langsung sprint. Jadi, jangan segan beriklan,” katanya dalam kesempatan sama.

 

Berdasarkan jenis, masyarakat cenderung memilih produk lokal untuk makanan-minuman, perbankan dan keuangan, obat-obatan dan multivitamin, furnitur, perawatan diri, baju, perawatan wajah/kosmetik/make up, dan sepatu. Sedangkan untuk produk elektronik dan gawai, masyarakat lebih memilih produk asing.

Jika pemerintah ingin meningkatkan penjualan produk dalam negeri, maka penting menjaga pasar untuk seluruh produk tersebut dari serbuan asing. Misalnya dari banjir impor tekstil dan produk tekstil (TPT) yang telah membuat pengusaha dalam negeri menjerit, sebagaimana diungkapkan Sekjen Asosiasi Pertekstilan Indonesia Rizal Tanzil Rakhman kepada Katadata.co.id, Rabu (20/5).

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan volume impor kain terus meningkat dari 2016-2018 dengan tren 31,80%. Sementara, untuk volume impor TPT secara keseluruhan pada rentang tahun yang sama stabil di angka 2 juta ton dengan tertinggi pada 2018, yakni 2,24 juta ton. Nilai impor pada 2018 mencapai US$ 8,57 miliar.

Pemerintah perlu melanjutkan kebijakan Bea Masuk Tindakan Pengamanan Sementara (BMTPS) untuk TPT seperti telah termaktub melalui tiga Peraturan Menteri Keuangan: PMK 161/PMK.1010/2019; PMK162/PMK.010/2019; dan PMK 163/PMK.010/2019. Bahkan, kalau perlu memberi kemudahan ekspor kepada produk TPT dalam negeri agar konsumsinya semakin meningkat.

 

Upaya mendorong produk-produk dalam negeri tersebut akan turut menggeliatkan industri manufaktur. sebuah sektor penting untuk memulihkan ekonomi dalam negeri seperti harapan pemerintah. Mengingat kontribusinya 19,87% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada kuartal II 2020.  

Selain menjaga pasar, penting juga bagi pemerintah memperkuat ekosistem bagi produk-produk dalam negeri tersebut. Termasuk dengan memberi akses pasar ke e-commerce. Sebab, tanpa ekosistem yang baik sulit untuk memacu pertumbuhan konsumsinya.

Editor: Muhammad Ahsan Ridhoi