ANALISIS DATA

Bisnis Hotel Tak Meraih Berkah dari Libur Akhir Tahun


Dimas Jarot Bayu

17 Desember 2020, 17.44

Foto: Joshua Siringo Ringo/Katadata

Sebanyak 15% pengguna Traveloka membatalkan reservasi hotel untuk Desember 2020. PHRI mencatat pembatalan untuk bulan yang sama naik hingga 2,5 kali lipat.


Harapan industri perhotelan mengerek okupansi saat libur panjang akhir tahun ini kandas. Pangkal sebabnya adalah pemerintah memangkas hari libur demi menghindari peningkatan kasus Covid-19.

Masa libur panjang selalu mampu mengerek tingkat penghunian kamar (TPK) hotel berbintang di tengah pukulan pandemi Covid-19. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), libur panjang pada Agustus 2020 lalu mampu meningkatkan TPK hotel berbintang sebesar 4,86% dari bulan sebelumnya menjadi 32,93%.

Hal serupa terjadi pada libur panjang Oktober 2020. TPK hotel berbintang pada bulan tersebut meningkat 5,36% dibanding bulan sebelumnya menjadi 37,48%. Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) pun memprediksi okupansi mencapai 10% pada libur panjang akhir tahun nanti.

Berdasarkan data tahun-tahun sebelumnya, liburan akhir tahun memang selalu menjadi puncak okupansi hotel berbintang. Sejak 2015-2019, okupansi hotel berbintang pada Desember berkisar antara 56,50% hingga 59,75%. Capaian tertinggi pada Desember 2018.

Namun, pemerintah telah memangkas libur panjang akhir tahun 2020 sebanyak tiga hari, yakni pada 28-30 Desember. Sedianya libur panjang berlangsung pada 24 Desember 2020-3 Januari 2021. Alhasil, masa liburan pada akhir tahun hanya pada 24-27 Desember 2020 dan 31 Desember 2020 - 3 Januari 2021.

Pertimbangan pemerintah melakukan kebijakan tersebut untuk memutus penularan virus corona saat libur panjang. Hal ini berkaca kepada libur panjang sebelumnya yang selalu menyebabkan peningkatan kasus Covid-19.

Merujuk data Satuan Tugas Penanganan Covid-19, kasus corona meningkat sekitar 69%-93% dalam rentang waktu 10-14 hari setelah libur Idul Fitri pada 22-25 Mei 2020. Lalu, kasus corona meningkat 58%-118% dalam rentang waktu 10-14 hari setelah libur HUT RI pada 15-17 Agustus 2020 dan Tahun Baru Islam pada 20-23 Agustus 2020.

Kasus corona juga meningkat 17%-22% setelah libur panjang pada 28 Oktober - 1 November 2020. Rentang waktu kenaikan kasus pasca-libur panjang tersebut sepanjang 8-22 hari.

Epidemiolog dari Universitas Airlangga Laura Navika Yamani menilai pemangkasan libur panjang pada akhir tahun tepat, mengingat banyak daerah yang kini sudah tidak menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Artinya, pemerintah sudah sulit untuk melarang mobilitas masyarakat. Padahal, mobilitas masyarakat justru meningkat selama libur panjang.

“Dengan meningkatnya mobilitas masyarakat, maka ada potensi untuk terjadi kerumunan di tempat-tempat umum," kata Laura, kepada Katadata.co.id beberapa waktu lalu.

Data Satuan Tugas Penanganan Covid-19 menunjukkan, jumlah orang yang datang ke tempat wisata ketika libur panjang 28 Oktober-1 November 2020 mencapai 1.026.138. Jumlah ini meningkat 92,02% dibandingkan pada 21-25 Oktober 2020 yang sebanyak 534.404 orang.

Kunjungan orang ke mal saat libur panjang pada 28 Oktober-1 November 2020 juga meningkat. Jumlahnya mencapai 182.971 orang, meningkat 39,66% dibandingkan periode yang sama pada pekan sebelumnya sebanyak 131.011 orang.

Hanya, kebijakan pemangkasan libur panjang akhir tahun tak cukup untuk menekan laju corona di Tanah Air. Epidemiolog dari Griffith University Australia Dicky Budiman meminta pemerintah juga meningkatkan kapasitas tes dan penelusuran kontak erat kasus corona di dalam negeri.

Lebih lanjut, Dicky berharap pemerintah bisa semakin gencar mengampanyekan penerapan 3M, yakni memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan.

"Harus dari sekarang dilakukan langkah-langkah upaya penyadaran dengan strategi komunikasi risiko yang tepat. Ini supaya bisa dipahami dan dilakukan oleh semua," kata Dicky kepada Katadata.co.id beberapa waktu lalu.

Dampak dari kebijakan tersebut adalah pembatalan reservasi hotel oleh calon pengunjung. Traveloka mencatat pembatalan reservasi hotel untuk Desember 2020 meningkat hingga 15%. Sementara, PHRI mencatat pembatalan reservasi hotel untuk bulan yang sama melalui agen pariwisata daring naik hingga 2,5 kali lipat.

Cancellation memang sudah ada ya, dampak dari itu (kebijakan pemangkasan libur panjang akhir tahun 2020),” kata Wakil Ketua Umum PHRI Maulana Yusran kepada Katadata.co.id, Senin (14/12).

Kondisi sulit industri perhotelan pun terancam terus berlanjut. Selama pandemi, tingkat okupansi hotel berbintang tak pernah menembus 40%. Padahal, tingkat okupansi hotel berbintang paling rendah hanya sebesar 43,53% pada 2019.

BPS mencatat sektor akomodasi dan makan minum yang di dalamnya termasuk industri perhotelan terkontraksi 11.86% pada kuartal III/2020. Nilainya menjadi terendah kedua dari 17 sektor yang ada.

PHRI mencatat kerugian industri perhotelan telah lebih dari Rp 100 triliun per awal November 2020. PHRI juga memperkirakan sekitar 300 ribu sampai 400 ribu pekerja hotel telah terkena PHK.

Jumlah pekerja hotel yang di-PHK berasal dari perbandingan tota kamar hotel dan koefisiennya. Yusran mengatakan, dengan jumlah kamar sebanyak 776.025 dan koefisien 0,7, jumlah pekerja di industri perhotelan di masa normal mencapai 543 ribu. Saat ini, koefisien dari jumlah kamar per pekerja turun menjadi 0,3.

“Artinya lebih dari 50% sudah tidak bekerja lagi, mungkin sekitar 300 ribu sampai 400 ribu,” kata Yusran.

Walau begitu, Traveloka mencatat hanya sedikit pelanggan yang melakukan reservasi hotel dari jauh-jauh hari selama tiga bulan terakhir. Pelanggan yang melakukan reservasi hotel lebih dari 31 hari hanya 4%. Lalu, pelanggan yang melakukan reservasi hotel 15-31 hari sebanyak 3,1%. Sebanyak 3,4% pelanggan lain melakukan reservasi hotel 8-14 hari sebelum menginap.

Selanjutnya, 5,9% pelanggan Traveloka melakukan reservasi hotel 4-7 hari sebelum menginap. Sebanyak 7,8% pelanggan melakukan reservasi hotel 2-3 hari sebelum menginap. Kemudian, 14% melakukan reservasi hotel satu hari sebelum menginap.

Sebaliknya, 61% pelanggan Traveloka memesan kamar hotel pada hari yang sama dengan saat meningap. Catatan ini menunjukkan industri perhotelan sebetulnya masih berpeluang mendapatkan surplus okupansi pada liburan akhir tahun nanti dari pengunjung yang memesan secara dadakan.

Editor: Muhammad Ahsan Ridhoi