ANALISIS DATA

Sejumlah Kunci Pendongkrak Kinerja Saham BUMN di Bursa


Dwi Hadya Jayani

17 November 2020, 10.31

Foto: Joshua Siringo/Katadata

Kinerja harga saham perusahaan-perusahaan BUMN membaik dalam enam bulan terakhir. Kondisi ini dipengaruhi oleh berbagai kebijakan pemerintah selama masa pandemi ini.


Setelah sempat terkoreksi pada awal pandemi Covid-19, kinerja bursa saham Indonesia mulai menunjukkan perbaikan. Penopang utamanya adalah pergerakan harga saham perusahaan-perusahaan milik negara (BUMN). 

Indeks BUMN20 dalam enam bulan ke belakang (5 Mei- 5 November 2020) menunjukkan tren kenaikan. Pada 5 November 2020, tercatat pertumbuhannya mencapai 26,98% ke level 303,11.

Pertumbuhan tersebut lebih tinggi dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sebesar 13,61% dalam rentang waktu sama. IHSG sempat mengalami titik terendah pada 23 Maret lalu, yakni di level 4.338,9. Begitu juga lebih tinggi dari pertumbuhan indeks LQ45 yang sebesar 18,12%.

Pesatnya pertumbuhan indeks BUMN20 tertopang kinerja beberapa emiten BUMN lintas sektor. Emiten sektor kesehatan menjadi yang tumbuh tertinggi. Kimia Farma (KAEF) melonjak hingga 136,09% dibandingkan enam bulan lalu. KAEF merupakan saham milik anak usaha PT Bio Farma. Kenaikan ini terpengaruh sentimen titik terang pengembangan vaksin Covid-19.

Begitu juga terpengaruh rencana pemerintah melakukan vaksinasi yang sedianya pada bulan ini. Namun, urung lantaran Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) tak mengeluarkan izin darurat sebelum ada bukti keamanan, mutu, serta khasiat vaksin.

“Masing-masing indeks (BUMN20) memiliki sektor. Sektor-sektor ini apakah memiliki persamaan dengan kinerja pemerintah? Saat ini pemerintah fokus di pembangunan, khususnya kesehatan,” jelas Direktur Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus.

Saham sektor pertambangan tumbuh tertinggi kedua sebesar 39,2%. Emiten yang tumbuh tertinggi dalam sektor ini adalah Aneka Tambang (ANTM) dengan lonjakan mencapai 125% dibanding enam bulan sebelumnya.  

Lonjakan saham ANTM sejalan dengan kinerja keuangannya. Dari empat emiten pertambangan BUMN20, ANTM satu-satunya yang mencetak pertumbuhan positif laba bersih sebesar 30,28% pada kuartal III 2020 menjadi Rp 835,77 miliar.

Pertumbuhan saham ANTM terpengaruh rencana Indonesia membentuk industri baterai dalam negeri. CEO Mind ID (inalum) Orias Petrus Moedak mengatakan, Antam, PLN, dan Pertamina akan membuat perusahaan ventura baru bernama Indonesia Battery Holding yang akan megoperasikan pembangkit baterai kendaraan listrik.

Taksiran nilai holding baru tersebut mencapai US$ 12 miliar. Antam sedang mengerjakan smelter nikel kelas baterai dan tungku listrik senilai US$ 5 miliar untuk mendukung proyek tersebut.

Selain itu, terpengaruh juga prospek cerah dari kenaikan harga nikel dunia. Pada Kamis (5/11), harga nikel untuk kontrak tiga bulan di London Metal Exchange (LME) sebesar US$ 15.561 per metrik ton. Angka ini naik 29,65% dari 6 bulan yang hanya seharga US$ 12.002 per metrik ton.

Emiten sektor pertambangan yang tumbuh tertinggi kedua adalah Timah (TINS). Kenaikannya mencapai 83,76% dibandingkan enam bulan lalu, meskipun kuartal III 2020 rugi bersih TINS meningkat 45,15% menjadi Rp 255,16 miliar.

Tetap tumbuhnya saham TINS lantaran masih terdapat harapan dari kenaikan harga timah. Harga untuk kontrak tiga bulan di LME berada di level US$ 18.345 per ton pada Kamis (5/11) atau naik 22% dibandingkan enam bulan lalu.

“Kenaikan harga timah akan berdampak terutama bagi pendapatan TINS. Sebab, kenaikan harga tersebut mencerminkan permintaan di pasar timah mulai membaik di masa pandemi,” jelas Sekretaris Perusahaan Timah Muhammad Zulkarnaen mengutip Kontan.co.id.

Sektor perbankan berada di posisi ketiga dengan kenaikan hingga 36,41%. Emiten perbankan memang tidak terlalu terdampak Covid-19 dibandingkan yang lainnya. “Selama pandemi, rata-rata sektor perbankan terjaga kinerjanya,” jelas Nico.

Pada kuartal III 2020 empat dari lima Bank BUMN 2020 telah melaporkan kinerja keuangannya. Hasilnya semua mencetak laba bersih, tapi hanya BBTN dan BJBR yang mengalami pertumbuhan positif dibandingkan dengan periode sebelumnya. Saham BBTN dan BJBR pun naik pesat dalam enam bulan terakhir, yakni 64% dan 42,31%.

Penopang indeks BUMN20 selanjutnya, adalah sektor Industri dasar dan bahan kimia yang naik 33,67%. Sektor ini sebetulnya terpuruk akibat Covid-19. Salah satunya terlihat dari total penjualan semen domestik dan ekspor semester I 2020 menurun 4,19% secara tahunan menjadi 30,88 juta ton. Rinciannya, penjualan domestik turun 7,72% menjadi 27,15 juta ton. Sementara ekspor naik 32,8% menjadi 3,73 juta ton.

Meski demikian, harga saham emiten Semen Baturaja (SMBR) tumbuh 70,52% dan Semen Indonesia (SMGR) naik 32,67%. Emiten WSBP yang juga termasuk dalam sektor ini juga tumbuh 8,9%. Kenaikan ini terpengaruh sinyal pemulihan ekonomi tahun depan.

Mengutip Kontan.co.id, Corporate Secretary Semen Indonesia Group (SIG) Vita Mahreyni mengatakan, industri semen akan kembali tumbuh tahun depan. “Disokong oleh pemulihan sektor properti terlebih dahulu dan selanjutnya infrastruktur yang anggarannya direncanakan naik. SMGR masih memiliki prospek yang cerah” jelas Vita.

Empat emiten BUMN sektor properti juga berkinerja positif selama enam bulan ke belakang. Saham Wika Gedung (WEGE) meningkat dari 164 pada 5 Mei menjadi 180 pada 5 November. Lalu, Wijaya Karya (WIKA) meningkat dari 940 menjadia 1.235. Waskita Karya (WSKT) menjadi 750 dari 605. Sementara PTPP meningkat jadi 920 dari 655.

Kenaikan tersebut terdorong pengesahan UU Omnibus Law Cipta Kerja pada 5 Oktober 2020, sebagaimana dalam laporan hasil riset JP Morgan. Pasalnya, beleid tersebut memuat penyederhanaan izin-izin yang berkaitan dengan pembangunan, seperti penataan ruang, pembebasan lahan, hingga pendirian bangunan gedung.  

Beleid tersebut juga mengatur pembentukan badan percepatan penyelenggaraan perumahan. Analis Mirae Asset Sekuritas, Joshua Michael menilainya bisa meningkatkan tingkat kepemilikan rumah masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

“Hal tersebut sejalan dengan target pemerintah untuk mendanai 157.500 rumah MBR dalam APBN 2021. Emiten Seperti PTTP, WEGE dipastikan mendapatkan manfaat. Sebab, PTPP merupakan salah satu kontraktor BUMN yang memiliki neraca keuangan yang kuat dibandingkan perusahaan sejenis,” jelas Joshua melansir Bisnis Indonesia.

Terakhir, sektor infrastruktur, utilitas, dan transportasi yang pertumbuhannya terkecil di antara sektor lain. Selama enam bulan hanya meningkat 4,72%. Di sektor ini pula ada emiten yang mengalami penurunan harga saham, yakni Telekomunikasi Indonesia (TLKM) sebesar 16,57%.

Saham dua emiten lain di sektor ini naik masing-masing 32,52% untuk Perusahaan Gas Negara (PGAS) dan 19,81% untuk Jasa Marga (JSMR). Naiknya saham PGAS terpengaruh kepastian harga distribusi gas dan sejumlah upaya pengembangan usaha.

Kepala Riset Kresna Sekuritas Robertus Yanuar Hardy menjelaskan, PGAS mendistribusikan gas senilai US$ 7 per Millions British Thermal Units (MMBTU) kepada pelanggan dari tujuh sektor industri dan sembilan pembangkit listrik PLN dengan total masing-masing 254 dan 243 BBTUD.

Sementara untuk JSMR, menurut Analis Samuel Sekuritas Selvi Ocktaviani, mendapatkan katalis positif dari pelonggaran pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dan libur akhir pekan yang cukup panjang.

“Selain itu katalis positif lainnya adalah pemulihan ekonomi terkait peredaran vaksin yang akan membantu masyarakat untuk mobilitas kembali tanpa takut dan penyesuaian tarif Jakarta-Cikampek.” Jelas Selvi mengutip Kontan.co.id.

Selain BUMN20, angin segar juga dating dari penggabungan Bank Syariah BUMN. Pada 2 Juli 2020, Erick Thohir menyampaikan akan menggabungkan Bank Syariah menjadi satu pada Februari 2021. Imbasnya, bursa saham menunjukkan tren membaik.

Pada 3 Juli 2020 harga saham BRIS 318. Lalu, pada 31 Agustus 2020 meningkat hingga 203,46% ke level 965. Pasar menilai penggabungan ini sangat berprospek lantaran nilainya mencapai Rp 214,6 triliun. Nilai ini akan menjadikannya satu-satunya bank Syariah dalam jajaran delapan besar bank dengan aset terbesar.

Namun angin segar itu segera berlalu setelah pengumuman skema merger Bank Syariah pada 21 Oktober 2020. Harga saham turun 6,81% menjadi Rp 1.300 per lembar pada perdagangan Kamis (23/10). Kepala Riset Samuel Sekuritas Suria Dharma menilai skema merger lebih menguntungkan induk usaha Bank Syariah Mandiri.  

Kendati demikian, penggabungan ini diharapkan dapat meningkatkan penetrasi aset syariah hingga daya saing di kacah internasional. Bank hasil merger ini pun akan fokus untuk bisnis wholesale, konsumer dan UMKM.

Editor: Muhammad Ahsan Ridhoi